Diduga Mencuri, Karyawan PT. DNL Marten Haki di PHK dan Pesangon Tak Dibayar

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – PT Dian Nusa Lestari (DNL) melalui kuasa Direktur Daniel Liu melakukan pemutusan hubungan pekerjaan (PHK) terhadap beberapa karyawannya.

Adapun karyawan yang di PHK manajemen PT Dian Nusa Lestari antara lain Aloysius Berek, Rikardus Hale dan Martinus Haki.

Kasus pemberhentian tersebut telah mediasi pihak Dinas Nakertrans Kabupaten Belu yang dipimpin Henjti H. Lay selaku Mediator Hubungan Industrial dari Dinas Koperasi, Tenaga kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT di Kantor DisNakertrans Belu kali lalu.

Turut hadir dalam proses mediasi itu antara lain, Direktur PT. DNL Daniel Liu, Ketua Apindo Belu, Agustinus Lise Pio, Kepala Seksi PHI Dinas Nakertrans Belu Laurensius D. Loo dan Sekretaris DPC KSPSI Belu, Marius Nahak.

Dalam mediasi tersebut, pesangon dua karyawan yang dipecat atas nama Ricardhus Hale senilai Rp 25 juta dan Aloysius Berek Rp 43.750.000 langsung dibayar tunai oleh Direktur PT. DNL Daniel Lay di Kantor DisNakertrans Belu.

Sementara itu eks karyawan PT. DNL atas nama Martinus Haki tidak dibayar pesangonnya lantaran dituduh mencuri salah satu alat barang berat milik perusahaan. Kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polisi.

“Martin ini, ada kehilangan alat dan kami sudah buat laporan polisi di polsek Tastim. Terindikasi pencurian barang. Link rantai eskavator hilang. Karena kasus ini, kami PHK,” ungkap Direktur PT. DNL Daniel Liu dalam proses mediasi oleh mediator di Kantor Dinas Nakertrans Belu, Rabu (29/05/2019) lalu.

Terhadap tuduhan itu, Marten Haki menuntut kejelasan hukum tuduhan pencurian terhadapnya yang telah dilaporkan ke Polisi sejak tahun 2018 lalu. Namun kasus pencurian yang dilaporkan ke Polsek Tasifeto Timur (Tastim) hingga kini belum ada kejelasannya.

Akui dia, dirinya bahkan telah dimintai keterangan oleh penyidik Polisi namun hingga saat ini Polisi belum memiliki cukup bukti untuk memroses Marten lebih lanjut.

Marten kepada awak media, Rabu (24/7/2019) di Atambua menuntut kejelasan hukum atas kasus tersebut karena berdampak pada pembayaran haknya berupa pesangon dan hal lainnya.

Tak hanya itu, kejelasan hukum atas tuduhan pencurian itu berdampak pada langkah hukum yang akan ditempuhnya berupa pemulihan nama baik jika kemudian tuduhan mencuri itu tidak terbukti.

“Katanya saya curi rantai eskavator dan sudah lapor polisi. Saya juga sudah diperiksa polisi tapi selanjutnya bagaimana saya tidak tahu. Saya tunggu karena habis lebaran 2019 lalu mau panggil lagi saya tapi ternyata tidak ada panggilan sampai sekarang,” ucap Marten.

Dituturkan, laporan ke Polisi itu telah menghambat upaya dirinya untuk menuntut haknya berupa pesangon dan juga telah menjadi penyebab dirinya dipecat dari perusahaan tersebut setelah bekerja sejak tahun 2011 lalu.

“Mereka lapor kehilangan barang sejak oktober 2018 tapi tidak diproses. Saya baru diberhentikan Februari 2019 karena mencuri. Padahal setelah dilaporkan ke polisi saya masih terima gaji dan dapat THR. Kalau saya mencuri dan sudah lapor Polisi kenapa saya masih terima gaji,” tanya Marten.

Dituturkan, mengenai laporan ke polisi itu dirinya sebagai sopir tronton mengikuti proyek pengerjaan jalan sabuk perbatasan di wilayah Lamaknen. Saat itu, pengawas PT. Dian Nusa Lestari atas nama Tom melaporkan dirinya ke Polsek Tastim karena mencuri rantai eskavator namun hingga saat ini belum ada kejelasan kasus tersebut.

“Saya sudah dituduh mencuri tapi sampai sekarang tidak jelas. Saya sudah ke Dinas Nakertrans Belu tapi mereka minta ada surat dari polisi. Sementara polisi bilang tidak ada barang bukti dan saksi,” ujar Marten.

Terpisah Kapolsek Tastim, Iptu Samsul Arifin yang dikonfirmasi, Rabu (24/07/2019) membenarkan adanya laporan kasus pencurian tersebut. Namun, lanjutnya, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

Iptu Arifin juga membenarkan bahwa sampai saat ini belum ada saksi maupun barang bukti terkait kasus tersebut. “Kita sudah meminta pelapor untuk menghadirkan saksi tapi sampai sekerang belum ada,” kata Arifin.