Media Massa Berperan Bentuk Peradaban Damai

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Pemberitaan media massa dewasa ini menjadi penting dan berperan membentuk peradaban damai dalam tataran keberagaman hidup berbangsa dan bernegara.

Hal ini mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Peace Journalist Community Kupang (PJCK) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kupang, Sabtu (26/8) di Kupang. Diskusi itu mengambil tema “Workshop Penulisan Tentang Isu Keberagaman.”

Penasehat Solidaritas Korban Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (Sobat KBB) Nusa Tenggara Timur (NTT), Pdt. Emy Sahertian mengatakan, pers atau media massa saat ini menjadi arus informasi dan tonggak peradaban.

“Oleh masyarakat kita saat ini, media massa maupun media sosial dijadikan sebagai sarapan pagi hingga sarapan saat menjelang tidur malam, karena aktivitas dan kebutuhan orang membaca berita atau informasi,” katanya.

Menurut Pendeta Emy, kemajuan teknologi dan arus informasi sangat penting dan turut mempengaruhi serta membentuk konstruksi juga relasi di masyarakat, bahkan ikut membentuk peradaban dunia baru.

“Namun dampak lain yang lebih parahnya lagi bahwa dari konsumsi informasi dari semua level ini juga turut mempengaruhi regulasi,” katanya.

Pendeta Emy yang juga membidangi Advokasi dan Perdamaian Sinode GMIT ini mengungkapkan, peranan media massa dan pemberitaan di abad ini sudah seperti buku suci baru. Karena itu, media dituntut untuk berperan sebagai pembentuk peradaban damai dan bukan sebagai penabur bibit-bibit konflik.

“Karena dari pemberitaan media atau suguhan bacaan-bacaan yang dikonsumsi publik ini kemudian dipakai sebagai acuan untuk bersikap dan berprilaku. Jangan sampai media justru menjadi provkator melalui kata, ungkapan dan statement yang dimunculkan dalam berita,” ujarnya.

Sementara itu, Jhon Mau, perwakilan dari Yayasan Tanpa Batas (YTB) lebih menekankan pada isu tentang kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang marak menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat belakangan ini.

Jhon Mau yang akrab disapa Joe mengatakan, dalam konteks keberagaman harus dipahami secara utuh, sehingga tidak menimbulkan sikap antipati atau diskriminasi terhadap kelompok-kolompok minoritas dalam masyarakat.

Menurutnya, kaum minoritas sesungguhnya tidak menuntut legalitas atau pengakuan dari pihak manapun, dan yang diinginkan adalah menempatkan nilai kemanusiaan dalam memandang orientasi yang berbeda dari manusia lain.

“LGBT tidak menuntut legalitas, yang diminta adalah dihargai sebagai manusia. Jika ada perilaku kaum LGBT yang dianggap kebanyakan orang salah, maka yang disoroti seharusnya adalah tindakan atau perbuatannya, bukan karena orientasinya yang berbeda,” kata Joe.