Siaga Hadapi Bencana, Cis Timor dan CRS Gelar Pelatihan Management Dapur Umum dan PPGD
Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Perubahan iklim yang terjadi saat ini dapat memberikan dampak ekstrim yang bisa terjadi di seluruh belahan dunia, termasuk wilayah Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL.
Dalam menghadapi berbagai macam ancaman yang bakal terjadi terkait perubahan iklim, maka perlu dibutuhkan sebuah kesiapan sebagai pola mitigasi atau pencegahan maupun rencana kedaruratan.
Terkait itu, Yayasan CIS Timor Indonesia dengan dukungan CRS Indonesia, dalam implementasi program INCIDENT bersama Dinas Sosial PMD Kabupaten Belu melakukan pelatihan Management Dapur Umum, Standar Operasional Penyedia Makanan dan pertolongan pertama Gawat Darurat(PPGD) bagi Korban Bencana.
Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari yakni, tanggal 22 hingga 23 Desember 2023 kemarin di Hotel Timor. Pelatihan management dapur umum diikuti peserta dari Kelompok siaga Bencana dari 5 Desa dampingan (Desa Tasain, Rinbesihat, Umaklaran, Dafala dan Bauho), Tagana, Forum Pengurangan Resiko Bencana, BPBD, Satuan Polisi Pamong Praja dan Dinas Sosial.
Hal tersebut disampaikan Project Manager Program INCIDENT sekaligus Koordinator CIS Timor area Kabupaten Belu, Wendelinus Inta kepada media, Minggu (24/12/2023).
Dijelaskan, tujuan pelatihan tersebut untuk memperkuat kemampuan masyarakat, otoritas pemerintah daerah (LGA), LSM/Ormas, KSB dan pemangku kepentingan utama lainnya di Kabupaten Belu secara efektif mempersiapkan, management dapur umum dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar paskah bencana.
Selain itu untuk menyediakan atau menyiapkan makanan, dan dapat didistribusikan atau dibagikan kepada korban bencana dalam waktu cepat dan tepat. Kesiapsiagaan penanganan gizi pada situasi bencana merupakan salah satu kunci dalam upaya pengurangan risiko bencana. Memastikan Langkah-langkah yang benar dalam melakukan pertolongan pertama gawat darurat pada korban bencana.
Lanjut dia, Yayasan CIS Timor Indonesia dengan dukungan CRS Indonesia, dalam implementasi program “Increasing Resiliency through CCA and DRR in Nusa Tenggara” (INCIDENT, Membangun ketahanan dan ketangguhan Masyarakat melalui adaptasi perubahan iklim dan pengurangan resiko bencana.
Mendukung pemerintah, organisasi masyarakat seperti kelompok siaga bencana Desa (KSBD), Tagana, dengan menindaklanjuti Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 7 tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar.
“Peraturan ini dimaksudkan sebagai penjelasan atas Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2008 tentang pendanaan dan pengelolaan Bantuan bencana perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana tentang tata cara pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar,” ungkap Inta.
Dijelaskan, pada pasal 24 ayat (2) huruf d, disebutkan untuk pemenuhan. Kehadiran Dapur Umum Saat Bencana adalah Bagian penting dari Pemenuhan Kebutuhan Dasar Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No 75 tahun 2019 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan, serta PMK no 4 tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum bidang Kesehatan telah mengatur bahwa penanggulangan gizi pada situasi bencana dan krisis kesehatan menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta masyarakat.
Pedoman pelaksanaan ini disusun berdasarkan alur penanganan gizi pada situasi bencana yang terdiri dari Koordinasi Penanganan Gizi Pada Kondisi Bencana, Kajian Dampak Bencana dan Analisis Kebutuhan Gizi, Pembuatan Rencana Respon Gizi, Intervensi Pemberian Makan Bayi Dan Anak (PMBA), Intervensi Pencegahan dan Penanganan Gizi Kurang dan Gizi Buruk, Intervensi Suplementasi Gizi, Intervensi Dukungan Gizi pada Kelompok Rentan, Manajemen Informasi dan Surveilans Gizi, Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat, dan Manajemen Logistik Gizi.
“Paskah bencana selain bicara dapur umum dan Gizi juga yang menjadi perhatian adalah kegiatan pertolongan pertama gawat darurat dapat menyelamatkan jiwa, mencegah lukal-uka menjadi lebih parah, mempercepat pemulihan, menjaga, dan menyadarkan.
orang yang tidak sadar,” ucap dia.
Pertolongan pertama kata Inta, tidak hanya diperlukan pada saat,bencana, tetapi teknik-teknik ini juga dapat membantu orang yang menderita akibat dari kecelakaan atau trauma. Bagian ini memberikan petunjuk dasar tentang bagaimana memberikan pertolongan pertama gawat darurat. Memberikan pertolongan pertama dengan benar bukanlah suatu hal yang mudah, terutama pada saat darurat.
“Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas, pertolongan pertama yang benar dapat menyelamatkan jiwa, oleh sebab itu sebanyak mungkin warga masyarakat perlu mendapatkan pelatihan pertolongan pertama dari organisasi terkait,” pungkas dia.

