Butuh Kerja Keras Kurangi Pasokan Beras Dari Luar NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Pemasok utama beras ke Nusa Tenggara Timur (NTT) berasal dari tiga daerah, yakni Sulawesi Selatan dengan pangsa 62,3 persen, disusul Jawa Timur dengan pangsa 23,8 persen dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan pangsa sebesar 7,0 persen. Karena itu, dibutuhkan kerja keras untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor tersebut.

Hal tersebut dikemukakan Gubernur NTT,  Frans Lebu Raya saat menyampaikan arahan pada pertemuan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTT di Ruang Rapat Gubernur, Kamis (6/4).

Gubernur Lebu Raya meminta perhatian serius Dinas Pertanian NTT untuk mengambil langkah-langkah teknis yang diperlukan. Upaya mekanisasi harus terus digalakan oleh Pemerintah Provinsi NTT dengan memberikan bantuan traktor dan alat- alat pertanian kepada petani setiap tahunnya.

“Masih tingginya ketergantungan pasokan dari provinsi lain bagi ketersediaan kebutuhan pokok seperti beras dan ayam pedaging, merupakan suatu tantangan bagi kita. Perluasan areal tanam padi hendaknya diikuti dengan upaya intensifikasi atau peningkatan produktivitas per hektarnya,” katamya.

Lebih lanjut Gubernur dua periode itu mengimbau Dinas Perhubungan NTT agar melakukan upaya-upaya konkret dalam memperpendek jangkauan distribusi bahan-bahan kebutuhan dasar dimaksud dengan mengoptimalkan fungsi pelabuhan-pelabuhan barang pada kabupaten-kabupaten di NTT.

“Upaya memotong jalur distribusi ini diharapkan dapat membuat harga barang-barang tidak melambung tinggi. Kepada Dinas Peternakan NTT dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu NTT, agar proaktif mencari investor di bidang industri pengembangbiakan (breeding) ayam pedaging di Pulau Flores dan Sumba,” tandasnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesian Nusa Tenggara Timur, Naek Tigor Sinaga dalam paparannya mengungkapkan, tingkat inflasi di NTT pada tahun 2016 sebesar 2,48 persen. Angka ini merupakan tingkat inflasi terendah dalam kurun waktu 15 tahun terakhir sejak tahun 2001.

Inflasi NTT ini juga berada di bawah rata-rata inflasi nasional yang sebesar 3,02 persen. Penyumbang inflasi tertinggi adalah tarif angkutan udara dan komoditas pertanian seperti sayur-sayuran, daging dan beras. Pada Tahun 2017, angka inflasi NTT diprediksi pada kisaran 4,1 – 5,1 persen.

“Seturut pengamatan kami selama beberapa tahun, tingkat inflasi tertinggi biasanya terjadi pada triwulan keempat khususnya bulan Desember. Hal ini terutama terkait erat dengan perayaan Natal dan Tahun Baru,” ungkap Tigor.

Pada kesempatan tersebut Kepala Divisi Regional (Divre) Bulog NTT, Sugeng Rahayu memaparkan, persediaan beras di NTT untuk empat bulan ke depan masih aman. Tersedia sekitar 450 ribu lebih ton beras yang tersimpan pada gudang-gudang bulog di seluruh NTT.

“Bulog juga telah diizinkan untuk membeli beras petani di atas harga rata-rata yang ditetapkan pemerintah  sebesar Rp.7.200 per kg, disesuaikan dengan kualitas berasnya. Kita juga terus mendorong petani untuk memasok beras premium ke pasaran. Nama dan kemasannya akan difasilitasi oleh Bulog. Bulog sudah memiliki merek beras premium sendiri yang dinamakan Beras Bulog Kita,” pungkasnya.