Catatan Pojok Frans Watu:(Mantan Pemain PSK Kupang dan Galatama, Koord.NTT All Star Jakarta)

Bagikan Artikel ini

NTT Segudang Talenta, Miskin Prestasi.
NTTOnlinenow.com – Kalau mau jujur sepak bola NTT tidak kalah dengan Papua atau Maluku, di bumi Flobamora pemain tumbuh secara alamiah, punya skill, power yang selama ini terpendam karena minimnya kompetisi dan pembinaan. Bedanya Papua punya klub yang bermain di level nasional, baik itu Liga 1 atau 2. Maluku pernah bermain di Divisi Utama PSSI, bahkan penggiat bola Maluku kini tengah melirik Liga 2. Bicara sepak bola hal terpenting adalah uang, no money, no prestasi. Namun uang bukan segalanya, di atas itu harus ada totalitas dari pengurus dan good will dari pemangku kebijakan setempat.

Saya tumbuh bersama generasi, Polce Kia, Lourens Fernandez, Yopie Riwu, Daniel Boro, Agustinus Maufa, Verry Billy, Nelson Noakh, Rudolf Rudi Rodja, Thomas Ola Langodae, Yoseph Wangga, Yun Bali, Gabriel Lema. Kami lahir dari keterbatasan fasilitas dan dukungan yang minim dari Asprov NTT (Komda NTT saat itu). Namun kita beruntung punya S.K.Lerik, Beni Amalo, Frans Sakera, Mundus Lema, Jack Lay, Manek Tedens, mereka adalah orang yang tanpa pamrih membangun sepak bola NTT sampai melahirkan generasi penerus kami hingga seperti, Okto Lona Djara, Roy Wila, Ari Bali, Adnan Mahing, John Lumba, Bai Kelen, Petu Abanat, Pius Pake, Dion Fernandez dkk.

Penggiat sepak bola di Kupang, tidak sendiri, ada Yohanes Nani Due, Valens Fernandez, Abdulah Bali, Yance de Rosari, Ami Indradewa dan masih banyak tokoh yang peduli sepak bola, mereka rela merogoh koceknya demi sepak bola NTT. Saat ini NTT butuh figur yang punya komitmen dan totalitas, jika ingin sepak bola NTT menembus level nasional.

NTT segudang talenta, miskin prestasi. Saya beruntung bisa mengecap ketatnya kompetisi Galatama bersama Eduard Mangulomi, Mathias Bisinglasi, Yos Fernandez, Lorens Fernandez, Agustinus Maufa, Yopie Riwoe, Daniel Boro, Adnan Mahing. Kami semua merupakan talenta-talenta NTT yang lahir dari kompetisi lokal Komda PSSI Kota Kupang. Dengan keterbatasan sarana dan dukungan finansial, SK.Lerik mampu memutar roda kompetisi PSK Kupang, dari situlah talenta-talenta NTT mampu memikat hati para pemandu bakat dari klub Galatama dan Galakarya. Tapi bicara prestasi kita minim. Bersyukur kali ini kita bisa lolos ke PON Papua setelah 30 tahun menjadi penonton, kali ini kita lolos dari hadangan Bali.

Membina sepak bola butuh totalitas dan kecintaan, jangan berharap keuntungan dari pengabdianmu, kecuali mengelola Klub Liga Indonesia. Di Liga Indonesia kita bicara industri, ada cash flow, disini bukan pengabdian tapi bisnis. NTT bisa memiliki klub profesional karena animo penonton yang luar biasa, tapi sayangnya minim sarana pendukung.

Merubah wajah sepak bola NTT tidak butuh birokrasi atau anggota legislative, karena mereka tidak akan total mewakafkan waktunya, tanggung jawab mereka ada pada konstituennya. Jika disuruh pilih mana yang jadi prioritas, rapat di Gedung Dewan atau kumpul bareng penggiat sepak bola di lapangan, tentu mereka akan memilih yang pertama, jika tidak ingin kehilangan kursi kekuasannya.

