Sholat Idul Adha 1447 H Umat Muslim Berlangsung di Pelataran Kantor Pelayanan Publik Atambua

Bagikan Artikel ini

Laporan Yan Manek
Atambua,NTTOnlinenow.com-Umat Muslim di Kota Atambua, Kabupaten Belu menggelar sholat id memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah 2026.

Sholat secara berjamaah diikuti ribuan umat Muslim berlangsung di pelataran Kantor Plaza Pelayanan Publik Belu perbatasan perbatasan Indonesia-Timor Leste, Rabu (27/6/2026) pukul 06.30 Wita.

Bertindak selaku Imam utama dalam Sholat Idul Adha, Ustadz Rizalul Ghima, Khatib Utama Ustadz Adam Hairul dan Bilal Utama Ustadz Ahmad Muqowim.

Dalam khotbahnya, Khatib Hairul menyampaikan bahwa, pada hari ini kita diingatkan pada dua peristiwa besar yang sangat menggugah perhatian umat Islam di seluruh dunia.

“Pertama adalah ibadah haji dan yang kedua adalah ibadah kurban,” ujar dia.

Ditekankan, semua manusia sama dihadapan Allah kecuali yang dapat membedakan kita status sosial dan kebenaran datang dari Allah. Sebagai seorang muslim kita tidak boleh mengukur kebenaran dari jabatan dan status sosial itu simbol persamaan derajat manusia.

Lanjut dia, ada tiga konsep mendasar yang ditanam oleh negara Ibrahim kepada keluarga, yang pertama adalah keluarga yang mendirikan salat. Kedua, keluarga yang membangun hubungan silaturahim dengan sesama dan ketiga keluarga yang memperoleh rezeki yang didirikan Allah dan digunakan sebagai tanda syukur kepada Allah.

Sementara itu, Ketua Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Belu, H. Abdullah Belajam usai kegiatan menyampaikan, momen hari raya Idul Adha 1447 Hijriah kita memaknai 3 item penting dalam perayaan tersebut yaitu, pertama memaknai bagaimana ketakwaannya Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala
untuk menyembelih putranya beliau.

Kedua, bagaimana memaknai anaknya Nabi Ismail Alaihissalam dalam mengikuti perintah Allah subhanahu wa ta’ala itu dengan ikhlas dan yang ketiga adalah sebagai seorang ibu memberi restu kepada suami dan anaknya untuk selalu menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

“Hal inilah yang kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana kita menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjalankan kehidupan dalam bingkai atau kerangka agama itu sendiri,” kata dia.

Abdullah menegaskan, dalam perayaan kali ini tetap kami mengutamakan toleransi yang mana di daerah perbatasan kami upayakan menjadi tolak ukur yang diwartakan kepada kabupaten-kabupaten lain bahwa toleransi di Belu dari dulu sampai saat ini.

“Kita akan memberikan kehidupan yang bermakna bagi sesama umat beragama di Kabupaten Belu,” ungkap dia.