Lagi, KBRI Dili Timor Leste, Pulangkan Dua Nelayan Indonesia Yang terdampar di Sacato

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Dua orang nelayan asal kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur berhasil dipulangkan Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili di Oecusse, Timor Leste ke wilayah Indonesia setelah terdampar dengan selamat di perairan Sacato pada pukul 05.00 WTL (pukul 04.00 Wita).

Dalam rilis yang diterima NTTOnlinenow.com pada Rabu (22/07/2020), kedua nelayan selamat masing – masing Yosep Ariyanto Falo (17) dan Fabianus Bitin Berek (16) tahun, keduanya berasal dari Nino, Desa Oepuah, Kec. Biboki Moenleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) Indonesia.

“Mereka berenang sekitar 10 jam tanpa menggunakan bantuan alat apa pun dan ditemukan warga Oecusse, Timor-Leste, terdampar tanpa busana di bibir pantai di perairan Sacato, Desa Nipani, Kecamatan Pante Macassar di Distrik Oecusse, Timor Leste. Warga Sacato segera memberikan pertolongan pertama seperti baju, makanan dan minuman kepada kedua nelayan”, jelas Marya Onny Silaban, Kepala Kantor Penghubung KBRI Dili di Oecusse, Timor Leste.

Lanjutnya, “Perahu motor mereka, yaitu 1 unit perahu motor Youngdon (260 cc) berukuran perahu panjang 12 meter dan lebar 1,5 meter, rusak dan tenggelam di perairan dan belum ditemukan”.

Atas temuan tersebut, Kantor Penghubung KBRI Dili di Distrik Oecusse segera berkoordinasi dengan Komandan Imigrasi Pos Sacato Oecusse, polisi perbatasan (UPF) Oecusse dan kepolisian PNTL Oecusse, serta Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini (BNPP, Komandan Imigrasi, Karantina, Kapospol, Danki Satgas Pamtas RI-TL), dan berhasil memulangkan kedua nelayan ke wilayah Indonesia, melalui PLBN Wini.

Pihak kepolisian nasional Timor-Leste (PNTL) untuk Distrik Oecusse segera melakukan investigasi kepada kedua nelayan. Tim Medis dari Satgas Covid-19 Oecusse turut serta mendampingi untuk memastikan kondisi kesehatan kedua nelayan baik dan tidak terpapar Covid-19.

“Kantor Penghubung melakukan pendampingan kepada kedua nelayan dan memastikan kedua WNI tersebut memperoleh perlindungan di wilayah Timor-Leste dan dapat segera dipulangkan ke Indonesia,” kata Marya Onny Silaban.

Sesuai pengakuan kedua nelayan kepada Kantor Penghubung, bahwa pada hari Sabtu, tanggal 18 Juli 2020, sekitar pukul 07.00 Wita, keduanya berangkat dari perairan Nino, Desa Oepuah, menuju ke perairan Alor. Tujuan mereka bukan untuk mencari ikan melainkan mencari dua nelayan yang hilang melaut dan belum ditemukan sejak tanggal 04 Juli 2020 yaitu kakak beradik Jefrianus Naiheli dan Yani Naiheli, yang merupakan kerabatnya. Mereka sempat bermalam di Pulau Alor mencari kerabatnya tersebut.



Pada hari Selasa, tanggal 21 Juli 2020 sekitar pukul 10.00 Wita, kedua nelayan kembali dari perairan Alor menuju ke perairan Desa Oepuah. Di tengah perjalanan, perahu motor mereka mengalami kerusakan. Karena arus laut dan ombak yang besar, perahu motor akhirnya tenggelam. Sekitar pukul 20.00 wita, kedua nelayan pada akhirnya berenang meninggalkan perahu yang tenggelam dan mencoba berenang ke daratan yang mereka perkirakan sekitar 20 – 25 kilometer.

Keduanya berenang dan terdampar sampai ke perairan Sacato, Desa Nipani, Oecusse, Timor-Leste, sekitar pukul 05.00 WTL hari Rabu tanggal 22 Juli 2020. Sampai di bibir pantai, mereka mencari pertolongan pertama. Warga setempat memberikan pertolongan pertama seperti baju, makanan dan minuman.

Berbeda dengan tahun 2019 yang mana tidak ada kasus nelayan Indonesia terdampar di Oecusse, Timor-Leste, maka sejak Januari 2020 hingga Juli 2020, sudah terdapat empat kasus nelayan asal NTT terdampar di perairan Oecusse dengan total enam orang nelayan yang semuanya selamat dan dapat dipulangkan dengan baik ke Indonesia melalui PLBN Wini.

Baca juga : Terbawa Arus ke Perairan Timor Leste, Dua Nelayan WNI Dideportasi Melalui PLBN Wini

“Memperhatikan peningkatan jumlah kasus nelayan Indonesia terdampar di Oecusse, KBRI Dili akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten di Provinsi NTT dan pihak kepolisian Republik Indonesia di NTT, untuk mencegah lebih banyak nelayan terdampar dan mencegah modus-modus penyelundupan (kriminalitas lintas batas negara) melalui laut,” lanjut Onny Silaban.

Oecusse merupakan wilayah enclave (kantong) di ujung Timor-Leste bagian barat dengan sistem administrasi wilayah otonom. Oecusse satu-satunya distrik dari 13 distrik di Timor-Leste yang diberikan mandat oleh konstitusi Timor-Leste untuk mengatur wilayahnya sendiri sejak tahun 2015. Oecusse berbatasan darat langsung dengan Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Kupang.

Jumlah penduduk Oecusse per 2019 mencapai 66.000 orang dengan 70% penduduk berusia produktif. Mereka hidup tersebar di wilayah pesisir pantai di Pante Macassar sampai ke Citrana, dan wilayah pegunungan di Oesilo dan Passabe, dengan mata pencaharian utama petani, peternak dan nelayan.