Siswa SD Tewas Tenggelam di Pantai Lamba Manggarai Timur

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Seorang siswa sekolah dasar (SD) yang diduga tidak bisa berenang tewas tenggelam saat sedang bermain dan berenang di kawasan Pantai Lamba, Kabupaten Manggarai Timur, Kamis (9/2/2017).

Korban tewas tenggelam itu diketahui bernama Rosniani Taeng (7), pelajar kelas II SDI Waewole, asal Lekolembo, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Dari informasi yang dihimpun NTTOnlinenow.com menyebutkan, kejadian tenggelamnya pelajar SD itu berawal saat korban datang ke pantai bersama temannya yang juga sebagai saksi yang bernama Finsensius Galang (7) untuk bermain dan berenang dengan menggunakan gabus.

Sekitar pukul 10.30 Wita, korban pulang dari sekolah dan langsung ke rumah neneknya, Kristina Dhiu untuk mengganti pakaian seragam sekolah. Selanjutnya korban kerumah bibinya, Anjelina Munde untuk makan siang. Sesudah itu, korban pamit pada bibinya untuk pergi bermain.

“Korban berangkat menuju Pantai Lamba dan bertemu dengan saksi Finsensius Galang, korban bersama saksi langsung berenang dengan menggunakan gabus,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Timur, Antonius Dergong.

Baca : Lalulintas Ruteng Labuan Bajo Lumpuh Total Akibat Longsor

Namun, karena keadaan gelombang gabus yang digunakan tersebut terbalik. Saksi bersama korban langsung melompat dan berenang ke tepi pantai. Saksi Finsensius berenang mendahului korban sambil menoleh dan memanggil-manggil korban. Karena tidak bisa berenang, korban tenggelam.

Melihat hal tersebut, saksi Finsensius langsung pergi ke perkampungan untuk meminta bantuan warga, dan saat itu ia bertemu dengan saksi Junaidin Yusuf (23) dan Adrian Yusuf (26). Mendengar kabar tersebut, kedua saksi tersebut langsung berangkat ke Pantai Lamba untuk menolong korban.

“Setibanya saksi di Pantai Lamba, saksi mendapatkan korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa dan dalam posisi terapung dengan sikap tubuh posisi perut terlentang ke atas. Saksi membawa korban ke pinggir pantai yang sudah banyak di kerumuni warga. Selanjutnya korban di bawah ke puskesmas Waelengga,” ujarnya.

Dia menambahkan, pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi terhadap jenazah dan menerima kematian korban dengan iklas sebagai suatu bencana.