Belum Masukkan Ijasah SD, Siswa SMP Tamatan SDK Oelolok Dipulangkan Kepsek

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Sejumlah siswa SMPK Dharma Bhakti St. Paulus Oelolok Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terpaksa dipulangkan Kepala Sekolahnya untuk mengurus ijasah Sekolah Dasar (SD) yang hingga kini belum dimasukkan.

Disampaikan Kepsek SMPK Dharma Bhakti St. Paulus Oelolok, Nikolaus Neonub bahwa para siswa dipulangkan untuk mengurus ijasah untuk kepentingan pengisian Dapodik. “Dari sekolah minta karena kita harus masukkan data yang akurat untuk Dapodik, namun hingga sekarang kita belum menerima ijasah anak – anak”, singkat Kepsek SMPK Oelolok, Nikolaus Neonub saat dikonfirmasi pertelepon pada Rabu (07/03/2018).

Pengakuan dua orang siswa yang dipulangkan “D” dan “H mereka sudah beberapa kali mendatangi almamater SDK Yaperna Oelolok untuk pengurusan Ijasah namun tidak pernah menjumpai Kepala SDk Oelolok, Gerardus Silab. “Kami sudah beberapa kali datang ke sekolah, karena pak Kepsek panggil bilangnya mau sidik jari untuk ambil ijasah. Tapi setiap kami datang, pak Kespsek tidak ada di sekolah. kami disuruh cek ke rumah, kami ke rumahpun katanya tidak ada, kami disuruh ke sekolah lagi. Kami takut dimarahi kalau harus kembali ke sekolah”, aku D dan H kepada media ini.

Hingga berita ini diturunkan, Pihak Dinas PPO Kabupaten yang dikonfirmasi mengaku belum turun ke lokasi SDK Oelolok guna menindaklanjuti berbagai masalah yang melibatkan langsung Kepala Sekolah Gerardus Silab. “Kami masih berkoordinasi dengan dinas di tingkat kecamatan untuk turun memantau ke SDK Oelolok”, jawab Kabid Tendik Dinas PPO Kabupaten, Yosef Mokos.

Berita terdahulu, Kepsek SDK Oelolok Gerardus Silab tidak menjalankan Kewajiban sebagai Kepala Sekolah selama hampir tiga bulan. Silab menghilang dari sekolah setelah diadukan Ketua Komite dan orang tua murid ke Dinas PPO Kabupaten, pada Januari tahun ini. Selain diduga telah menyalahgunakan Dana BOS untuk kepentingan pribadi, Silab juga dituding menghambat segala aktifitas di sekolah, baik proses KBM juga pengurusan raport siswa dan ijasah siswa siswi lulusan SDK Yaperna Oelolok yang belum diterima. Silab dituntut Ketua Komite dan para orang tua murid untuk bertanggungjawab atas berbagai masalah yang ditimbulkannya.

“Pak Kadis PPO, ada apa dengan diamnya pihak Dinas menyikapi masalah ini. Kasus kaburnya Gerardus Silab sebagai Kepsek SDK Yaperna Oelolok, bukan baru kemarin terjadi. Tapi sudah hampir memasuki bulan yang ketiga. KBM berjalan tanpa Kepsek selama berbulan – bulan. Siswa tidak tahu mereka duduk di kelas berapa karena raport belum pernah diterima. Siswa SMP Tamatan SDK Oelolok dipulangkan karena belum memasukan ijasah SD. Kepsek harus kembali pertanggungjawabkan dosa – dosanya di depan kami semua. Kasihan, bantuan Program Indonesia Pintar yang harus diterima 70 an siswa di dua tahun terakhir juga diambil alih oleh Kepsek. Dikemanakan hak anak – anak murid itu”, ungkap salah satu orang tua murid dengan geram.

12 butir pertimbangan yang pernah disampaikan perwakilan orang tua siswa sebagai alasan permintaan pemberhentian Silab dari jabatan Kepala Sekolah diantaranya Gaji para guru minus sebelum dan sesudah Silab menjabat sebagai kepala sekolah, selama menjabat sebagai Kepala Sekolah tidak pernah mengadakan rapat melibatkan orang tua murid dan komite, tidak pernah dalam pembagian raport melibatkan orang tua murid dan komite dan langsung diserahkan kepada anak, pembagian raport untuk semester I tahun ajaran 2017/2018 sampai sekarang belum dibagikan.

Halaman depan dan belakang sekolah tidak pernah dibersihkan, utang barang di toko mengatasnamakan komite tanpa sepengetahuan komite sekolah, penyususnan RAP penggunaan dana BOS tanpa melibatkan komite sekolah dan bapak ibu guru di SDK Yaperna Oelolok, menggunakan dana Bos sebesar Rp.13 juta tanpa dikembalikan, pencairan dana BOS triwulan IV tahun 2017 pada tanggal 22 Desember 2017 seberas RP.20 juta oleh bendahara, tetapi tidak jelas penggunaannya, tidak pernah terlibat dalam berbagai kegiatan gereja, sekolah sangat gelap dan tidak ada titik lampu yang menyala di dalam maupun di luar ruangan, sementara uang pulsa listrik diambil oleh kepala sekolah 3 kali dalam sebulan dan uang perjalanan dinas kepala sekolah sebesar Rp.1 juta dalam sebulan tetapi tujuan perjalanan tidak jelas entah kemana.