Pamerkan Gaya Hidup Mewah di Medsos Menyakiti Orang Miskin

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Keangkuhan hidup atau memamerkan gaya hidup mewah, harta kekayaan di media sosial (medsos) sesungguhnya menyakitkan orang miskin yang dalam hidupnya sehari hari sangat susah dimana untuk mencari sesuap nasi saja sangat susah.

Penegasan tersebut disampaikan Pdt. Petronela HirePaja Layboga,STh, MSi dalam khotabnya menyampaikan kebenaran Firman Allah yang terbaca dari I Pertama Johanis 2:7-17 dengan Perikop, Perintah yang baru pada kebaktian kedua Penutupan Bulan Budaya dan Bahasa Jemaat Gereja Masehi di Timor (GMIT) Eibenhaezar OEba dan syukuran HUT Persekutuan Gereja -Gereja di Indonesia (PGI), Minggu (30/5/2021) yang disiarkan secara live streaming.

Pdt. Nella mengawali khotbah dengan menyampaikan bahwa hari ini semua Jemaat GMIT merayakan penutupan Bulan Budaya dan Bahasa. Terima kasih kepada Allah yang menciptakan keberagaman budaya, berbagai suku dimana Allah dalam kebesaran kasihNya mempersekutukan orang percaya dalam gereja.

Dikemukakannya bagi orang yang percaya kepada Allah dalam Yesus, maka kasih harus menjadi warna diri. “Kita percaya dan mengakui Yesus, tidak ada pilihan lain harus hidup dalam kasih. Kasih yang sejati adalah kasih Allah dalam Kristus Yesus,” ujarnya sembari menambahkan kita akan mengalami kasih yang benar kalau kita mengenal Yesus secara baik setiap hari. Artinya perjumpaan orang percaya dengan Yesus katanya menentukan pengalaman hidup dan kualitas hidup orang percaya.

Selanjutnya disebutkan Rasul Yohanes menyampaikan perintah baru dalam firman ini mengapa disebut perintah baru padahal sudah ada perintah sebelumnya. “Kita ingat Injil mengatakan diperintah untuk mengasihi. Tetapi ada kalimat lanjutan mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi perintah baru, Yesus mengatakan kasihilah musuh mu, jika orang menampar pipi kiri mu beri pipi kanan-mu. Apakah kita bisa melakukannya,”tanyanya retoris.

Pdt. Nella yang mengenakan pakaian adat Toraja ini menyampaikan dalam fakta dan pengalaman hidup setiap orang betapa sulitnya orang percaya mengasihi orang yang membenci dirinya. Dicontohkannya saat ia mengikuti rekonstruksi pembunuh dan pemerkosa yang viral dan menjadi tranding topic berita akhir akhir ini secara pribadi ia sangat terpukul dan marah.
Ia juga membaca komentar komentar nitizen di medsos yang geram, marah. Itu hal yang manusiawi. “Berhadapan dengan hal hal seperti ini kasih kita benar diuji,” ujarnya.

Menurut dia, kebenaran injil itu tidak semata ditangkap oleh akal saja tetapi kebenaran harus dihidupi, harus menjadi model atau warna hidup orang percaya. Penginjilan yang benar adalah menghidupi kebenaran injil. Pekabajaran injil bukan berdiri di atas mimbar dan berkohtbah an sich, atau berkohtbah yang berapi api. Tetapi seluruh sikap hidup, tutur kata yang menghidupi injil itu pekabaran injil. Sehingga dalam diam pun orang kristen menyaksikan kebenaran Kristus.

“Tak kalah hidup sudah tak tertanggungkan kita berharap hari Tuhan segera datang. Harapan mesianis ini ada pada kita semua. Rasul Johanis maksudkan kegelapan adalah kebencian. Sedangkan terang adalah kasih. Pilihan orang Kristen itu hidup dalam terang yakni kasih. Kita tidak bisa hidup dalam area abu abu, karena hidup dalam area abu abu bahkan bisa menarik kita ke area kegelapan,” ucapnya.

