BI dan Pemprov NTT Bahas Pengendalian Harga Daging dan Telur

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT melakukan pembahasan terkait pengendalian harga daging ayam ras dan telur ayam ras.

Pembahasan dilaksanakan dalam bentuk Focus Discussion Group (FGD), dan dipimpin Kepala Kantor Perwakilan BI NTT, Naek Tigor Sinaga dilaksanakan pada, Jumat (1/2/2019).

Kegiatan dihadiri juga pihak pemerintah provinsi, masing-masing Lucky dari Bappeda/Tim NTT Bangkit, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Samuel Rebo, Kepala Biro Kerjasama, Lery Rupidara, dan Johny Waleng dari Biro Perekonomian, Tay Renggi dari Dinas Peternakan, Windi dari Dinas Perindustrian dan Frangky Telupere, Akademisi Undana.

Naek Tigor Sinaga saat membuka kegiatan FGD tersebut menyampaikan, daging ayam ras selalu menjadi komoditas pangan penyumbang inflasi tertinggi di NTT pada tengah tahun (libur Idul Fitri dan liburan sekolah) dan serta akhir tahun (Natal dan Tahun Baru) di NTT.

“Bulan Desember 2018, daging ayam ras menyumbang 0,44% dari inflasi Desember yang sebesar 1,84%. Selain menjadi pendorong inflasi, level harga daging ayam ras di NTT juga relatif lebih tinggi dibanding daerah lainnya,” ungkap Sinaga.

Peserta FGD mengamini hal tersebut dan menyampaikan bahwa salah satu alasannya adalah belum adanya industri pakan ternak, sehingga perlu mendatangkan dari daerah lain. Akibatnya harga daging ayam juga otomatis ikut terdorong naik.

Lucky dari Bappeda NTT mengatakan, jumlah produksi daging ayam ras di NTT saat ini baru mencukupi 40% kebutuhan masyarakat. Bahkan untuk telur ayam, masih di bawah 1%, sehingga pemprov sangat fokus untuk melakukan pengembangan.

“Selain itu, juga membuka peluang untuk ekspor ke negara tetangga Timor Leste mengingat kebutuhan daging ayam ras negara tetangga sekitar 80% didatangkan dari Brazil,” katanya.

Terkait kurangnya ketersediaan jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak, Lucky menyebutkan, disebabkan belum adanya faktor pendorong (pull factor) bagi petani yaitu industri pakan ternak sehingga dengan hadirnya industri pakan ternak maka produksi jagung akan meningkat dengan sendirinya.

Dia menambahkan, percepatan industri pakan ternak dan breeding farm merupakan salah satu program prioritas yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTT Tahun 2019 – 2023.

Sementara itu, Windi dari Dinas Perindustrian Provinsi NTT menyebutkan, sebetulnya Pemprov NTT sudah memiliki Roadmap Pengembangan Industri Pakan Ternak pada tahun 2016, namun belum dapat direalisasikan karena terkendala dana.

“Dinas Perindustrian juga telah melakukan upaya diversifikasi pakan ternak dengan bahan-bahan seperti kakoa dan kelapa untuk mengantisipasi kurangnya produksi jagung di Provinsi NTT,” ujarnya.

Tay Renggi dari Dinas peternakan Provinsi NTT, menyampaikan sejumlah permasalahan terkait Percepatan Industri Pakan Ternak dan Breeding Farm di NTT. Dia menyatakan, pihaknya telah melakukan pendekatan kepada perusahaan daging ayam ras dan pakan ternak namun terkendala kurangnya produksi komoditas jagung yang menyebabkan perusahaan enggan mendirikan industri tersebut di NTT.

“Namun saat ini salah satu perusahaan mulai menjajaki untuk mendirikan breeding farm di Sumba,” ungkapnya.

Menanggapi solusi untuk mengurangi biaya pakan ternak dengan penggunaan ruang tol laut, Tay renggi menyampaikan, spesifikasi kapal tol laut itu tidak memungkinkan untuk menggunakan container, sehingga biaya bongkar muat di pelabuhan menjadi lebih mahal.

Pembentukan Tim Percepatan Industri Pakan Ternak dan Breeding Farm yang terdiri dari Pemerintah Provinsi NTT, Akademisi dan Pelaku bisnis dirasakan sangat penting untuk segera dilakukan agar Industri Pakan Ternak dan Breeding Farm di NTT dapat segera terwujud.

Sementara itu pandangan akademisi Undana, Frangky Telupere menyatakan, industri pakan menjadi penting untuk dibangun agar dapat menyediakan pakan ternak murah bagi masyarakat, sehingga mendorong tumbuhnya peternak mandiri.

Pembahasan dalam FGD tersebut menghasilkan sejumlah poin catatan sebagai berikut:

Langkah Jangka Pendek

Pemanfaatan Kapal Tol Laut untuk mengangkut pakan ternak.

Edukasi kepada masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam ras beku sebagai subtitusi.

Mengusulkan pembentukan Tim Percepatan Industri Pangan dan Breeding Farm.

Langkah Jangka Menengah dan Panjang

Melakukan kajian/feasibility study terkait pembangunan industri pakan dan breeding farm.

Menjajaki dan mengundang investor industri pakan dan breeding farm.

Bank Indonesia secara kontinyu akan terus mendukung upaya pemerintah daerah untuk mendorong industri pakan dan breeding farm dapat terwujud.