Literasi Digital Tingkatkan Pemahaman dan Pengetahuan Teknologi

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Wakil Bupati Belu, J.T Ose Luan membuka Seminar Literasi Digital di Gedung Wanita Betelalenok, Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL, Rabu (4/3/2020).

Seminar untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan literasi digital di Kabupaten Belu bertajuk “Masyarakat Cakap Literasi Digital”.

Kegiatan seminar terlaksana atas kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Tujuan dilaksanakannya literasi digital untuk mengedukasi masyarakat khususnya pelajar dalam memanfaatkan teknologi dan komunikasi dengan menggunakan teknologi digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, mengelolah, dan membuat informasi secara cerdas, kreatif dan produktif.

Wabup Ose Luan mengungkapkan bahwa, saat ini pengguna internet di Indonesia terus bertumbuh dan jumlahnya kian meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan survey dari APJII di awal tahun 2019, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2018 telah mencapai 171,17 juta jiwa dari total 256 juta jiwa atau dengan kata lain, penetrasi internet telah mencapai 64 persen, dan ini bukanlah angka yang kecil.

Dikatakan, semakin tinggi jumlah pengguna internet tidak sebanding dengan tingkat pemahaman terhadap norma dan aturan penggunaan internet sehingga perlu adanya pembinaan dan sosialisasi.

Lanjut Ose, perlu diperhatikan bahwa masyarakat masih belum memahami norma dan aturan yang berlaku di internet yaitu Undang – Undang Nomor 19 tahun 2018 tentang perubahan atas Undang – Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

“Karena itu, pembinaan dan sosialisasi terhadap norma dan aturan tersebut perlu digencarkan agar dalam memanfaatkan teknologi, masyarakat tidak menyalahi norma dan aturan yang berlaku,” pesan dia.

Mantan Sekda Belu itu tambahkan, menguasai kompetensi digital dapat meningkatkan persaingan, memperoleh pekerjaan, partisipasi demokrasi, dan interaksi sosial. Literasi digital akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis-kreatif, tidak mudah termakan oleh isu yang provokatif serta informasi hoaks yang menyesatkan.

Dengan menguasai kompetensi digital diharapkan dapat meningkatkan persaingan memperoleh pekerjaan, partisipasi demokrasi, dan interaksi sosial serta.

“Dengan literasi digital akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis-kreatif, tidak mudah termakan oleh isu yang provokatif, dan informasi hoaks yang menyesatkan,” ucap Ose.

Masih menurut dia bahwa, membangun budaya literasi digital perlu melibatkan peran aktif warga masyarakat serta seluruh unsur elemen secara bersama-sama.

“Menjadi literasi digital berarti memahami kapan dan bagaimana teknologi harus digunakan agar efektif untuk mencapai tujuan positif. Dengan adanya literasi digital, seseorang akan mampu memfilter mana yang baik dan mana yang buruk,” terang Ose.

Kepada para peserta seminar Wabup Belu itu berharap mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru terkait penggunaan teknologi digital, memahami aturan, norma dan etika pemanfaatan teknologi digital serta secara langsung dapat menggunakan teknologi digital secara benar dan bertanggung jawab.

“Literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya. Generasi yang tumbuh dengan akses yang tidak terbatas dalam teknologi digital mempunyai pola berpikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya,” kata dia.

“Oleh karena itu, Diharapkan seluruh peserta yang hadir bisa mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru terkait penggunaan teknologi digital, memahami aturan, norma dan etika pemanfaatan teknologi digital serta secara langsung dapat menggunakan teknologi digital secara benar dan bertanggung jawab,” sambung Ose.

Untuk diketahui, hadir dalam kegiatan seminar itu, Kepala Seksi Perancangan Literasi Digital, Pemberdayaan Informatika, Rangga Adi Negara, Praktisi dan pemerhati Internet dari Mafindo (masyarakat anti fitnah Indonesia), Giri Lumakto sebagai nara sumber.

Selain itu para Pimpinan OPD, Para Camat, Para Lurah, Kepala Desa, Babinsa, perwakilan Babinkamtibmas, Mahasiswa, Guru, dan Pelajar serta para Pemuda di wilayah perbatasan Belu.