Pajak Miras Diduga Hilang Miliaran Rupiah

Bagikan Artikel ini

Lapporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Potensi pajak minuman beralkohol atau minuman keras (Miras) dari Golongan A,B, dan C, di Kota Kupang sangat tinggi. Sayangnya, tinggi pula kebocorannya.

DPRD Kota Kupang mencium adanya korupsi dalam pajak miras di Kota Kupang. Pasalnya, ada perbedaan data antara distributor dan jumlah pajak yang masuk dalam pendapatan asli daerah (PAD).

Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Kupang, Adrianus Talli, kepada wartawan Jumat (13/10/2017), menjelaskan masih banyak ditemukan minuman beralkohol tanpa label. Padahal, label merupakan tanda bahwa pengusaha tersebut telah melaksanakan kewajibannya membayar pajak sesuai aturan yang berlaku.

Tidak adanya label sangat merugikan daerah. Sebab, setiap botol minuman yang dijual sudah ditetapkan pajaknya. “Pengawasan dari pemerintah khususnya dari instansi terkait yang tidak berjalan sebagaimana mestinya menjadi salah satu penyebab sampai terjadi kebocoran pajak dimaksud,” kata Adi Talli.

Baca juga : Tiga Dari Tujuh Partai Baru Belum Masukan Berkas Untuk Diverifikasi KPU

Di samping itu, kata dia, kesadaran pengusaha untuk membeli label bagi semua minuman beralkohol yang dijualnya juga menjadi salah satu sebabnya. Oleh karena itu, untuk meminimalisir terjadinya kebocoran pajak dari minuman beralkohol tersebut, maka perlu pengawasan melekat dan terus menerus dari organisasi perangkat daerah (OPD) yang mempunyai tugas dan kewenangan terhadap masalah tersebut. Pengawasan perlu ditingkatkan.

Adi juga mengingatkan Pemkot agar penempatan aparatur pelaksananya harus diperhatikan dengan serius. Di samping itu harus selalu ada komunikasi dan koordinasi serta pembinaan kepada setiap pengusaha minuman beralkohol agar dapat menyadari serta taat membeli leges untuk setiap peredaran minuman beralkohol di Kota Kupang.

“Harapan kepada Pak Wali Kota dan Wakil Wali Kota agar dapat memperhatikan masalah ini secara serius karena dikhawatirkan adanya unsur ‘main mata’ antara oknum ASN dengan pengusaha minuman beralkohol yang ada sehingga masalah ini terus terjadi berulang-ulang,” kata Adi.