Akankah Nama Bandara Turelelo Soa Menjadi Bandara Yan Yos Botha Soa, Ngada

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Kupang, NTTOnlinenow.com – Diera kepemimpinan Bupati Ngada Marianus Sae, nama Bandara Turelelo Soa sempat menjadi pembicaraan publik. Saat itu Marianus Sae melarang salah satu maskapai tidak boleh mendarat di Bandara Turelelo, Soa (21/des/2012). Aksi pendudukan Bandara yang dilakukan Satpol PP membuat maskapai tersebut batal mendarat dan Kembali ke Bandara El Tari Kupang.

Nama Bandara Turelelo Soa, Kembali disuarakan oleh mantan Gubernur NTT Letjen TNi (Pur) Herman Musakabe dalam sebuah canal Youtube. Mantan Gubernur menyuarakan agar nama Bandara Turelelo Soa dapat dirubah dengan nama mantan Bupati Ngada Yan Yos Botha. Herman Musakabe yang juga merupakan putra Ngada, bertujuan agar masyarakat Ngada belajar mengenang jasa para pendahulu, peletak dasar pembangunan di Ngada.

Masyarakat Ngada Flores sesungguhnya masih sangat kental dengan ikatan budaya dan sejarah berikut berbagai norma tentang penghormatan kepada tokoh pendahulunya. Event tahunan Rebha di Ngada merupakan sebuah bukti tak terbantahkan. Maka yang menjadi pertanyaan besar, yaitu ketika wilayah-wilayah lain di Flores sudah menabalkan nama tokoh pendahulunya pada berbagai gateway atau monumen seperti Frans Sales Lega, Aroeboesman, Frans Seda, Lorens Say, Herman Fernandez, lalu mengapa di Ngada belum ada fenomena penghargaan terhadap tokoh tokoh lokal tersebut?

Menurut GF.Didinong pengamat pengamat sosial dan layanan publik NTT, ada yang mengatakan bahwa literasi dan referensi terkait pembangunan awal Kabupaten Ngada masih sangat minim sehingga mengakibatkan generasi milenial di bawah usia 40 tahun bisa jadi tidak familiar dengan nama sekelas Bupati Yan Yos Botha. Namun generasi Ngada di atas itu bahkan mayoritas masyarakat Flores dan NTT pasti mengenal nama mantan bupati tersebut.

Jauh sebelum muncul istilah blusukan, para pendahulu di Flores pada dekade 60-an hingga 70-an sebagaimana Bupati Yan Yos Botha sudah rutin melakukan turne berhari-hari ke berbagai wilayah perdesaan yang terisolir untuk mendorong pembangun jalan dan akses pasar, mendirikan sekolah dasar dan sekolah lanjutan, meningkatkan pelayanan kesehatan dan sebagainya. Padahal situasi dan kondisi anggaran daerah saat itu amat minim dan nyaris tanpa fasilitas.

Masyarakat Ngada dikenal menganut sistem klan matrilineal yang menghasilkan kebanggaan pada Sao dengan Mataraga dan seterusnya masing-masing. Bisa jadi hal ini ikut menumbuhkan sikap kurang peduli kepada penghargaan kepada individu dari Sao atau wilayah lain, lanjut Didi begitu putera Maumere ini biasa disapa.

Sosok sekelas Gus Dur pernah berucap bahwa, kalau mau belajar tentang demokrasi, maka belajarlah ke tanah Ngada. Dengan pengakuan ini, semestinya kesadaran dan sikap penghargaan kepada tokoh lokal Ngada pun dapat dikembangkan. Aspirasi masyarakat terkait penghargaan terhadap jasa tokoh lokal Ngada seharusnya dapat diserap dan diperjuangkan oleh DPRD Ngada dan Pemda Ngada serta stake holder Ngada lainnya.

Di kalangan orang Flores, Ngada memang dikenal kampiun dalam hal sepakbola. Namun dalam hal penghargaan terhadap jasa tokoh lokalnya sendiri, nampaknya Ngada masih ketinggalan jauh.

Lebih lanjut dikatakan Didi, apa yang dikatakan Herman Musakabe yang pernah jadi mentor SBY, nomenklatur pada situs dan fasilitas umum seperti bandara sama sekali bukan untuk kultus individu. Sebaliknya, selain bertujuan untuk menghargai jasa tokoh sendiri, penghargaan tersebut juga akan memberikan rasa percaya diri (self confidence) di samping membangun ketahanan sosial budaya (social and cultural resistence) dalam menghadapi globalisasi. Generasi muda Ngada akan memiliki panutan tentang semangat dan nilai perjuangan dari para tokoh lokal Ngada sendiri.

Orang Flores khususnya orang Ngada pasti akan menolak kalau Bandara Turelelo Soa misalnya kemudian dinamakan Bandara Ki Hajar Dewantoro atau Bandara Kartini dan seterusnya. Menyandingkan nama seperti Bandara Yan Yos Botha Turelelo Soa rasanya akan sangat sepadan sebagaimana Bandara Eltari Penfui, Bandara Soekarno Hatta Cengkareng atau Bandara Umbu Mehangkunda di Sumba, dan lain lain.

El Tari Memorial Cup merupakan salah satu turnamen tertua yang dimiliki PSSI saat ini, adalah bukti kecintaan Masyarakat Bola NTT terhadap mantan gubernur NTT. Pada hal El Tari bukan Ir. Suratiin Sosrosoegondo yang dikenang sebagai tokoh pendiri PSSI, Namanya kita ingat karena setiap tahun PSSI memutar kompetisi Suratin Cup untuk pemain usia dini.