DPRD Belu Sidak ke Pasar Ikan Temukan Sampah Bau dan berulat

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Wakil Ketua DPRD Belu, Benedictus Hale memimpin langsung inspeksi mendadak (sidak) bersama Ketua Komisi III DPRD Belu, Theodorus F.Seran Tefa los ikan pasar rakyat Atambua, Kelurahan Beirafu, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu, Timor Barat perbatasan RI-Timor Leste, Senin (9/10/2017).

Dalam sidak yang turut dihadiri anggota lintas Komisi DPRD Belu Yeti Bone, Ayu Tantri dan Yane Bone terkejut menemukan tumpukan sampah berserakan dan sampah ulat di samping MCK dalam kompleks los pasar ikan tersebut.

Disaksikan media, terdapat sebuah kotak sampah yang terpampang di belakang MCK. Aroma tak sedap atau bau busuk menyengat dari tumpukan sampah yang tercecer juga tumpakan sampah ulat di salah satu saluran pembuangan sisa-sisa limbah ikan.

“Selama ini habis jualan kami bersihkan sisa kotoran dan dibuang ke kotak sampah, tapi petugas kebersihan tidak langsung angkut dibiarkan sampai dua tiga hari baru angkut sampahnya,” ujar para pedagang dalam dialog bersama DPRD saat melakukan sidak.

Para pedagang mengaku bahwa selama ini mereka selalu melaksanakan kewajibannya membayar retribusi ke pihak petugas. Namun, fasilitas yang disiapkan Pemerintah bagi pedagang seperti kotak sampah dan air tidak memadai.

“Selama ini airnya kami beli sendiri dari oto tanki, padahal kami selalu bayar retribusinya. Kami selalu bersihkan sisa kotoran ikan dan buang ke sampah. Ini bau menyengat karena petugas tidak langsung angkat kotak sampah,” terang mereka para pedagang.

Selain itu Pimpinan DPRD bersama anggota juga melihat langsung bak pengelola sisa limbah ikan yang terletak disamping los pasar ikan. “Ini bak pengelola sisa limbah ikan, tapi selama ini tidak berfungsi,” ujar pedagang yang mendampingi para Dewan.

Baca juga : Merasa Rugi, Pedagang Sayur di Pasar Baru Curhat ke DPRD Belu

Wakil Ketua Bene Hale menyayangkan kondisi di los pasar ikan yang tidak bersih, padahal anggaran yang dikucurkan Pemerintah untuk pengelolaan kebersihan cukup besar. Dia menanyakan bak sampah dorong tapi jawab pedagang tidak ada.

“Kita sudah anggarkan dana besar tapi tidak ada kotak sampah yang disediakan di lokasi pasar. Harusnya satu kotak sampah untuk dua pedagang, tapi kata mereka kotak sampahnya tidak ada,” kata Hale.

Senada Ketua Komisi III, Theo Tefa mengatakan, sangat menyayangkan pengelolaan sampah yang amburadul di los pasar ikan. Selain itu juga retribusi yang tidak seimbang dengan fasilitas dan keamanan para pedagang.

“Apabila sampah dibiarkan begini tidak diangkut itu kan menimbulkan bau dan kesehatan pedagang bahkan pengunjung terganggu,” ujar dia.

Pasar Atambua itu lanjut Theo, ikonnya kota Atambua yang mana pusat perekonomian masyarakat Belu. Sehingga penataan fasilitas serta pengelolaan kebersihan harus terurus dengan baik.

Terkait hal tersebut, DPRD akan mengagendakan guna memanggil instansi teknis yang menangani pengelolaan pasar ikan dan kebersihan bersama dengan para pedagang untuk rapat dengar pendapat.