Gereja GMIT Pertama di Pulau Semau Uiasa Ditahbiskan
Laporan Nyongki Mauleti
Kupang, NTTOnlinenow.com – Setalah direnovasi dengan menelan biaya lebih dari Rp.460 juta, Gereja pertama di Pulau Semau, Jemaat GMIT Sonaf Mole Uiasa, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, ditahbiskan kembali. Kegiatan Penahbisan Gereja yang berdiri pada tahun 1922, dan telah berusia 95 tahun itu Berlangsung pada minggu (08/10/2017).
Penahbisan Gereja Pertama di Pulau Semau itu, dihadri Wakil Bupati Kupang, Korinus Maisneno, Sekertaris Sinode GMIT, Pdt. Nakmofa, Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Ibrahim Un. Nampak hadie juga sejumlah pimpinan SKPD, Tokoh Masyarakat Semau, dan sejumlah Pendeta dari enam Gereja GMIT di Pulau Semau.
Pantauan media ini, Sebelum Ibadah dimulai, sejumlah anggota Majelis Jemaat GMIT Sonaf Mole Uiasa melakukan prosesi yang dibagi dalam tiga kelompok. Prosesi pertama menuju halama gereja yang disertai peniupan Tois yang merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan jemaat untuk melakukan ibadah pada awal pertama Gereja masuk di Pulau Semau, yang dilanjutkan dengan pembukaan selubung Gedung Gereja Jemaat GMIT Sonaf Mole Uiasa. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi dalam rumah ibadah, untuk penyerahan Rumah Kebaktian dan Penahbisan, yang dilanjutkan dengan Prosesi Penyerahan perlengkapan ibadah.
Setelah rangkaian kegiatan prosesi, ibadah Penahbisan Gereja Mola Sonaf Uiasa, dipimpin Oleh Pdt, Mesakh P.
Dalam khotbahnya, Pdt Mesakh P Lebih menguraikan pada soal menanam. Menyiram dan menumbuhkan. Menurutnya, injil sebenarnya sudah masuk ke Kota Kupang pada tahun 1614. Namun penyeberaanya ke Pulau Semua baru terjadi pada tahun 1922, atau 300 tahun kemudian. Padahal dipulau-pulau lain yang jauh dari Kupang, penyebarannya sudah berlangsung dengan tenggang waktu yang tidak terlau lama.
Baca juga : Wagub Benny Litelnoni Resmikan Gedung Gereja Lahairoi Kuanheun
“Ini yang menjadi tanda tanya besar kenapa injil lambat masuk ke Pulau Semau yang jaraknya sangat dekat dengan Kupang. Para pendeta berulangkali menyebarkan kabar lewat injil namun selalu gagal, dan baru pada tahun 1922 injil akhirnya masuk,” katanya.
Menurutnya para pendeta yang coba mengenalkan injil kala itu, berjuang sangat keras. Ibarat membuat kebun baru mereka yang menyiapkan lahan dengan susah payah kemudian menanamnya dengan susah payah pula. Setelah upaya yang dilakukan dengan perjuangan yang tidak ringan, saat ini injil telah berkembang dengan pesat, dan saat ini sudah ada enam Jemaat GMIT yang tersebar di Pulau Semau, sehingga kabar keselamatan ini harus diteruskan, agar setiap orang dipulau semau mau mengakui Yesus sebagai Juru selamat untuk umat manusia.
“Injil Yesus Kristus Seperti kesaksian alkitab adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan dan terus mengawal dalam wilayah keselamatan. Alkitab adalah Allah, pelita bagi kakimu dan suluh pada jalanmu. Itulah jalan keselamatan yang harus disebarkan agar semua orang tahu kebenaran yang sesungguhnya,” ujarnya mengakhiri renungan.

