15 Tahun Ratusan Warga Nekafehan Kecamatan Kota Atambua Belum Nikmati Listrik

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Selama 15 tahun, warga Dusun Fohomea RT 31/RW 09, Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL hidup tanpa pasokan listrik dari PLN.

Tinggal sejak 2008 silam di wilayah perbukitan setelah pindah dari camp pengungsian di Tenubot, sebanyak 67 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah jiwa sekitar 200 belum belum menikmati listrik hingga kini.

Dusun Fohomea berada di pinggiran Kota Atambua yang berjarak kurang lebih 3 kilo meter. Warga Fohomea didominasi warga pendatang dari yang sebelumnya tinggal di camp Tenubot. Rata-rata warga Fohomea berprofesi petani.

Pantauan media, Jumat malam (2/6/2023) hanya ada terdapat lima lampu penerangan jalan bantuan dari pihak luar, tapi hanya tiga yang berfungsi. Hanya ada lima Kepala Keluarga yang saat ini menggunakan lampu sehen yang dibeli dari kampung tetangga.

Sementara itu warga lainnya hanya menggunakan lampu pelita seadanya. Kondisi tersebut membuat sebagian warga khususnya anak sekolah terpaksa harus numpang belajar di rumah warga tetangga yang menyala.

Menurut Ketua RT 31/RW 09, Maria Magdalena Mau bahwa sejak tahun 2008 warga Fohomea, Dusun Nekafehan, Kecamatan Kota belum menikmati jaringan listrik. Saat ini hanya ada beberapa rumah yang memakai lampu sehen, tapi warga lainnya hanya mengandalkan lampu pelita.

“Saat ini di Fohomea, Dusun Nekafehan, terdapat 67 KK. Sejak 2008 pindah kesini warga belum ada jaringan listrik yang masuk. Warga hanya gunakan lampu sehen itu juga hanya lima rumah dan warga lain pakai lampu pelita,” terang dia.

Akui Mau, kondisi ketiadaan jaringan listrik membuat warga kesulitan terutama untuk anak-anak sekolah. Bagi anak-anak sekolah yang ingin belajar terpaksa harus menumpang di rumah tetangga yang memakai lampu sehen.

“Kami kesulitan karena listrik, terutama bagi anak-anak sekolah yang akan belajar. Jadi biasanya anak-anak disini baku ajak ke rumah yang ada listrik untuk belajar bersama,” kata dia.

Lanjut Mau, kesulitan lain yang dialami warga Fohomea selain jaringan listrik yakni infrastruktur jalan dan air bersih. Warga disaat musim hujan andalkan air hujan, namun di musim kemarau terpaksa membeli air tangki.

“Harapan kami kalau bisa Pemerintah tolong bantu kami warga Fohomea Dusun Naekasa. Sebelumnya kami sudah masukan proposal ke Pemerintah dan PLN tapi sampai saat ini belum ada listrik,” ungkap dia.

Senada diungkapkan salah seorang warga bahwa, permintaan untuk jaringan listrik sudah sering kali disampaikan disetiap tahun baik proposal, KTP ke Kantor Lurah tapi sampai dengan saat ini belum ada realisasi.

“Selain listrik yang belum ada, kita juga susah dengan air bersih. Kalau musim hujan kita tadah air hujan untuk dipakai masak, cuci dan lainnya. Saat musim kemarau, kita warga terpaksa membeli air tangki karena sumber mata air yang ada tidak cukup untuk kebutuhan warga,” ujar
Carolina Dorego.

Terpisah Lurah Manumutin, Saturnino Rosario yang dikonfirmasi media menyampaikan, pihaknya sudah pernah mengusul ke PLN dan bertemu dengan pimpinan PLN di Kupang sebelumnya. Oleh PLN Cabang Atambua sudah survei sekali ke lokasi Fohomea bulan Mei tahun lalu.

“Meski belum ada realisasi kita tetap siapkan proposalny kirim ke Kupang. Kita terus bangun koordinasi dengan pihak PLN dan berharap untuk survei keduanya segera dilakukan, sehingga jaringan listrik bisa masuk ke kampung Fohomea,” kata Rosario.