Mengapa Investor Membutuhkan Hasil Sensus Ekonomi?
Oleh: Amudi Pandapotan Saragih, SST., S.Ak., M.M.
Data Berkualitas Menjadi Kompas Investasi
Setiap investor memiliki satu pertanyaan mendasar sebelum menanamkan modalnya: Apakah wilayah yang akan menjadi tujuan investasi benar-benar memiliki potensi untuk berkembang? Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak cukup diperoleh dari asumsi atau pengamatan sesaat. Investor membutuhkan data yang akurat, lengkap, dan dapat dipercaya. Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menjadi sangat penting.
Sensus Ekonomi 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bukan sekadar kegiatan pendataan rutin yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Lebih dari itu, sensus ini merupakan upaya nasional untuk menghadirkan gambaran utuh mengenai kondisi perekonomian Indonesia sebagai dasar transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
Bagi investor, data bukan hanya sekumpulan angka. Data adalah kompas yang membantu menentukan arah investasi.
Ketika sebuah perusahaan ingin membuka pabrik baru, membangun hotel, memperluas jaringan perdagangan, atau mengembangkan usaha digital, mereka harus mengetahui bagaimana struktur ekonomi suatu daerah, sektor usaha apa yang berkembang, bagaimana karakteristik pelaku usaha, hingga peluang pasar yang masih terbuka. Sensus Ekonomi 2026 menjadi sumber utama penyediaan informasi tersebut sehingga mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai kondisi dunia usaha di suatu wilayah.
SE2026 tidak hanya menghitung jumlah usaha. Pendataan juga mencakup karakteristik usaha, skala usaha, lapangan usaha, kondisi kewilayahan, penggunaan teknologi digital, ekonomi kreatif, ekonomi lingkungan, permodalan, investasi, hingga kendala dan prospek usaha. Data yang komprehensif ini menjadi dasar penting dalam menyusun strategi investasi yang lebih terukur dan minim risiko.
Potensi NTT yang Terpetakan Melalui Sensus Ekonomi
Sebagai contoh, jika investor ingin mengembangkan industri pengolahan hasil laut di Nusa Tenggara Timur, mereka tentu perlu mengetahui daerah mana yang memiliki aktivitas usaha paling besar, bagaimana karakteristik pelaku usahanya, bagaimana pemanfaatan teknologi digital, serta bagaimana kondisi dunia usaha di wilayah tersebut. Data seperti inilah yang dihasilkan oleh Sensus Ekonomi.
Bagi Provinsi NTT, data tersebut memiliki arti yang sangat strategis. Sebagai daerah kepulauan dengan karakteristik ekonomi yang beragam, setiap kabupaten memiliki potensi unggulan yang berbeda. Kabupaten Manggarai Barat berkembang sebagai kawasan pariwisata internasional, Flores Timur memiliki aktivitas perdagangan dan perikanan yang terus tumbuh, sementara Kota Kupang berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa. Potensi-potensi tersebut memerlukan data yang akurat agar dapat diterjemahkan menjadi peluang investasi yang nyata.
Hasil Sensus Ekonomi 2016 memperlihatkan besarnya potensi dunia usaha di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tercatat sebanyak 432.673 usaha/perusahaan beroperasi di NTT, terdiri atas 430.312 Usaha Mikro dan Kecil (UMK) serta 2.361 Usaha Menengah dan Besar (UMB). Dengan demikian, sekitar 99,45 persen kegiatan usaha di NTT didominasi oleh UMK. Kota Kupang menjadi daerah dengan jumlah usaha terbanyak, yakni 44.100 usaha yang terdiri atas 43.201 UMK dan 899 UMB. Sebaliknya, Kabupaten Sumba Tengah mencatat jumlah usaha paling sedikit, yaitu 3.388 usaha, terdiri atas 3.380 UMK dan 8 UMB. Gambaran ini menunjukkan bahwa denyut perekonomian NTT masih bertumpu pada usaha-usaha skala kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Bagi investor, informasi tersebut menjadi referensi penting untuk mengidentifikasi peluang kemitraan dengan UMKM, memperkuat rantai pasok, sekaligus mengembangkan investasi yang sesuai dengan karakteristik ekonomi daerah.
Melalui SE2026, data yang dihasilkan akan semakin lengkap. Tidak hanya mencakup jumlah usaha, tetapi juga informasi mengenai pemanfaatan teknologi digital, aktivitas ekonomi kreatif, kondisi permodalan, jumlah tenaga kerja, hingga berbagai karakteristik usaha lainnya. Informasi tersebut akan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan pembangunan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap iklim usaha di NTT.
Sukseskan SE2026, Bangun Kepercayaan Investor
Saat ini, pendataan lapangan SE2026 sedang berlangsung secara serentak di seluruh Indonesia mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Di Provinsi NTT, kegiatan ini dilaksanakan di 21 Kabupaten dan 1 Kota dengan melibatkan 5.437 Petugas Pencacah Lapangan (PPL) dan 805 Petugas Pengawas Lapangan (PML). Seluruh proses pendataan dikoordinasikan oleh pegawai BPS Provinsi NTT bersama seluruh BPS Kabupaten/Kota se-NTT.
Sayangnya, di tengah pelaksanaan pendataan masih dijumpai responden yang menolak didata dengan berbagai alasan. Ada yang merasa tidak memiliki waktu, ada yang khawatir data usahanya berkaitan dengan perpajakan, bahkan ada yang belum memahami manfaat Sensus Ekonomi. Padahal, setiap usaha yang tidak tercatat akan mengurangi kelengkapan data dan membuat potret perekonomian NTT menjadi kurang utuh. Akibatnya, kualitas statistik yang dihasilkan ikut menurun sehingga dapat memengaruhi ketepatan kebijakan pembangunan maupun informasi yang dibutuhkan investor.
Sebetulnya masyarakat tidak perlu khawatir ketika petugas BPS datang melakukan pendataan. Data yang dikumpulkan tidak berkaitan secara langsung dengan pajak, audit, ataupun penegakan hukum. Sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, seluruh informasi yang diberikan responden dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk menghasilkan statistik resmi dalam bentuk agregat. Identitas maupun data usaha setiap responden tidak akan dipublikasikan.
Keberhasilan Sensus Ekonomi bukan hanya menjadi tanggung jawab BPS, melainkan tanggung jawab kita bersama. Setiap jawaban yang diberikan oleh pelaku usaha akan menjadi bagian penting dalam menyusun potret ekonomi NTT. Data yang berkualitas akan membantu pemerintah merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran, sekaligus meningkatkan keyakinan investor untuk menanamkan modalnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Ketika investasi tumbuh, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Industri baru bermunculan, usaha lokal berkembang, lapangan kerja semakin terbuka, pengangguran berkurang, dan pendapatan masyarakat meningkat. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat akan bermuara pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Karena itu, mari sukseskan Sensus Ekonomi 2026. Terimalah petugas BPS yang datang ke tempat usaha, berikan informasi yang benar sesuai kondisi usaha, dan yakinlah bahwa data yang disampaikan aman serta dijaga kerahasiaannya. Sebab, dari data yang berkualitas lahir kepercayaan, dari kepercayaan tumbuh investasi, dan dari investasi tercipta masa depan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang semakin maju, sejahtera, dan berdaya saing.
(Amudi Pandapotan Saragih, SST., S.Ak., M.M. Statistisi Ahli Muda, BPS Provinsi NTT)

