Mithomania Politik

Bagikan Artikel ini

Oleh: Dr.Nicholay Aprilindo

Mendengar kata ‘Mithomania’, sepertinya jarang untuk diucap, dikutip dan dibahas dalam ruang publik.
Mithomania merupakan sebuah sikap kebohongan yang dilakukan secara terus-menerus untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Atau bahasa sederhananya kebohongan yang sudah mendarah daging.

Dalam politik yang merupakan arena untuk beradu taktik dan strategi, “Mithomania Politik” merupakan sebuah fenomena. Berbagai cara akan digunakan untuk mencapai tujuan politik.
Tapi perlu diingat bahwa cara tersebut harus tetap menjunjug tinggi integritas dan kejujuran antara kata dan perbuatan, yang akan menjadi ukuran bagi kualitas dan kemampuan berkompetisi seseorang.
Ini adalah ‘fatsun politik’ yang harus dipegang teguh oleh kita semua, dan menjadi ciri khas tersendiri sebagai warga indonesia dengan adat ketimurannya.

Salah satu contoh yang akan saya contohkan adalah sosok Prabowo Subianto yang merupakan tokoh politik kaliber tanah air, tidak bisa dilepaskan dari Istana Batu Tulis Bogor (2009).
Walaupun bukan keluarga dan hanya penggemar Bung Karno, Prabowo selalu identik dan bersinggungan dengan tempat ini.
Ketika Megawati Soekarnoputri maju bersama Prabowo dalam Pemilu Presiden 2009, dan akhirnya harus mengakui kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono, istana Batu Tulis merupakan tempat bertemu mereka untuk mematangkan koalisi.

Dokumen kesepakatan Megawati dan Prabowo yang kemudian dikenal sebagai “Perjanjian Batu Tulis”.

Konsensus yang dihasilkan Mega-Prabowo saat itu di tempat ini dikemudian hari dikenal dengan ‘Perjanjian Batu Tulis 2009’.
Sebelum pasangan ini dideklarasikan, saat itu Mega dan Prabowo bersepakat dan dalam salah satu diktum kesepakatannya adalah PDI Perjuangan akan mendukung Prabowo pada pilpres lima tahun berikutnya yakni tahun 2014.

Perjanjian ini kemudian diingkari sepihak oleh Megawati dan PDI Perjuangan dengan dalil bahwa kesepakatan tersebut akan berlaku jika pasangan Mega-Pro memenangi Pilpres Tahun 2009. Inilah yang saya sebut edisi pertama kebohongan Batu Tulis.
Dalam ingatan publik, kekalahan yang dialami pasangan Capres-Cawapres Mega dan Prabowo atau Mega-Pro rasanya sudah mulai kabur seiring berjalannya waktu.

Prabowo Subianto dengan partainya Gerindra sepertinya telah ‘move on’. Walaupun sesudah kekalahan itu Gerindra mengambil sikap ‘oposisi’ bersama PDI Perjuangan.
Kurang lebih bagi Prabowo, namanya kompetisi pasti ada kalah dan menang, namun kita harus terus maju melihat masa depan Indonesia yang lebih baik tentunya.

Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh Megawati Soekarnoputri. Sosok Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY di mata Megawati adalah anak buah yang menunjukan sikap berkhianat.
Ya, SBY adalah menteri di kabinet yang dipimpinnya dan kemudian mengalahkan dirinya. Megawati dan SBY jarang berada dalam satu kebersamaan atau suasana politik pasca kekalahan itu maupun selama satu dekade SBY berkuasa.
Toh, kalaupun mereka bersama, suasananya cukup kaku dan dingin, sehingga banyak kalangan menilai Megawati masih menyimpan dendam kepada SBY atas bentuk pengkhianatan masa lalu itu.

Perbedaan sikap kebesaran hati dan keikhlasan ditunjukkan berbeda oleh Prabowo Subianto.
Prabowo selalu menempatkan kepentingan bangsa dan persatuan Indonesia di atas segala-galanya.

