Kolaborasi Kementrans dan ITS Pulihkan Jaringan Air Bersih untuk 59 KK di Desa Dafala-Belu
Laporan Yan Manek
Atambua,NTTOnlinenow.com-Upaya menghadirkan akses air bersih yang lebih layak bagi masyarakat kawasan transmigrasi Tasifeto Mandeu di Desa Dafala, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL mulai menunjukkan hasil nyata.
Kurang lebih tiga bulan, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 24 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama masyarakat Sanabibi, Desa Dafala, bergotong royong merevitalisasi jaringan air bersih yang sebelumnya mengalami kebocoran dan penurunan debit aliran.
Program yang didukung Kementerian Transmigrasi ini menjangkau kebutuhan air bersih bagi 59 kepala keluarga tidak sekadar memperbaiki jaringan pipa, tetapi juga memulihkan sistem distribusi air mulai dari kawasan mata air hingga titik penampungan warga.
Melalui pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat dan penanganan langsung terhadap kerusakan di lapangan, program ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan keandalan layanan air bersih di kawasan transmigrasi Tasifeto Mandeu, Desa Dafala.
Revitalisasi dari mata air hingga rumah warga sebelum perbaikan dilakukan, sejumlah bagian jaringan air mengalami kebocoran yang berdampak pada lambatnya pengisian bak penampungan.
Kondisi tersebut mendorong perlunya penanganan menyeluruh, bukan hanya mengganti pipa yang rusak melainkan juga memperkuat bagian-bagian infrastruktur yang rentan mengalami kerusakan berulang.
Menurut Prof. I.D.A.A Warmadewanthi selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan, selama pelaksanaan program, tim bersama warga melakukan serangkaian pekerjaan teknis, meliputi perbaikan kawasan mata air, pembenahan broncapt atau bangunan penangkap mata air, serta pembangunan tanggul penahan untuk mendukung perlindungan area sumber air.
Perbaikan juga dilakukan pada jaringan pipa HDPE sepanjang kurang lebih tiga kilometer, termasuk penanganan titik-titik kebocoran dan penyambungan pipa galvanis pada bagian yang membutuhkan perlindungan tambahan.
Warmadewanthi menyampaikan, untuk menjaga kontinuitas jaringan ketika melintasi sungai, tim turut membangun jembatan penyangga menggunakan sistem sling sebagai penopang pipa.
“Infrastruktur ini dirancang untuk membantu melindungi jalur pipa pada titik penyeberangan yang berpotensi mengalami gangguan akibat kondisi medan dan lingkungan,” ujar dia dalam keterangan persnya, Minggu (25/10/2026).
Dituturkan, pekerjaan dilanjutkan dengan perbaikan kran hidran umum serta pengadaan 59 unit penampung air untuk rumah warga. Dengan demikian, penanganan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari sumber air, jaringan transmisi, titik rawan kerusakan, hingga fasilitas penampungan di tingkat rumah tangga.
Dampak revitalisasi dirasakan langsung oleh masyarakat. Kepala Dusun Buburla, Oktoviana menyampaikan bahwa program yang dipimpin oleh Prof. Ir. IDAA Warmadewanthi melalui dukungan Kementerian Transmigrasi tersebut sangat bermanfaat bagi warga.
Menurut dia, sebelum jaringan diperbaiki, pengisian satu bak penampungan dapat membutuhkan waktu hampir satu jam atau lebih. Setelah perbaikan dilakukan, waktu pengisian menjadi sekitar 30-40 menit.
“Dulu, untuk mengisi satu bak penampungan, waktunya bisa hampir satu jam lebih. Setelah dilakukan perbaikan, sekarang sekitar 30 sampai 40 menit sudah bisa penuh, jadi saya ucapkan terima kasih pada Kementrans yang dalam hal ini dipandu oleh Prof Warma dan tim,” ungkap dia.
Berdasarkan keterangan tersebut, waktu pengisian bak berkurang sekitar 20-30 menit dibandingkan dengan kondisi sebelumnya yang mendekati satu jam. Jika dibandingkan dengan patokan waktu 60 menit, pengurangan tersebut setara dengan sekitar 33-50 persen. Namun, besarnya peningkatan kinerja secara keseluruhan tetap bergantung pada kondisi awal setiap titik, kapasitas bak, dan debit aliran yang tersedia.
“Perubahan ini menjadi indikator awal bahwa perbaikan jaringan memberikan manfaat operasional bagi masyarakat. Aliran air yang lebih lancar diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, sekaligus mengurangi waktu tunggu warga untuk memperoleh air,” terang Oktoviana.
Sementara itu, Tim Lapangan Ekspedisi Patriot 24 ITS menjelaskan bahwa, pekerjaan revitalisasi dilakukan berdasarkan hasil survei lapangan dan kebutuhan nyata warga Sanabibi. Pendekatan ini digunakan untuk menentukan titik kerusakan yang perlu diprioritaskan agar penanganan dapat memberikan manfaat secara langsung.
“Perbaikan ini berangkat dari kebutuhan masyarakat dan kondisi aktual jaringan di lapangan. Sebelum pekerjaan dimulai, kami melakukan survei untuk mengidentifikasi titik kebocoran serta bagian jaringan yang rawan mengalami kerusakan. Karena itu, penanganannya tidak hanya memperbaiki pipa yang bocor, tetapi juga memberikan perlindungan tambahan pada titik titik terlentu, termasuk menggunakan pipa galvanis dan membangun penyangga pipa di area penyeberangan sungai,” sebut Ipung Wisnu.
Tambah dia, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Pekerjaan dilakukan secara gotong royong agar warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat dalam proses pembangunan dan memahami kondisi infrastruktur air di lingkungannya.
Kolaborasi tersebut mempertemukan kebutuhan teknis dengan pengetahuan lokal masyarakat. Warga membantu pelaksanaan pekerjaan di lapangan, sementara tim melakukan identifikasi masalah dan penanganan infrastruktur berdasarkan kondisi jaringan yang ditemukan.
Revitalisasi jaringan air bersih di Desa Dafala menunjukkan bahwa peningkatan akses air tidak selalu harus dimulai dengan membangun sistem baru secara keseluruhan. Dalam kondisi tertentu, pemulihan infrastruktur yang sudah tersedia melalui survei, perbaikan terarah, dan penguatan titik rawan kerusakan dapat menjadi langkah yang relevan untuk meningkatkan pelayanan.
Bagi kawasan transmigrasi Tasifeto Mandeu, program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat infrastruktur dasar yang menopang kehidupan masyarakat. Jaringan yang lebih terawat diharapkan mampu mendukung kebutuhan domestik warga, sementara keberlanjutan manfaatnya memerlukan pemeliharaan rutin, pemantauan kebocoran, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga sumber dan saluran air.
Dengan sasaran 59 kepala keluarga, perbaikan jaringan pipa sepanjang kurang lebih 3 kilometer, serta pembenahan fasilitas dari mata air hingga penampungan rumah tangga, program Ekspedisi Patriot 24 ITS bersama masyarakat Sanabibi memperlihatkan pentingnya pembangunan berbasis kebutuhan lokal.
Lebih dari sekadar pekerjaan infrastruktur, revitalisasi ini menjadi wujud kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menjawab persoalan mendasar di kawasan transmigrasi: menghadirkan akses air bersih yang lebih lancar, lebih andal, dan lebih berkelanjutan.

