Perdagangan Orang Harus Menembus Jantung Dan Hati Agama Agama

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Perdagangan manusia yang adalah kejahatan kemanusiaan harus menjadi agenda agama agama, harus menembus jantung dan hati agama agama termasuk gereja karena perdagangan manusia bukan saja tanggung jawab pemerintah dan LSM tetapi juga tanggung jawab agama agama.

Penegasan tersebut disampaikan Tokoh Lintas Agama, Pdt.Dr. Mery Kolimon pada aksi Lingkaran Solidaritas Memperingati Hari Anti Human Trafficking Internasional, di depan Kantor Gubernur NTT, Senin 30 7) malam.
Ditambahkan agama agama di NTT harus menjadikan perdagangan manusia menjadi pelayanan mereka.

“Hari ini kita semua berkumpul di sini membangun komitmen cukup sudah perdagangan manusia, cukup sudah kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata Ketua Majelis Sinode (MS) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) ini sembari menambahkan realitas perdagangan manusia adalah luka kebangsaan dan luka kemanusiaan. Hanya saja ujarnya kita tidak mau menciumnya.

Selanjutnya dikatakan agama agama harus terlibat dalam pendidikan pencegahan dan literasi untuk pencegahan human trafficking.

Dia menegaskan NTT dan 10 kabupaten baru saja menyelesaikan pemilukada karena itu janji janji kampanye para pemimpin akan ditagih termasuk menghentikan kejahatan kemanusiaan perdagangan manusia.

Mantan aktivis mahasiswa GMKI Cabang Kupang ini meminta para pemuda tidak meninggalkan pulau pulau dan tanah tanahnya dirampok penjahat. Doktor jebolan Belanda ini mengajak semua elemen untuk berkomitmen, bersinergi untuk menolak perdagangan manusia menyatakan cukup bagi kejahatan kemanusiaan dengan kerjanya masing masing.

Sementara itu, Pdt. Emmy Sahertian, Jaringan Kemanusiaan Solidaritas Korban Perdagangan Orang, JKSKPO dalam orasinya mengawali orasi dalam aksi tersebut menyebutkan data JKSKPO posisi Senin (30/7/2018) Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang dalam keadaan meninggal 69 orang. Sementara data BP3TKI 64 orang. Perhitungan Koalisi jaringan solidaritas kemanusiaan penyintas perdagangan orang. BP3TKI 64. ‎Ada ibu yang tidak bisa dipulangkan untuk bertemu dengan keluarganya.

Dikemukakannya pada waktu mendatang kemungkinan NTT akan terus dikirimi peti jenazah dari luar negeri. Angka kematian PMI kata dia tahun 2018 ini lebih tinggi dari tahun lalu. “Kemungkinan besar kita akan tetap menerima jenazah PMI karena mereka sementara tersebar di berbagai tempat persembunyian akibat kebijakan pemerintah negara tujuan rehairing,” ujarnya.

Lebih lanjut dikemukakan hampir 12.000 (dua belas ribu) PMI akan direpresi dan mendapat persekusi. Banyak sekali anak muda meninggalkan kampungnya 52 persen tanpa status yang jelas, migrasi terpaksa adalah bencana kemanusiaan 69 persen anak muda yang keluar dari kampung dan bermigrasi.

Menurut dia, modus terakhir memanfaatkan lingkaran keluarga sehingga menambah sulit aparat penegak hukum untuk menindak karena orang yang dalam lingkaran keluarga.

Ia berharap bersama sama dengan kapasitas masing masing berderap bersama dengan strategi literasi informasi dan literasi pendidikan karena ternyata banyak mereka yang pergi putus sekolah, korban KDRT dengan memanfaatkan modus modus wajah agama, budaya dan wajah keluarga untuk menjaring anak anak yang usia produktif. “Kita harus berkomitmen NTT bebas dari perbudakan modern,” tegas mama pendeta yang kaya akan pengalaman pendampingan ini.

Kesaksian korban Mariance Kabu juga mendapat perhatian peserta aksi. Dia berharap pemerintah memberi perhatian penuh bagi para korban human trafficking.

Sementara yang mewakili tokoh Hindu, Putu Winata menegaskan setiap manusia sama di hadapan Tuhan apapun latar belakangnya. Karena itu menurut dia ajaran Hindu menolak bentuk perdagangan manusia dalam bentuk apapapun perdagangan orang.

Sementara itu, IGRSC, Dr. Elcid Lie mengemukakan kekuasaan hendaknya dipakai untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan dan perbudakan dan bukan dipakai untuk menginjak injak rakyat. Dia mengajak semua elemen bergandengan tangan melawan perbudakan modern dengan memastikan rakyat tidak dijual. “Kita harus berjuang sendiri jangan berharap pada siapa siapa apalagi kepada pemimpin karena pemimpin suka ingkar janji,” tegasnya.

Hingga saat ini ujar doktor muda ini masih ditemukan ibu ibu yang terinfeksi HIV yang ditinggalkan suami, keluarga keluarga yang memegang Rp 100.000, perbulan. Ditegaskan pemimpin adalah yang mampu mengangkat penderitaan dari pundak rakyat. “Mari kita berjuang bersama,” ajaknya menutup orasi.

Data dari Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) yang dipublish di media sosial facebook menyebutkan korban meninggal 2011-2017 235 orang, Januari-Juli 2018 69 orang. Aksi yang dikelas dengan pembacaan puisi, menyanyikan lagu nasional dan orasi, pembakaran lilin, menyiram rampai, membuat pesan dan menandatangani penolakan human trafficking ini dihadiri aktivis perempuan dan aktivis kemanusiaan Thersia Ratu Nubi, Eda Djubire, Juliana Ndolu, Mien Patty Mangu, Anna Djukana, Carningsih Bunga, Ferderika Tadu Hungu, Caren Capembel Nelson, Jhon Nelson, Pius Rengka, Ketua GMKI Cabang Kupang, Christo Kolimo, Pdt. Paoina Bara Pa dan Pdt. Yetty Leyloh dari JPIT, Ragil dari IGRSC, masyarakat sipil dan komunitas lintas iman diliput wartawan media cetak, elektronika dan on line.(non)