Arkadius Togo Pilih Flores Pos Untuk Belajar Disiplin

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Tak banyak orang yang memiliki prinsip seperti Arkadius Togo (37) yang biasa disapa Arka oleh keluarga dan sahabat. Ia memilih masuk Koran Harian Umum Flores Pos, koran milik misi gereja katolik ini karena ingin belajar disiplin di sana.

Di koran ini, ia belajar bagaimana mengikuti rapat tepat waktu, dead line membuat berita, bagaimana mencari berita dan menembus nara sumber yang sulit, serta belajar menulis berita yang baik dan benar.

Meski di luar sana banyak pilihan yang menggoda sejak bergabung dengan Flores Pos pada 2011, hingga sekarang ia tidak tergoda sedikitpun untuk meninggalkan koran tersebut.

Laki laki kulit hitam yang menamatkan studi di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Unflor) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia pada 2011 ini memilih menjadi jurnalis karena latar belakangnya sebagai aktivis mahasiswa.

Memasuki dunia wartawan seolah ada tempat baginya untuk terus melanjutkan berbagai idealisme perjuangannya terhadap berbagai ketidakadilan yang dilihat sejak masih menjadi mahasiswa.

Latar belakang pendidikannya juga menunjang ia menjadi jurnalis. Di Jurusan Bahasa dan Satra Indonesia, penyuka nasi putih ini mendapat materi membuat berita. “Ilmu yang didapat harus dieksekusi,” katanya kepada nttonlinenow.com dalam wawancara tatap muka pada Uji Kompetensi Wartawan yang diselenggarakan Dewan Pers dengan Penguji LPDS, di Hotel Aston, Jumat (14/7).

Kebiasaaannya menulis opini di media online semakin menguatkan rasa cintanya terhadap dunia jurnalistik.

Meski ada pengalaman traumatis bagi dirinya menjalani profesi sebagai jurnalis, ia melihat karier sebagai wartawan sesuatu yang menyenangkan. Ia merasa profesi ini justru lebih banyak senangnya.

Dengan profesinya ia dapat memperoleh banyak teman dan jaringan. Dengan banyak teman di mana saja ia tak pernah mengalami kesulitan.

Sambil sesekali tersenyum dan mencatat sesuatu di kertas putih yang ada di meja kerjanya, pencinta olah raga sepak bola dan bela diri silat ini bangga karena dari profesinya ia dapat membiaya keluarga, membangun rumah, menyekolahkan anak, dan membuka usaha.

Berbagai pengalaman pahit yang dialaminya dimaknai sebagai risiko profesi. Ketika menulis berita politik, membongkar kasus judi online ia mendapat teror yang luar biasa. Pihak yang menteror menghancurkan motornya. Semua teror tersebut tidak membuatnya kapok.

Baginya tugas wartawan sangat mulia di mana melindungi kepentingan publik, membela kelompok yang tertindas dan tidak mempunyai akses terhadap keadilan.

Selain hal-hal terukur tersebut juga dapat diperoleh dari profesi jurnalis adalah kepuasan batin.

Dia berharap kedepan, agar jurnalis tidak memproduksi berita hoaks dan menjadi jurnalis profesional maka Dewan Pers bisa memberikan pelatihan jurnalistik dasar bagi para jurnalis yang baru lahir. Sehingga mereka dapat mengikuti uji kompetensi wartawan dan mendapat sertifikat.

Dengan demikian junalis bisa mengedukasi warga bangsa menjadi cerdas.(non)