Mama Emi Kandidat Pilgub NTT Pertama yang Datang ke Desa Ini

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Lokasi yang terpencil dan medan yang berat, membuat Desa Watulambar, Kecamatan Waijewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), sama sekali belum pernah dikunjungi para kandidat Pilgub NTT 2018. Namun Emelia Julia Nomleni memecahkan rekor tersebut.

Mama Emi, sapaan Cawagub NTT nomor urut 2, rela menempuh perjalanan yang cukup mencekam demi menemui pendukungnya di Desa Watulambar.

“Dari semua kandidat, baru Mama Emi yang mengunjungi desa kami,” kata Adi (30), petani di Desa Watulambar.

Berangkat dari Kecamatan Weetabula pukul 09.00 Wita, Selasa (27/3/2018), Mama Emi dan rombongan dikawal 12 orang yang mengendarai motor trail.

“Jarak dari jalan umum ke Desa Watulambar sekira tiga kilometer,” kata Nama Saul Pae (37), warga yang mengantar Mama Emi.

Perjalanan yang dilalui Mama Emi cukup menyentak jantung. Beberapa bukit harus diratakan untuk membuka ruas jalan. Jalannya pun belum diaspal. Hujan membuat jalan itu makin licin.

Setelah satu jam perjalanan, tekad jugalah yang menyampaikan Mama Emi dan rombongan di Desa Watulambar. Sesampainya di sana, Mama Emi dan rombongan disambut dengan Tarian Woleka, tarian penyambutan khas masyarakat Sumba.

Di Desa Watulambar, pasangan Marianus Sae ini tidak melakukan kampanye politik. Dia hanya ingin mengunjungi beberapa keluarga yang berduka cita pada hari itu. Saat diminta untuk berbicara, Mama Emi juga meminta rekan yang lain untuk mewakilinya.

Kubur Trapesium

Jika Anda pernah datang ke SBD dan berkeliling mengunjungi desa-desa di sana, satu hal yang cukup menarik perhatian adalah bentuk kubur yang dibangun warga setempat.

Beberapa kubur dibangun menyerupai bentuk trapesium, diatapi dengan campuran semen padat berbentuk segi empat.

“Jadi ada perbedaan antara kubur di Sumba Barat Daya, Sumba Barat, dan Sumba Timur. Di SBD, orang meninggal tidak dimasukkan dalam tanah. Petinya ditaruh di atas tanah, dan dibuat kubur seperti trapesium,” kata Paul Sae.

Di Desa Watulambar, hujan perlahan-lahan turun. Rintik-rintik yang turun dari langit membasahi tunas-tunas jagung sepanjang jalan menuju desa tujuan. Hujan itu juga yang membasahi tubuh para pengendara motor yang setia mengawal mobil yang ditumpangi Mama Emi.