Perjuangan Pelajar di Ujung Negeri Belu-Timor Leste Yang Rela Jalan Kaki 4 KM Untuk Sekolah
Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Semangat para pelajar Indonesia di ujung negeri wilayah perbatasan Belu dan Timor Leste untuk meraih pendidikan tidak surut. Meski harus rela berjalan kaki sejauh 4 kilo meter melewati bukit dan mengarungi sungai untuk sekolah, para pelajar yang tinggal di daerah terpencil dan tertinggal Dusun Manekiik, Desa Sarabau wilayah Timor Barat ini tetap berjuang untuk meraih impian dan cita-cita.
Kisah potret perjuangan para pelajar di tapal batas negeri ini bukti bahwa masih kurangnya perhatian Pemerintah Indonesia terhadap kebutuhan pelayanan Pendidikan bagi warga di daerah terpencil dan tertinggal. Miris, generasi masa depan di tepian negeri ini tetap berjuang untuk meraih pendidikan meski harus melawan jarak yang cukup jauh di bawah teriknya panas matahari maupun saaat musim penghujan.
Kurang lebih 50-an pelajar tingkat Sekolah Dasar yang tinggal menetap di Dusun Manekiik, Desa Sarabau yang dibatasi sungai dengan Negara RDTL itu terpaksa harus mengenyam pendidikan pada Sekolah Dasar Inpres (SDI) Asulait batas dengan Desa Sadi yang berjarak 4 kilo meter. Untuk sampai ke sekolah dari tempat tinggalnya dibutuhkan kurang lebih 2 jam, sebab para pelajar harus menempuh jalan melewati bukit, mengarungi sungai dan melewati lembah hingga demikian sebaliknya sepulang sekolah.
Dibalik semangat yang teguh para pelajar yang kelasnya berpariasi dari tingkat satu hingga enam itu membuahkan hasil, dimana beberapa pelajar termasuk peraih rangking lima besar. Potret semangat anak-anak bangsa di garis batas Kabupaten Belu dan Timor Leste yang sederhana meski sebagian hanya beralas sandal dalam menimba ilmu untuk meraih harapan di masa depan patut dicontohi generasi muda yang berada di daerah lain.
“Jarak tempat tinggal kami dengan sekolah cukup jauh. Tapi bagi kami rasa tidak terlalu jauh, karena kami sudah biasa setiap hari ke sekolah dan pulang ke rumah hanya jalan kaki,” ucap Fabianus Edu salah seorang pelajar dalam perbincangan sepulang sekolah siang di jalur Asulait, Sabtu 22 Oktober 2016.
Baca: Pemerintah NTT Usulkan Sonbai Jadi Pahlawan Nasional
Pelajar kelas enam Sekolah Dasar Inpres tersebut menuturkan, meski jarak yang jauh dari rumah ke sekolah tidak membuat mereka patah semangat untuk mendapatkan pendidikan. Setiap pagi akan berangkat ke sekolah, mereka harus berkumpul baru kemudian menuju ke sekolah. Terkadang diantara mereka ada yang diantar oleh orang tua, tapi tidak setiap harinya.
“Kami ke sekolah selalu bersama-sama. Kalau ada kelas yang sudah selesai pelajaran akan tunggu yang lain, setelah itu baru pulang ke rumah sama-sama. Kalau musim hujan kami tidak bisa ke sekolah karena kalinya banjir. Kalaupun pas di sekolah, kami harus menginap di keluarga yang ada di Asulait,” kisah Edu.
Dikatakan, jarak antara kampung Manekiik dengan Asulait lebih dekat ketimbang jarak dengan kampung Sarabau. Dengan dibukanya akses jalan sabuk perbatasan sangat membantu mereka untuk pergi kesekolah. Sebagian besar anak-anak Dusun Manekiik memilih sekolah di SDI Asulait karena lebih dekat dan akses jalan yang mendukung. Kendala ke sekolah selama ini tidak ada, hanya mereka berhati-hati dengan kendaraan saat berjalan di jalan raya.
“Sekolah di Asulait lebih dekat daripada di Sarabau cukup jauh,” ujar dia sembari ditambah pelajar lain yang berharap ada kepedulian dan perhatian dari Pemerintah dalam mendukung pendidikan bagi mereka di wilayah perbatasan.

