5 Fakta Tentang Krisis Air Bersih dan Sanitasi di Timor Tengah Selatan
Ketika Kemarau Panjang dan Stunting Mengancam Masa Depan Anak Melalui kampanye Water for Timor, Wahana Visi Indonesia menghadirkan solusi kesehatan, perlindungan, dan kesetaraan bagi masyarakat
Kupang, NTTOnlinenow.com – Air bersih dan sanitasi layak adalah hak mendasar sekaligus fondasi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Namun, di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi NTT, hanya 70,72% rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak dan 75,48% rumah tangga yang memiliki akses air minum layak krisis air bersih menurut data Badan Pusat Statistik 2025.
Untuk itu, melalui kampanye Water for Timor yang telah dimulai sejak Maret 2026, Wahana Visi Indonesia (WVI) turut mendampingi masyarakat dalam pembangunan serta pengelolaan akses air bersih dan fasilitas sanitasi dasar demi kelangsungan hidup yang lebih baik bagi lebih dari 2.000 orang di lima desa dan tiga sekolah sasaran.
Angelina Theodora, National Director Wahana Visi Indonesia mengatakan bahwa hadirnya akses air bersih merupakan jawaban atas ragam masalah kesehatan dan sosial yang terjadi di masyarakat. “WVI percaya bahwa setiap anak berhak untuk hidup dan bertumbuh di lingkungan yang mendukung perkembangan setiap anak tersebut. Namun sayangnya akses air masih terasa seperti privilege di beberapa titik di Indonesia, termasuk di Timor Tengah Selatan. Aksi kami melalui Water for Timor bukan sekadar pembangunan infrastruktur belaka, namun membantu anak-anak mendapatkan haknya untuk bertumbuh, belajar secara optimal, dan terbebas dari penyakit.”
Berikut adalah lima fakta penting terkait akses air di Timor Tengah Selatan yang perlu disoroti:
1. Musim Kemarau Panjang dan Kesulitan Penerapan Gaya Hidup Sehat
Kabupaten Timor Tengah Selatan berada di wilayah dengan karakter iklim kering dengan musim kemarau yang panjang. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk TTS berdurasi sekitar 7–8 bulan setiap tahunnya. Kondisi ini memperburuk kondisi keterbatasan sumber air dan memaksa keluarga menghemat air bahkan untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Selain itu, banyak rumah tangga yang kesulitan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti cuci tangan pakai sabun dan konsumsi air minum yang aman.
2. Krisis Air Berhubungan Erat dengan Tingginya Angka Stunting
Dampak keterbatasan air bersih tidak hanya dirasakan dalam aktivitas sehari-hari, tetapi juga berhubungan langsung terhadap kesehatan anak. Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Timor Tengah Selatan mencapai 56,8%, jauh melampaui angka rata-rata nasional sebesar 19,8%. Keterbatasan akses air bersih dan sanitasi layak meningkatkan risiko diare dan infeksi berulang pada anak, yang menghambat penyerapan nutrisi dan melemahkan daya tahan tubuh. Kondisi ini menjadikan anak lebih rentan mengalami gangguan pertumbuhan kronis sejak usia dini.
3. Air Bersih Merupakan Fondasi Kesehatan, Kesetaraan, dan Masa Depan Anak Timor Tengah Selatan
Melalui pembangunan infrastruktur air bersih, kampanye Water for Timor bertujuan untuk mendekatkan akses air bersih ke masyarakat. Anak-anak tidak lagi harus mengorbankan waktu belajar, sementara keluarga dapat menjaga kebersihan rumah dan menyiapkan makanan secara lebih higienis. Ketersediaan akses air bersih di setiap rumah dapat membantu menurunkan risiko penyakit, memperkuat ketahanan keluarga dari ancaman gizi buruk dan stunting, serta membangun ruang kesetaraan.
4. Minimnya Akses Air Bersih dan Sanitasi Merupakan Pemicu Permasalahan Sosial
Infrastruktur akses air bersih dan sanitasi dasar yang belum merata, selain menyulitkan banyak keluarga memenuhi kebutuhan air rumah tangga, juga dapat menimbulkan persoalan sosial lainnya. Anak-anak dan perempuan kerap menjadi anggota keluarga yang bertanggung jawab untuk mengambil air. Mereka harus berjalan kaki selama satu hingga dua jam, hingga dua kali per hari untuk mencapai sumber mata air terdekat. Tugas ini tidak hanya menguras waktu dan tenaga, tetapi mengurangi waktu untuk belajar dan beristirahat, sehingga anak-anak kesulitan berkonsentrasi baik ketika berada di sekolah atau belajar di rumah. Hak anak untuk bermain dan belajar tidak dapat terpenuhi dengan baik.
5. Solusi Akses Air Bersih dan Sanitasi untuk Kebutuhan Rumah Tangga dan Sekolah
Menjawab tantangan tersebut, Wahana Visi Indonesia menjalankan pendekatan terpadu melalui kampanye Water for Timor yang berfokus pada pembangunan sistem Jaringan Air Bersih (JAB) yang mengalirkan air ke rumah dan sekolah, disertai edukasi perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk pengelolaan sanitasi keluarga dan pencegahan penyakit berbasis air. Pendekatan ini memastikan air bersih tidak hanya tersedia, tetapi juga dimanfaatkan secara aman dan berkelanjutan.
Untuk memberikan dukungan dan mendapat informasi lebih lanjut mengenai kampanye Water for Timor, masyarakat dapat mengakses https://mywvi.id/enough.(*)