Dari mana kita bisa merubah sepak bola NTT, jawabannya ada di Musyawarah Daerah Asosiasi Provinsi PSSI NTT (Musdaprov PSSI NTT). Jika para voters tergiur dengan “wani piro”, atau mau ditekan oleh penguasa, jangan berharap ada perubahan seperti yang didengungkan para penggiat sepak bola selama ini. Jika hal ini terjadi kita patut mengucapkan inna lilahi wa inna ilahi roji’un pada sepak bola NTT, selamat tinggal talenta muda NTT.

Saat ini sudah beredar nama-nama yang siap bertarung menggantikan posisi yang akan ditinggalkan Frans Lebu Raya mantan Gubernur NTT sebagai Ketua Asprov NTT. Dua nama yang mencuat menjelang Musda PSSI NTT, Fary Francis Komut PT. Asabri, pemilik Klub dan Akademi Sepak Bola Bintang Timur (Liga 3) dan Christ Mboeik Wakil Ketua DPRD NTT yang nota bene pembina Klub Platina. Selain itu ada David Fulbertus pemilik Klub Kristal Kupang, Lambert Tukan Sekretaris Asprov NTT dua periode.

Beberapa voters sudah terang-terangan mempublish dukungannya kepada duet Fary Francis – David Fulbertus, ada juga yang mau menduetkan Christ Mboeik – Lambert Tukan, semuanya bagus, karena punya tekad yang sama memajukan sepak bola NTT dan membawa talenta NTT berkiprah di pentas nasional.

Bagi Fary Francis, semua orang bisa bermain bola, bisa mengurus bola. Namun tidak semua orang bisa memperlakukan dan mengelola sepak bola dengan gairah besar untuk mencapai tujuan (passion). Passion juga bisa diartikan sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas tanpa paksaan, suatu bentuk panggilan dari alam bawa sadar seseorang. Orang yang memiliki passion sepak bola tidak berpikir cost and benefit. Bahkan orang-orang seperti itu memberikan banyak pengorbanan waktu, tenaga, fokus, jaringan, materi bahkan kepentingan keluarga demi sepak bola. Cinta pada sepak bola mengatasi segalanya (Eu amor vincit omnia).

Christ Mboeik yang baru mencoba peruntungannya menawarkan 10 program unggulan, dengan mengusung tag line “Saatnya Sepak Bola NTT Berubah”. Menjalankan roda kompetisi, peningkatan SDM, membangun prasarana hingga fund rising (sponsorship) merupakan konsep perubahan yang ditawarkan mantan jurnalis yang optimis membuat sepak bola NTT bergerak lebih baik. Salah satu opportunity yang dimilikinya adalah posisinya di legislative dan kedekatannya dengan Gubernur Viktor B. Laiskodat. Dengan posisi seperti ini tentunya harapan mendorong APBD untuk membangun sepak bola tidak akan terhindarkan, sementara APBD NTT akan fokus pada bidang kesehatan dan pendidikan pasca pandemic.

Pada 10 tahun kepemimpinan Frans Lebu Raya sebaga Ketua Asprov NTT rasanya tidak ada bantuan APBD untuk pembangunan sarana dan pembinaan sepak bola, karena itu jangan banyak berharap dan termakan janji manis para kandidat yang menawarkan akan mendorong APBD NTT untuk pembinaan sepak bola ke depan. 10 tahun di era Frans Lebu Raya dapat menjadikan pelajaran bagi Asosiasi PSSI Kota/Kabupaten (Askot/Askab), Asosiasi Futsal dan Asosiasi Wasit yang akan memberikan suaranya dalam menentukan nahkoda baru Asprov PSSI NTT.

Semoga Musyawarah PSSI NTT nanti bisa berjalan sesuai dengan harapan masyarakat NTT. Jika para voter (Askot/Askab) punya niat yang tulus membangun sepak bola NTT, jangan tanya “wani piro”, jabatan apa yang saya dapat di birokrasi atau proyek apa kelak buat saya dan rekan-rekan. Andai masih ada pemikiran seperti ini, lupakan mimpi besar kita tentang sepak bola. Jangan jadikan sepak bola sebagai alat politik, pergunakan statuta PSSI sebagai landasan bermusyawarah. Statuta PSSI telah mengatur syarat, mekanisme dan tata cara bermusyawarah. NTT benar segudang talenta tapi miskin prestasi, jangan biarkan sepak bola diurus oleh badut-badut politik atau Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadikan sepak bola sebagai lahan korupsi.