Bupati Belu Buka FGD Masterplan, Targetkan Atambua Jadi Kota Internasional Perbatasan

Bagikan Artikel ini

Laporan Yan Manek
Atambua, NTTOnlinenow.com – Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH secara resmi membuka Focus Group Discussion (FGD) Perencanaan Masterplan Pengembangan Kawasan Perkotaan Atambua, Selasa (03/03/2026) di Aula Gedung Wanita Betelalenok Atambua.

Kegiatan ini menghadirkan tim perencana dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang akan mendampingi Pemerintah Kabupaten Belu dalam menyusun desain pengembangan Kota Atambua sebagai kota perbatasan internasional yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Dalam sambutannya, Bupati Willybrodus Lay menegaskan bahwa Atambua harus bertransformasi dari kota biasa menjadi kota internasional yang representatif sebagai beranda Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kita ingin Atambua tidak lagi menjadi kota biasa. Kita harus desain dari sekarang supaya menjadi kota internasional perbatasan yang membanggakan sebagai beranda NKRI,” tegas Bupati Willy Lay.

Ia menyampaikan sejumlah gagasan strategis yang perlu dituangkan dalam dokumen masterplan pembangunan, termasuk pembangunan jalan lingkar luar (ring road) untuk mengendalikan pertumbuhan permukiman dan tata ruang kota.

“Ring road itu bukan sekadar jalan. Itu untuk mengatur tata kota supaya masyarakat tidak membangun rumah sembarangan dan kota kita tertata dengan baik,” jelasnya.

Selain infrastruktur jalan, Bupati Willy Lay juga menekankan pentingnya ruang terbuka hijau dan taman kota sebagai identitas kota modern. Pemerintah daerah telah merelokasi beberapa kantor seperti PU dan PDAM demi menghadirkan taman kota yang representatif.

“Salah satu ciri utama kota itu adalah taman. Kalau kita ke luar negeri atau ke Timor Leste, mereka punya taman yang bagus. Kita juga harus punya taman yang menjadi kebanggaan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bupati Willy Lay mendorong Atambua menjadi kota festival dengan memanfaatkan potensi maritim di Selat Ombai yang menjadi jalur lintasan ikan marlin, tuna, dan cakalang. Ia mengingat kembali pengalaman penyelenggaraan fishing tournament yang mendapat respons besar dari peserta.

“Kita punya potensi besar di laut. Kalau dikelola dengan baik, Atambua bisa dikenal sebagai kota festival dan sport tourism,” ungkapnya.

Dari sisi konektivitas, Bupati Willy Lay menyoroti potensi Bandara Haliwen yang pernah menjadi titik persinggahan penerbangan internasional menuju Darwin.

“Bandara Haliwen sangat strategis. Ke depan kita harapkan bukan hanya pesawat kecil, tetapi juga pesawat berbadan besar bisa mendarat di sini,” harapnya.

Selain itu, Pelabuhan Atapupu serta keberadaan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain dengan nilai perdagangan Indonesia – Timor Leste sekitar Rp700–800 miliar per tahun dinilai sebagai potensi strategis yang harus dimaksimalkan.

Bupati Willy Lay juga menyinggung peluang besar apabila Blok Migas Masela beroperasi.

“Kalau Blok Masela berjalan, Belu harus siap menjadi kota logistik pendukung. Letak geografis kita sangat strategis,” tandasnya, sambil mengajak seluruh peserta FGD untuk menyampaikan ide dan gagasan secara terbuka agar masterplan yang disusun benar-benar komprehensif dan visioner.

Sementara itu, Ketua Perencana UGM, Dr. Ir. Arif Kusumawanto, MT, IAI, IPU, menjelaskan bahwa metode diskusi akan dibagi ke dalam empat kelompok tematik, yakni arsitektur kota, pengembangan wilayah, pengembangan ekonomi wilayah, serta pengembangan sosial budaya.

“Kami ingin semua ide yang muncul benar-benar orisinal. Nanti akan kami analisis untuk merumuskan desain terbaik bagi Kota Atambua,” jelasnya.

Ia berharap melalui kerja sama ini, Atambua dapat berkembang menjadi kota yang indah, unik, dan membanggakan sebagai kota perbatasan.

FGD ini turut dihadiri Forkopimda Kabupaten Belu, Staf Khusus Bidang Perencanaan Pembangunan dan Investasi, Dr. James Daan Adam, Staf Khusus Pemberdayaan Masyarakat, Koperasi dan Sumber Daya Air, Marcel Beding, Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Sekda Belu, Rine Bere Baria, ST, Para pimpinan OPD, Para pimpinan instansi vertikal, Para pimpinan BUMN/BUMD, Sekretaris MUI, Nahrudin Bajuri, Para Pimpinan Yayasan dan LSM, Para tokoh masyarakat dan Tokoh Adat, serta Ketua HIPMI Cabang Belu.