Sakramen sebagai Sumber Harapan di Tengah Krisis Sosial Masyarakat Zaman Ini
Oleh Kanisius Miltiades Tampani
Beberapa waktu belakangan ini, berbagai macam persoalan mulai dari bidang ekonomi hingga hidup sosial masyarakat Indonesia sedang tidak baik-baik saja. dengan sejarah masa lalu, dimana nilai- nilai ideologi bangsa, sosial, budaya, dan nilai-nilai agama kurang mendapatkan perhatian yang selayaknya, kebhinekaan dalam kesatuan mulai memudar, dan pembangunan spiritual serta material belum mencapai tujuan yang diinginkan karena berjalan tersendat-sendat. Terjadi berbagai macam ketimpangan dalam keberlangsungan hidup masyarakat di mana orang-orang mengalami kemerosotan dalam bidang sosial, ekonomi, hidup moral dan bidang lainnya.
Dampak dari hal ini berujung pada kehidupan dan relasi dalam masyarakat yang menjadi luntur akibat berbagai macam terpaan masalah. Masalah seperti ketimpangan sosial dan ekonomi, individualisme yang semakin meningkat serta masalah intoleransi yang kian terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini. Di tengah berbagai masalah ini, semua orang membutuhkan bentuk pengharapan paling nyata dalam mengatasi hal-hal tersebut atau setidaknya mampu memberi suatu angin segar dalam melewati berbagai tantangan ini. Umat Kristiani mampu menjawabnya dengan berpegang pada pengajaran Gereja mengenai Sakramen sebagai sumber pengharapan.
Pemaknaan Sakramen dalam Gereja tidak terbatas pada makna liturgis sebagai suatu ritual yang biasa dilaksanakan oleh umat Kristiani. Sakramen yang dipahami seperti ini akan mempersempit makna sesungguhnya dari Sakramen. Sakramen merupakan sumber pengharapan bagi umat sekalian dalam menghadapi berbagai macam persoalan dalam hidup. Dokumen Konsili Vatikan II dalam hal ini Sacrosanctum Concilium menegaskan bahwa Sakramen menghadirkan dan memancarkan pengharapan akan keselamatan kekal dalam Allah. Maka, dengan Sakramen semua orang dapat dengan teguh menghadapi semua tantangan dan krisis yang sedang terjadi saat ini dan tetap berpegang bahwa semua masalah ini tidaklah sulit bila Allah senantiasa menyertai umat-Nya dengan kehadiran nyata dalam Sakramen.
Sakramen dalam pandangan Gereja Katolik didefinisikan sebagai tanda dan sarana yang menghadirkan rahmat Allah pada manusia. Sakramen merupakan media yang kelihatan untuk menghadirkan rahmat Allah yang tak kelihatan. Singkatnya bahwa Sakramen merupakan media perjumpaan antara Allah dan manusia. Kata Sakramen sendiri berasal dari kata Sacramentum dalam bahasa Latin yang berarti hak-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang kudus dan ilahi. Dalam dokumen Katekismus Gereja Katolik Sakramen dijelaskan sebagai tanda rahmat yang ditetapkan Kristus dan dipercayakan kepada Gereja dan melaluinya manusia memperoleh rahmat keselamatan Allah. Jadi, Sakramen merupakan tanda kelihatan yang menghadirkan rahmat Allah yang tak kelihatan pada manusia.
Krisis yang sedang terjadi di Indonesia sekarang pada dasarnya berakar pada krisis moral dan kemanusiaan. Praktik korupsi yang seringkali terjadi di kalangan elite pemerintah menandakan sedang terjadinya suatu kemunduran dalam integritas dan kejujuran. Martabat manusia seolah seolah dilunturkan dengan berbagai ketidakadilan sosial yang terjadi dalam setiap pelanggaran yang dilakukan oleh berbagai oknum yang tidak bertanggung jawab. Imbasnya rakyat yang seharusnya diperhatikan malahan diplot menjadi korban dari perbuatan yang tidak bertanggung jawab tersebut. Dari berbagai pelanggaran ini akhirnya membuat banyak orang mulai kehilangan kepercayaan, rasa aman dan harapan yang seharusnya dijamin. Dalam situasi seperti ini, umat kristiani tidak seharusnya berdiam diri dan bersikap pasif. Iman kristiani menuntut suatu keterlibatan yang nyata dalam menghadirkan pengharapan di tengah-tengah berbagai krisis yang sedang terjadi ini. Iman yang sejati harus mampu menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah yakni kasih, persaudaraan, keadilan, dan perdamaian.
