Kadis Perdagangan : Perdagangan Ilegal Paling Menggiurkan Adalah Miras

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Belu, Florianus Nahak mengatakan bahwa, perdagangan ilegal yang paling menggiurkan adalah minuman keras (miras) berlabel luar negeri.

Hal itu disampaikan Nahak dalam kegiatan dialog keberadaan pasar gelap dan upaya penanggulangan kegiatan ekonomi ilegal yang dilaksanakan Kodim 1605/Belu di aula Makodim, Kamis (30/11/2017).

Selain miras jelas Nahak, hal lain yang juga menggiurkan yakni narkoba. Target operasi untuk dijadikan pengecer adalah para pengangguran serta pedagang kaki lima. Saat ini banyak miras berlabel luar negeri yang beredar dalam wilayah Belu.

Dikatakan, tentang peredaran miras Permendag nomor 70 tahun 2016 pengecer miras wajib ditarik untuk siupnya dan untuk miras yang berlabel hanya boleh dijual di hipermarket, tempat-tempat karaoke dan hotel berbintang bukan pada tempat usaha lain.

“Terima kasih untuk diskusi bersama menyangkut pasar gelap. Kita di Perdagangan sesuai UU Perdagangan yang kemudian ada pada Pepres yang telah ditetapkan kemudian ada juga beberapa aturan lainnya dalam penanggulangan Pasar gelap diwilayah perbatasan Belu,” ucap dia.

Dikatakan, perdagangan gelap dapat dilihat pada terjadi lintas batas perekonomian masyarakat menengah kebawah. Gambaran umum saat ini terkait perdagangan gelap di wilayah perbatasan Belu terkait sarana dan prasarana fisik.

Baca juga : Butuh Penanganan Serius Atasi Pasar Gelap di Tapal Batas Belu-Timor Leste

“Karena itu ketika mengadakan pesta tidak diperbolehkan adanya miras maupun acara adat lainnya. Namun terkait acara adat untuk penggunaan miras harus sesuai dengan takarannya,” ingat Nahak.

Jelas dia, pasar gelap atau perdagangan ilegal merugikan negara. Apabila ada transaksi ilegal diharapakan mengurus angka pengenal impor sebagai importir dan eksportir. “Ada kerugian negara namun secara nominal tidak dapat dipastikan nilai nominalnya,” ujar dia.

Lanjut Nahak, telah dibentuk kartu identitas pedagang untuk seluruh pedagang yang beroperasi di pasar yang berada di wilayah Belu. Dimana hal ini dapat mencegah adanya pedagang-pedagang eceran yang merupakan awal munculnya pedagang gelap dalam membentuk pasar gelap.

“Upayanya mendata setiap titik lokasi pelintasan yang dimana pada titik pelintasan tersebut akan dibangun pasar perbatasan,” kata dia.

Kesempatan itu Ketua FPPA, Suster Sisilia, SSps tambahkan, di wilayah perbatasan Belu dan Timor Leste masih banyak terdapat jalan tikus di perbatasan di sepanjang garis batas kedua negara. Tentunya hal ini menimbulkan kegiatan atau transaksi perdagangan illegal terus terjadi.

“Ini hal penting, karena itu perlu pembangunan perdamian dalam masyarakat itu sendiri, baik dari segi iman, moral dari manusia itu sendiri dan harus kerjasama serta saling mendukung satu sama lain sehingga tidak terjadi pasar gelap,” pinta Suster Sisilia.