Tragis, Wanita Hamil Mudah di Habisi Suaminya

Bagikan Artikel ini

Laporan Marten Don
Ruteng, NTTOnlinenow.com – Maria Yane Agustuti (Tuti atau Amanda) adalah Wartawati Palu Ekspres yang meninggal dunia karena dianiaya suaminya sendiri, Yohanes Sandipu warga asal Poso Sulawesi Tengah hingga tewas.

Kejadiannya, Jum’at (16/3/2017) sekitar pukul 11.00 wita (malam) di kamar kosnya yang beralamat di jalan Karoya Palu Selatan.

Pertama kali ia ditemukan oleh saudara kandungnya bernama Frans.

Pasalnya, sesaat sebelum kejadian itu, korban bersama suaminya sempat bertengkar gara-gara uang yang hilang. Namun pertengkaran suami isteri ini cepat diredam oleh Frans ketika itu.

Karena merasa persoalan keduanya sudah selesai maka Frans pun kembali kekediamannya.

Selang beberapa jam kemudian, Frans kembali lagi kekos kakaknya itu (Alm. Amanda) untuk memastikan situasi. Namun setibanya ia disana, pintu kos dalam posisi terkunci. Frnas kemudian memanggil dan meneleponnya, tetapi rupanya tak ada jawaban.

Karena merasa ada firasat aneh terpaksa olehnya pintu kamar dibuka paksa dengan menggunakan obeng.

Betapa terkejutnya ia karena mendapati kakaknya dalam keadaan meninggal dunia.

Ia pun sempat berupaya menyelamatkan nyawah kakaknya itu dengan mengahantarnya ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis, namun upaya itu rupaya sia-sia keselamatan tidak berpihak padanya.

Oleh keluarganya kasus itu dilaporkan kepihak berwajib untuk diproses hukum.

Setelah menghabisi nyawah isterinya itu, Pelaku Yohanes melarikan diri.

Alhasil beberapa waktu kemudian, aparat kepolisian setempat berhasil menangkap pelaku dan mengamankannya untuk diproses lebih lanjut.

Sedangkan Jazad korban kini telah antarkan ke kampung halamannya di kampung Ka Redong Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT.

Rasa haru mewarnai prosesi jenazah Amanda tiba dirumah duka di Kampung Ka Redkng Ruteng pada, Kamis 16 Maret 2017 malam. Isak tangis keluarga pecah saat jenazah almarhumah Amanda tiba. Tampak saudara kandung korban, Pastor Qwirinus Soetrisno, SVD yang bertugas di Paroki ST. Fransiskus Nias Sumatera Utara mendampingi jenazah adik saudarinya itu.

Disela-sela kedukaan itu, Pastor Trisno kepada wartawan mengatakan, ini persoalan yang menjadi bagian dari keseharian hidup manusia. Isu kejadian dimana-mana, kekerasan terhadap kaum perempuan bahkan ditempat kita semacam ini, kita harus mengatakan secara jujur, hanya karena belum disoroti oleh media dan belum adanya pertobatan yang betul-betul radikal dari kaum laki-laki khususnya, sehingga masalah ini sepertinya lingkaran setan yang berulang-ulang terus.

Tuti ini, lanjut Dia, menjadi sentral perhatian dari banyak mass media bahkan mereka mengatakan bahwa isu ini menjadi isu nasional.

Menurutnya ini tidak salah karena kasus ini menyita perhatian dari semua pihak termasuk agama.

Bayak sekali para pejuang wanita yang terlibat disitu. Bukan hanya pada level itu saja tetapi juga bermain hubungan kasih dialog antar umat beragama karena disitu hadir begitu banyak kaum permpuan berkerudung yang mempunyai satu gerakan yang sama untuk penghapusan kekerasan terhadap kaum perempuan.

“Saya sangat mengapresiasi hal ini bukan dari sisi kesedihan. Meskipun secara normal kodrati, emosi ini terikat keras dan kuat dengan adik (Alm. Amanda). Secara fisik dia tidak bisa hadir lagi, tetapi secara spiritual dia hadir memberikan kesan yang kuat bagi dunia untuk berani berbicara tentang kesetaraan gender antara kaum pria dan wanita,” tandasnya.

Kematian dia juga menjadi gambaran orang untuk mengingat kembali panggilan awal Allah membentuk manusia yaitu bahwa kaum perempuan diangkat, diciptakan dan ditempatkan dalam posisi sejajar dengan laki-laki.

Budaya patrial yang telah membesarkan kita ini, kata dia, jangan sampai membutakan akal sehat kita sehingga kaum laki-laki terlalu mendominasi kaum perempuan.

Kasus yang telah menimpa adiknya itu, yang benar-melecehkan kaum perempuan adalah pertama, dia (korban) adalah wartawati yang cukup disegani di Propinsi bahkan dilevel atas dan porsi perhatiannya itu selalu menjadi modal perjuangannya dia yaitu tekanannya pada KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Tetapi ironis perjuangannya pada KDRT justeru dia sendirilah yang menjadi korbannya.

Tentang pelaku, ia berharap agar mendapat pengampuan dari Tuhan.

“Pelaku itu juga adalah milik Tuhan. Maka dia juga harus diampunim tetapi tidak berarti di bebaskan dari objek tindakannya yang salah karena mengampuni dalam Kekristenan itu adalah sesuatu yang menjadi keharusan.

Kepada aparat penegak hukum keluarga korban berharap agar kasus ini ditangani secara serius sampai tuntas dan kepada para pelaku mereka berarap agar mendapat hukuman setimpal untuk memeberikan efek jera kepada yang lain sehingga tidak ada lagi Manda atau Tuti yang lainnya nanti.