Dianggap Langgar Prokes, Dua Remaja di TTU Sekarat Dianiaya Oknum Anggota Koramil 1618 – 04 Biboki Selatan

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Dua remaja di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU)  sekarat dianiaya oknum anggota TNI Koramil 1618 -04 Biboki Selatan, Jumat (30/7/2021) malam.

Dua remaja tersebut adalah Michael Jefentus Ukat (15) dan Yakobus Naisanu (17). Jefentus merupakan siswa SMP Negeri Manufui sedangkan Yakobus adalah siswa SMA Negeri Manufui. Keduanya adalah warga Desa Supun, Kecamatan Biboki Selatan.

Kedua remaja ini dilarikan ke Puskesmas Manufui guna mendapat perawatan intensif. Namun Sabtu pagi dipaksa pulang oleh petugas kesehatan di Puskesmas Manufui dengan alasan tidak jelas. Padahal kedua korban masih dalam kondisi sakit parah. Kini kedua korban dirawat seadanya di rumah kediaman orang tua masing-masing.

Sedangkan pelaku adalah Babinsa di Desa Tainsala berinisal Kopral Kepala EP.

“Menurut informasi yang saya dapat dari keluarga korban, oknum anggota TNI itu dalam kondisi mulut bau alkohol alias mabuk. Lalu memukul dua remaja tersebut dengan cara menendang dan meninju hingga berdarah-darah”, jelas Direktur Lembaga Advokasi Anti Kekerasan Masyarakat Sipil (Lakmas) NTT, Viktor Manbait, S.H, via ponsel Sabtu (31/7/2021) pagi.

Manbait menjelaskan, dua remaja itu dinilai melanggar prokes karena bermain biliar dalam masa PPKM.

“Mestinya diingatkan dan diberi pembinaan saja. Kasihan anak bawah umur dianiaya sampai sekarat begitu”, tukasnya kesal.

Kades Supun, Marselinus Tani, yang dihubungi via ponsel, Sabtu pagi, membenarkan jika dua warganya menjadi korban penganiayaan oknum anggota TNI.

“Informasi itu benar. Memang ada penganiayaan, namun saya belum tahu duduk persoalan sebenarnya. Bisa ditanyakan ke keluarga korban atau ke Kapolsek Biboki Selatan. Karena kasusnya sudah dilaporkan ke sana,” jelas Marselinus Tani.

Marselinus Naicea, keluarga dari korban Yakobus Naisau, saat dikonfirmasi membenarkan penganiayaan terjadi di halaman rumahnya, Jumat malam. Namun ia menolak menjelaskan kronologinya dengan alasan masalah itu sedang ditangani pihak desa dan Koramil Biboki Selatan.

“Nanti bapak tanya langsung ke bapa desa saja,” tukasnya.

Terpisah, Dandim 1618 /TTU, Letkol Arm Roni Junaidi mengaku sangat menyayangkan kejadian tersebut.

“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar – besarnya kepada korban dan keluarga korban, terutama kedua orang tua dari Yakobus Naisau dan Mikhael Juventus. Kita akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan,” kata Dandim Roni Junaidi saat dikonfirmasi usai menjenguk korban di kecamatan Biboki Selatan Sabtu pagi.

Ia juga berjanji akan segera menindak tegas oknum anggotanya, EP sesuai aturan hukum yang berlaku.

“Olah TKP telah dilaksanakan oleh Pasiintel, Unit Intel dan Subdenpom Atambua. Dan terhadap oknum anggota saya, EP, sementara penahanannya di sel Makodim guna di BAP kemudian penyerahan berkas ke Subdenpom Atambua”, jelas Roni Junaidi.

Adapun langkah – langkah yang diupayakan pihak Kodim 1618/TTU dalam kasua penganiayaan tersebut, diantaranya membantu biaya pengobatan terhadap Mikhael Juventus yang diserahkan langsung kepada orang tua korban, mengantar korban Yakobus Naisau ke RS Leona didampingi orang tua, berkoordinasi dengan dokter Luzie di Rumah Sakit Leona Kefamenanu untuk perawatan dan penanganan lebih lanjut terhadap korban.

“Saat ini dalam proses observasi dokter, korban dirontgen bagian kepala dan perut”, kata Roni Junaidi.

*Berikut Kronologi Oknum Babinsa Aniaya Dua Remaja Hingga Sekarat*

Pada Jumat (30/07/2021) malam, sekitar pukul 18.00 wita, Kopral Kepala EP yang bertugas sebagai Babinsa Desa Tainsala Kecamatan Biboki Selatan ini, melintas di depan billiard milik Agustinus Bitin Berek alias Bos Koleong di Desa Supun Kecamatan Biboki Selatan.

Ia melihat beberapa remaja sedang bermain billiard. la berhenti dan memarkir sepeda motor trail miliknya. Lalu mendekati para remaja tersebut yang sedang asyik bermain. Dengan menggunakan ponselnya, ia mengambil gambar kegiatan permainan billiard itu.

Ia lalu meminta para remaja tersebut menyebutkan nama lengkap dan alamat lengkap, serta nama orangtuanya. Lalu menanyakan kenapa mereka bermain billiard sementara masih berlaku PPKM.

Tiga remaja, yaitu Blandino Boy Banusu (14) tahun kelas VIII SMP Negeri Manufui, Yakobus Naisau (17), kelas XI SMA Negeri Manufui dan Mikhael Jefentus Ukat (15) kelas VIII SMPN Manufui, meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi.

Namun Kopka EP tidak puas dan meminta ketiga anak itu bertemu orangtua yang paling dekat dengan tempat bermain billiard tersebut dengan cara berboncengan sepeda motor.

Karena ketakutan, Blandino Boy Banusu, melarikan diri dalam kegelapan malam. Tinggallah Yakobus Naisau dan Mikhael Jefentus Ukat. Mereka tiba di halaman rumah Marcel Naicea.

Marcel sedang makan malam bersama keluarga, kaget karena mendengar suara ribut-ribut di halaman rumahnya. Ia dan istrinya dan beberapa orang tetangga bergegas menemui Kopral Kepala EP dan dua remaja di halaman rumahnya.

Setelah terjadi tanya jawab, baru Marcel paham kalau dua remaja itu melanggar prokes di masa PPKM. Ia mewakili keluarga remaja itu meminta maaf kepada Kopral Kepala EP. Dua remaja itu juga berlutut minta maaf.

Namun permintaan maaf dijawab dengan tendangan ke dada, tinju ke pelipis dan mulut kepada dua remaja hingga berdarah-darah. Bahkan menginjak dada salah satu korban yang sudah jatuh tergeletak di tanah.

Kopral Kepala EP lalu pergi setelah diprotes warga. Ia mempersilahkan warga melapor ke mana saja, ia tidak takut dan siap bertanggungjawab.

Foto : Korban penganiayaan saat dirawat di Puskesmas Manufui