Tas Kain Tenunan Belu Laris Manis Tembus Pasar Nasional dan Internasional

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Tas kain tradisi lokal budaya orang Timor yang tidak bisa lepas dari kebutuhan adat warga menjadi awal bagi Flora Bere Leki untuk memantapkan bisnis keluarganya.

Berbahan dasar kain atau tais adat Timor, ibu satu anak ini bersama dua ponakan yang dipekerjakannya memulai usaha kecil-kecilan dari rumahnya dengan memproduksi tas kain adat lokal Belu yang dirintisnya sejak tahun 2021 silam.

Industri Bag_us terletak di Tatakiren, Kelurahan Berdao, Kecamatan Kota, Kabupaten Belu usaha sampingan milik Flora Bere Leki menjadi peluang bisnis yang terduga. Dimana hasil produk tas kainnya diminati banyak warga khususnya kaum perempuan.

Tidak saja itu, produk tas kulit berbalut kain adat khas Belu maupun Timor umumnya juga motif daerah Sumba, Flores tidak hanya diminati warg Nusa Tenggara Timur. Namun, produk tas kain adatnya merambah ke luar daerah sesuai permintaan bahkan tembus pasar nasional dan internasional.

Industri Ba_gus yang memproduksi tas kain tenunan asli Kabupaten Belu yang dirintis oleh Flora Bere Leki berhasil menempati pasar industri sehingga banyak diminati oleh para pembeli dari berbagai daerah luar NTT bahkan dari luar negeri.

Dalam menjalankan usahanya, proses pembuatan tas kain adat lokal dibuat dengan bahan dasar utama yakni bahan tenun pewarna alam dan kulit. Untuk menghasilkan satu tas dibutuhkan proses pembuatan tas kulit berbalut bahan dasar kain atau tais adat bisa memakan waktu satu hingga tiga hari dan tergantung desain yang akan dibuat.

Kepada media, Flora Bere Leki selaku pemilik usaha menyampaikan, hal pertama yang dilakukan untuk membuat tasnya dimulai dengan membuat pola dari kain tenunan dan kulit. Pola yang dibuat disesuaikan dengan desian tas modern untuk dipadukan dengan kain tenunan.

“Saat proses pembuatan pola dibutuhkan kejelian dari para pekerja sehingga dapat menghasilkan tas dengan ukuran yang baik. Selanjutnya pola yang telah dibuat akan dipadukan dengan sejumlah komponen seperti kain tenun, pengait, resleting dan tali pegangan untuk dijahit menjadi tas yang utuh,” sebut dia.

Akui Flora Bere, selama kurang lebih 3 tahun usaha produknya berjalan lancar membawa dampak positif bagi keluarganya. Sebab, banyak orang yang meminati tas kain tenunan dengan memanfaatkan media sosial untuk memasarkan tas tenunan.

Menurut dia, awal mula dirinya memulai usaha ini sejak pandemi Covid-19. Karena melihat potensi serta kekayaan daerah seperti kain tenun yang memiliki nilai jual yang cukup baik di pasaran, sehingga kain tenunan dapat diolah menjadi produk turunan seperti tas yang saat ini tengah digelutinya.

Selain itu lewat usaha produknya ini dirinya pun turut membantu memperpendek rantai penjualan kain tenun di Kabupaten Belu. Lewat hasil kerajinan tas tenun ini, terkait omset penjualan tas kain tenun yang tinggi tiap bulan dirinya dapat mempekerjakan dua orang.

“Lewat penjualan tas ini membantu mendukung pemenuhan ekonomi rumah tangga. Untuk harga tasnya dibandrol mulai dari 380 ribu hingga 820 ribu rupiah,” beber Flora Bere, Minggu (21/1/2024).

Lanjut dia, dalam seminggu tas berbahan kain tenun dan kulit laku terjual 4 sampai dengan 5 tas. Sehingga usaha tas berbalut motif kain adat dan kulit yang dijalankan ini dapat diterima di pasaran industri baik di kancah nasional maupun internasional.

“Harapannya usaha yang saat ini sedang dijalankannya dapat memberikan semangat dan memberikan dampak besar bagi ekosistem UMKM di perbatasan Kabupaten Belu,” tutup Flora Bere.