Kuasa Hukum : Dugaan Pembobolan Rekening Nasabah, Bank NTT “Cuci Tangan”

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Manajemen PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTT dinilai sengaja berupaya melepas tanggung jawab alias ‘cuci tangan’ terhadap dugaan pembobolan dan pencucian uang nasabah senilai Rp 490 juta yang dilakukan oleh mantan Kepala Kantor Kas Oeba, CN pada tahun 2016.

Demikian dikatakan, nasabah Bank NTT, Helda Pellodou, melalui kuasa hukumnya, Ferdy Tahu Maktaen kepada media, Rabu (2/01/2019) menanggapi klarifikasi Kepala Divisi Pengawasan Bank NTT , Kristofel Adoe dalam jumpa pers di Aula Lt.5 Kantor Pusat Bank NTT, Jumat (21/12/18).

Manurut Maktaen, Bank NTT sedang berupaya melepaskan tanggung jawab lembaga menjadi tanggung jawab pribadi mantan Kepala Kantor Kas Bank NTT Oeba, CN. Upaya itu dilakukan dengan cara ‘merayu’ kliennya untuk menandatangani surat pernyataan di atas materai.

“Manajemen Bank NTT berupaya ‘cuci tangan’ dari masalah sebenarnya. Mereka membujuk klien saya untuk menandatangani surat pernyataan yang mereka buat. Isi dari pernyataan itu, mengaburkan masalàh dugaan pembobolan dan pencucian uang senilai Rp 490 juta yang dilakukan oleh CN. Seolah-olah dana Rp 490 juta tersebut juga termasuk pinjam-meminjam antara klien saya dan CN,’ ujar Maktaen.

Ferdy mengakui adanya pinjam-meminjam antara kedua pihak. “Benar bahwa CN meminjam uang dengan total sekitar Rp 1,5 milyar dari kliennya, Ibu Helda. Uang itu kemudian dipinjamkan lagi oleh CN dengan bunga 10 persen per bulan. Tapi masalah uang Rp 490 juta itu, di luar pinjam meminjam antara keduanya. Uang Rp 490 juta itu dibobol CN dari rekening kliennya,” tandasnya.

Maktaen membantah pernyaataan Kepala Divisi Pengawasan Bank NTT yang mengatakan kliennya, Helda Pellodou datang ke Bank NTT pada tanggal 17 Maret 2016 siang menjelang sore. Namun karena bank tutup, slip penarikan uang Rp 300 juta yang sudah ditandatangani dititipkan kepada CN untuk dicairkan esok harinya.

“Penjelasan kepala divisi pengawasan itu tidak benar. Manajemen Bank NTT sedang berupaya menutup-nutupi dan memutar-balikkan fakta yang sebenarnya. Tujuannya agar Bank NTT terbebas dari tanggung jawab lembaga terhadap pembobolan dan pencucuian uang Rp 490 juta tersebut,” tandas Maktaen.

Menurut Maktaen, uang senilai Rp 300 juta tersebut, baru disetor kliennya pada tanggal 17 Maret 2016. “Uang baru disetor ibu Helda hari itu, tidak mungkin dicairkan kembali. Klien saya tidak pernah datangi Bank NTT pada tanggal 17 Maret. Apalagi menandatangani slip penarikan. Aneh ‘kan kalau uang dengan nilai yang sama baru disetor, langsung ditarik lagi. Logikanya dimana?” kritik Maktaen.

Baca juga : Pegawai Bank NTT Diduga Bobol Tabungan dan Lakukan Pencucian Uang Nasabah

Maktaen juga membantah adanya bunga 5 persen dari 2 bilyet deposito senilai Rp 190 juta yang masuk ke rekening kliennya. “Jangankan bunganya, pembukaan 2 bilyet itu tidak pernah dilakukan kliennya. Klien saya menyetor uangnya ke rekening biasa. Kog bisa jadi 2 bilyet deposito? ” paparnya.

Padahal, lanjut Maktaen, untuk membuka biyet deposito dibutuhkan dokumen dan tanda tangan nasabah. ” Juga harus ditandatangani oleh beberapa orang manajen bank, kok bisa ada 2 bilyet deposito atas nama klien saya, padahal dia tidak pernah membuka bilyet itu. Ada apa ini?” katanya.

Selain itu, jelas Maktaen, tantangan manajemen Bank NTT agar pihaknya memproses hukum secara pidana, juga merupakan upaya ‘cuci tangan’ pihak manajemen Bank NTT agar masalah pembobolan dan pencucian uang tersebut, semata-mata menjadi tanggung jawab pribadi mantan Kepala Kantor Kas Bank NTT Oeba, CN.

Maktaen juga menantang pihak manajemen Bank NTT untuk melakukan klarifikasi yang dihadiri kliennya, CN, dan manajemen Bank NTT. “Jadi jangan dengar klarikasi sepihak oleh CN. Klarifikasi harus juga dihadiri klien saya, Ibu Helda. Kami minta dipertemukan dengan CN didepan pengawas Bank NTT,” tantangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, nasabah Bank NTT, Helda Pellodou melalui Kuasa Hukumnya, Ferdy Tahu Maktaen mengungkapkan adanya dugaan kejahatan perbankan yang dilakukan oleh Kepala Kantor Kas Bank NTT Oeba, CN. Kejahatan itu berupa dugaan bobolan nasabah senilai Rp 300 juta dan pencucian uang nasabah sebesar Rp 190 juta.

Sementara pihak Bank NTT melalui Kepala Divisi Pengawasam, Kristofel Adoe dalam keterangan persnya membantah adanya dugaan pembobolan dan pencucian uang oleh CN. “Ini masalah pinjam meminjam uang antar pribadi,” kata Adoe.

CN juga telah dicopot dari jabatannya dan telah menjalani skors dan belum lama kembali bekerja. “Silahkan yang bersangkutan lapor polisi untuk membuktikan siapa uang benar” tantang Adoe.
Sumber : suaraflobamora.com