Ia mencontohkan kehidupan saat ini dimana bangun pagi menyapa semua orang lain secara manis di media sosial tetapi suami, istri dan anak anak belum ditegur. Itu fakta kehidupan kekristenan. “Kita sibuk dengan diri kita dan smartphone kita, dan menelanggamkan anak anak yang asik sendirian di kamar dengan smartphonenya. Kita baik dengan orang di luar sana, tetapi jahat dengan orang di rumah dan tetangga kita. Sesungguhnya itu kegagalan penginjilan kita sebab warna penginjilan tenggelam dalam hiruk pikik dunia ini,” tandasnya.

Lebih lanjut dikemukakannya jika hidup warga gereja dalam kegelapan akan menyusahkan dirinya dan orang lain. Pilihan orang kristen hidup dalam terang kasih yang tidak akan menyusahkan diri dan orang lain justru membawanya pada kebaikan keberkatan, keberuntungan. Diungkapkannya keinginan daging dekat dengan hidup materalistis dimana segala sesuatu diukur dengan uang dan benda.

Ditegaskannya orang kristen tidak bisa hidup seperti itu. “Kita tidak bisa hidup seperti itu karena dalam hidup ini tidak semua hal bisa dibeli dengan uang dan ditukar dengan barang,” tegasnya.

Begitu juga katanya dengan keinginan mata, apa yang dilihat mau dibeli. Sudah ada banyak barang di rumah tetapi tetap saja mau beli. Pakaian di lemari bukan dibagikan kepada orang lain justru membeli tambah lemari. Padahal pakaian yang satu lemari itu dipakai satu tahun pun tidak akan habis terpakai. “Kita menjadi serakah, apa yang dilihat mau dibeli tidak peduli dengan orang lain yang hidupnya sementara susah,” katanya.

Keangkuhan hidup menurut dia orang Kupang menyebutnya tukang pamer, membual, makan puji. Alkitab melarang karena itu kepalsuan. Karena sikap seperti itu tegasnya menyakiti orang lain yang tidak punya.

Dia mengemukakan orang Indonesia suka memamerkan harta kekayaan, barang barangnya di media sosial. Apa yang dipostingnya menyakiti orang miskin. Mobil banyak di garasi, harta kekayaan yang berlimpah. Saat matipun tak ada satupun yang dibawa.

Ditegaskannya orang kristen tidak boleh seperti itu. Kalau ada berkat berbagi. “Saya tidak mengajarkan hidup fatalistik tetapi realistis. Orang ksriten meneladani gaya hidup Yesus kata kata dan perbuatan Yesus. Kita hanya bisa menginjili dunia ini jika kita sungguh sungguh hidup dalam kasih, kita bisa memenangkan keluarga, orang orang di sekitar kita jika kita hidup benar dalam kasih. Marilah kita hidup dalam kasih karena Allah adalah kasih,” ujarnya mengakhiri khotbahnya.

Pada kebaktian tersebut pendeta, tim bulan budaya dan bahasa, pelaku liturgi, Jemaat mengenakan pakaian multi etnik seluruh nusantara. Salah satu jemaat Amanda memainkan Okulele, dua warga memuji Tuhan lagu Laismanekat diiringi permainan sasando, Bpk Frits, Djubida membawakan sebuah pujian. Kebaktian Penutupan Bulan Budaya dan Bahasa menggunakan liturgi khusus untuk perayaan HUT PGI ke 71.

Pada kesempatan tersebut Ketua Majelis Jemaat GMIT Eibenhaezar OEba, Pdt. Robert Litelnoni, STH saat menyampaikan Suara Gembala tetap meminta jemaat untuk mentaati protokol kesehatan. Selanjutnya ia menyampaikan selamat HUT PGI ke 71. Menurutnya PGI adalah payung dimana bagi gereja gereja membangun tubuh Kristus menuju keesaan gereja di Indonesia. Tak lupa ia menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Tim Budaya dan Bahasa Jemaat GMIT Eibenhaezar Oeba yang luar biasa telah bekerja berat membuat kebaktian bulan budaya dan bahasa ini berjalan baik.

“Mengapa GMIT perlu menetapkan Mei sebagai bulan budaya dan bahasa. Maksudnya meski kita hidup di zaman modern kita tahu budaya dan bahasa adalah identitas diri kita,” ujarnya.

‎Ia menyampaikan rasa kagum dan terima kasih kepada pengisi liturgi melalui sasando, ukulele, ternyata anak muda juga tertarik dengan sasando dan ukulele. (non)