Yakkum Gelar Pelatihan Penguatan Kapasitas Bagi WPA di Belu
Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – CD Bethesda Yakkum Yogjakarta cabang Belu menggelar pelatihan penguatan kapasitas Warga Peduli Aids (WPA) di Kabupaten Belu wilayah Timor Barat, Kamis (27/5/2021).
Pelatihan dalam membangun organisasi dan jaringan untuk advokasi hak-hak Orang dan HIV Aids (Odha) berlangsung selama dua hari hingga Jumat 28 Mei di Hotel Nusa II Atambua perbatasan RI-RDTL.
Peserta WPA yang mengikuti pelatihan tersebut berasal dari 6 Desa yakni, Desa Silawan, Fatuketi, Leosama, Manleten, Tukuneno dan Bakustulama. Sedangkan 2 Kelurahan yakni, Tulamalae dan Umanen.
Koordinator CD Bethesda Yakkum Belu, Yosafat Acian mengatakan banyaknya kasus kematian ditengarai masih banyak ODHA belum mendapat akses ARV berakibat masuk ke stadium AIDS dan tidak tertolong tingginya angka Lost to Follow Up (DO).
Pengobatan ARV (masyarakat kurang paham, akses kurang, efek samping obat ARV, dan tingginya biaya pengobatan bagi ODHA yang tidak memiliki kartu layanan kesehatan) kurangnnya tenaga pendamping dan penjangkauan, masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di masyarakat.
Tujuan pelatihan selama dua hari ini untuk memberikan pemahaman dan ketrampilan teknis kepada WPA tentang konsep, strategi dan pengorganisasian untuk advokasi hak-hak ODHA. Mengidentifikasi tantangan dan kemajuan dihadapi oleh WPA dan strategi mengadvokasinya.
Selain itu, membangun organisasi peduli HIV dan AIDS yang terorganisir dan diakui masyarakat Membuat rencana tindak lanjut untuk implementasi pasca pelatihan
Lanjut Yosafat, Output dalam kegiatan ini, peserta memahami konsep, strategi dan pengorganisasian untuk advokasi hak-hak ODHA. Peserta memiliki ketrampilan teknis dalam memetakan potensi dan tantangan penanggulangan HIV dan AIDS dan strategi memperjuangkannya Terbentuknya Forum Warga Peduli AIDS.
Oleh karena itu, pelatihan penguatan komunitas WPA penting untuk membantu pemerintah terutama pemerintah desa dan kelurahan dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Melalui pelatihan ini diharapkan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan WPA untuk ikut aktif memperjuangkan hak-hak ODHA terutama mendapatkan pelayanan memadai dan berkualitas dari pemerintah.
Selain itu mampu memetakan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh WPA dan berbagai pihak dalam menanggulangi HIV dan AIDS. Hal ini penting untuk membantu pemerintah menuju three zero 2030. Tidak ada kematian karena AIDS, tidak ada kasus baru, tidak ada diskriminasi terhadap ODHA.
“Pola kegiatan pelatihan kita desain partisipatif, shering, diskuisi kelompokk dengan fasilitator. Harapan kita ada rencana tindak lanjut yang bisa diimplementasi oleh WPA pasca pelatihan selama dua hari, hari ini sampai dengan besok,” tutup Yosafat.