Berbagai krisis inilah yang kemudian mulai perlahan menggerus pengharapan dalam diri setiap orang. Di sinilah Sakramen mendapat tempatnya untuk menjawab dan mengatasi persoalan ini. Sakramen-sakramen dalam Gereja mampu menjawabi semua persoalan di ats dengan berbagai tawaran yang mampu mengatasinya. Salah satu Sakramen yang dapat menjawabi krisis kehidupan sosial adalah Sakramen Ekaristi. Ekaristi merupakan Sakramen yang di dalamnya mempersatukan semua umat dalam satu tubuh yakni Kristus. Dalam perayaan ekaristi, umat diajak untuk mampu menghayatinya sebagai momen untuk menyadari diri sebagai pribadi yang dipanggil untuk saling mengasihi. Karena itu, ekaristi tidak hanya berhenti pada altar saja dalam hal ini pada peryaan itu sendiri melainkan harus diwujudnyatakan melalui tindakan nyata dengan hidup yang solider pada sesama khusunya bagi mereka yang miskin, menderita dan tersingkir dalam lingkup kehidupan bermasyarakat. Ketika perayaan ekaristi sungguh dihayati seperti ini maka, umat sekalian akan terdorong untuk membangun suatu lingkungan yang penuh dengan kasih, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.
Selain sakramen ekaristi, Sakaramen Tobat juga mempunyai peranan yang tak kalah penting dalam menghadapi setiap krisis yang terjadi saat ini. banyak persoalan yang terjadi sekarang ini berawal dari kesalahan manusia yang merupakan pribadi yang terbatas dan tak sempurna. Kerapuhan inilah yang seringkali menjebak manusia untuk terjebak dalam kesalahan yang merugikan orang lain. Namun, keterbatasan ini bukanlah menjadi peluang bagi manusia untuk terus melakukan kesalahan serupa. Pengakuan akan setiap kesalahan yang dibuat merupakan titik balik (metanoia) yang mampu menghantarnya pada pertobatan yang sejati. Pertobatan akan membawa seseorang pada perubahan perilaku kea rah yang lebih baik lagi. Dengan demikian maka Sakramen ini menjadi sarana yang dapat digunakan untuk kembali memperbaiki hubungan yang rusak dan membangun budaya damai di tengah masyarakat.
Sakramen Baptis juga memberikan suatu dasar yang bagi pengharapan umat Kristiani. Melalui pembaptisan seseorang diangkat menjadi anggota Gereja dan digabungkan dalam persekutuan umat Allah. Di hadapan Allah semua orang mempunyai martabat yang sama sebagai citra-Nya. Kesetaraan martabat ini menjadi hal yang patut disadari di lingkungan hidup masyarakat zaman sekarang yang seringkali penuh dengan diskriminasi dan ketidakadilan. Melalui Sakramen baptis, semua orang disadarkan bahwa semua orang mempunyai posisi yang sama di hadapan Allah dan tidak sepatutnya merendahkan martabat sesame akibat perbedaan latar belakang seperti suku, ras, dan agama serta golongan. Karena itu, Sakramen ini menjadi fondasi yang kuat bagi penghormatan atas martabat luhur manusia.
Pada akhirnya, krisis sosial yang sering terjadi sekarang ini tidak hanya membutuhkan solusi dari bidang politik, sosial dan ekonomi, tetapi juga melalui pembaharuan moral dan spiritual. Sakramen-sakramen dalam Gereja menawarkan suatu solusi yang dengan penekanan pada pengharapan yang diperoleh melalui rahmat Sakramen. Sakramen-sakramen ini menjadi pengingat bagi umat sekalian untuk terus mengamalkan kebajikan nilai-nilai hidup Kristiani seperti kasih, keadilan, perdamaian, dan harapan. Melalui penghayatan yang mendalam tentang Sakramen, umat Kristiani diajak untuk menjadi saksi harapan di tengah krisis yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, Sakramen tidak hanya terbatas pada tanda kehadiran Allah melainkan menjadi kekuatan untuk dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Kanisius Miltiades Tampani, Mahasiswa Fakultas Filsafat, UNWIRA

