Pilkada TTU, Amandus Nahas : Deadlock Musda X Partai Golkar Sangat Tidak Masuk Akal
Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Ketua Demisioner DPD II Golkar Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Amandus Nahas, mengakui deadlock dalam Musda X Partai Golkar TTU, Selasa (21/7/2020) Ialu, sangat tidak masuk di akal sehat dan sangat membingungkan.
Amandus menduga ada yang tidak beres dari situasi deadlock itu. Namun ia tidak mau menuding panitia atau pengurus DPD I Golkar NTT berada dibalik peristiwa deadlock itu.
Kepada wartawan, Amandus menuturkan setiap tahapan dalam Musda X Partai Golkar TTU Selasa Ialu sudah dilalui dengan baik.
Pendaftaran peserta musda dari utusan Komcat Golkar oleh panitia sudah selesai dengan melakukan verifikasi pengurus Komcat berdasarkan surat rekomendasi yang dibawa. Bahkan ada pelaksana tugas (Plt) Komcat. Dan sudah dizinkan panitia masuk ke ruang musda.
“Utusan Komcat ini juga memberikan tanggapan atas laporan pertanggungjawaban saya sebagai Ketua DPD II Partai Golkar TTU. Dan tidak dipersoalkan. Semua berjalan mulus,” kisah Amandus.
Namun ketika masuk tahap pemilihan dan perhitungan suara, kehadiran para pengurus Komcat ini dipersoalkan oleh panitia sendiri. “Ini khan aneh?” tukas Amandus
heran.
Saat itu, Ianjut Amandus, ada tiga bakal calon yang diajukan untuk merebut kursi Ketua DPD II Golkar TTU periode 2020 – 2025. Yaitu Amandus Nahas, Kristoforus Efi dan Yohanes Bastian.
Total ada 30 hak suara yang diperebutkan. Rinciannya, 24 suara dari masing-masing Komcat, organisasi sayap, organisasi wanita, dewan pertimbangan, DPD I Partai Golkar NTT, masing-masing 1 suara ditambah ketua demisioner 1 suara. Namun Komcat Miomaffo Tengah berhalangan hadir jadi sisa 29 suara.
”Saya hitung sudah 28 suara ada dalam genggaman saya. Mungkin sudah merasa kalah, ada yang mulai mengajukan protes dan bikin ribut. Katanya ada utusan Komcat yang sebenarnya tidak boleh hadir karena legalitas mereka diragukan. Lho, kok diragukan ? Kenapa sejak awal verifikasi kepesertaan mereka di musda tidak dipersoalkan, kenapa pada saat perhitungan suara baru dipersoalkan? Saya kira ini tidak masuk di akal dan ada sesuatu yang tidak beres,” papar Amandus.
Karena ribut terus dan tidak ada solusi, lanjut Amandus, pimpinan Musda, Gabriel Manek, menetapkan musda deadlock dan kepemimpinan diambil alih pengurus DPD I Partai Golkar NTT.
Ditanya apakah ini settingan untuk menghempaskan paket FRESH (Frengky Saunoah Amandus Nahas)? Amandus cuma tertawa dan meminta pengikut dan akar rumput yang menilai sendiri.
“Tapi dari peristiwa deadlock ini, di tengah keterbatasan dan tantangan yang besar, saya kira kami semakin kuat, semakin solid dan semakin dewasa dalam berpolitik dan berdemokrasi,” kata Amandus.