Anda bisa melihat pasca Pilpres 2009, 2014 dan 2019, Prabowo selalu menghargai lawan politiknya bahkan pasca pilpres 2019 Prabowo siap menjadi pembantu di kabinet dan menjadi ‘anak buah’ Presiden Joko Widodo.

*Sekedar mengingatkan kembali, mungkin publik banyak tidak tahu bahwa orang nomor satu republik ini, pada 2012 lalu bukanlah siapa-siapa, Jokowi hanya seorang Walikota Solo yang berlatar belakang pengusaha kayu yang terpilih menjadi walikota Solo, pada tahun 2008 akhir sekitar bulan Desember 2008, Jokowi dipertemukan oleh saya (Nicholay Aprilindo) dengan seorang Pengusaha Nasional bernama Hashim Djojohadikusumo di kediaman rumah jabatan walikota solo “Lodji Gandrung” sampai kemudian Jokowi berteman dengan Hashim Djojohadikusumo yang kemudian mengenalkan Jokowi kepada kakaknya Prabowo Subianto*

Garis tangan kemudian membawa Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta sebelum menjadi presiden dua periode.
Prabowo kala itu harus bolak balik dan susah payah meyakinkan Megawati untuk mencalonkan Joko Widodo di Pilgub DKI Jakarta. Tidak banyak yang tahu tentang hal ini.
Saya yang waktu itu selesai mengikuti pendidikan PPSA XVII- LEMHANNAS RI. Tahunn2011.
Saya mengikuti langsung proses ini dan kerap kali menyaksikan betapa sibuknya Prabowo membujuk Megawati dan Almarhum Taufik Kiemas yang pada saat itu kekeuh mendukung Fauzi Wibowo sang petahana.

Bagi tentara kebanyakan atau seorang mantan tentara seperti Prabowo, prinsip yang dijunjung tinggi adalah soal integritas.
Secara total sumpah prajurit yang sudah terucap akan terpatri dibawa mati dan terus dipertahankan sampai akhir hayat, begitu pun dalam politik.
Janji politik harus ditunaikan dan tidak boleh diingkari, itulah hakekat dari politik dan politisi.

Pada titik ini, dinamika perdebatan akan muncul soal pandangan sikap politik ontologis dan epistemologis bagi sebagian kalangan.
Dua karakter manusia hidup yang digambarkan dalam tokoh pewayangan Jawa, menjadi pembeda dalam konteks prinsip dan nilai yang harus dijunjung tinggi dalam dinamika berpolitik.

Sikap kenegarawanan Prabowo pasca Pilpres 2019 diawali dengan diplomasi MRT Lebak Bulus-Senayan dan juga “Diplomasi Nasi Goreng” Kertanegara-Teuku Umar membuktikan bahwa Prabowo sangat berjiwa besar.
Prabowo dan Gerindra diminta untuk bergabung bersama gerbong kabinet Joko Widodo-KH Ma’aruf Amin.
Seketika rivalitas politik Pilpres 2019 kian teduh karena sikap legowo-nya Prabowo.

*Pelajaran berharga dari Prabowo*

Prabowo selalu berusaha untuk mencari titik-titik persamaan dalam membangun bangsa dan Negara.
Cerita pemimpin peradaban dunia masa lampau dikumandangkan Prabowo sebagai contoh yang hakiki, yaitu :

1. Cerita pertama adalah pendiri negara Tiongkok Mao Zedong yang memiliki rival bernama Deng Xiao Ping.
Anaknya Deng ketika masih berumur 2 tahun oleh tentara Mao Zedong dibuang dari gedung berlantai dua, dan akhirnya cacat seumur hidup. Ini merupakan bentuk ancaman agar Deng tidak membangkang.
Namun, setelah Mao Zedong terpilih, Deng Xao Ping justru ditunjuk menjadi Sekjen Partai Komunis Cina.
Mao meminta agar Deng melupakan perselisihan keduanya dan saling bekerja sama membangun negeri Tirai Bambu.

2. Cerita kedua adalah rivalitas berujung damai antara mantan presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln yang bertahun-tahun bersaing dengan politikus senior William H Seward, yang mana keduanya berasal dari Partai Republik.
Saat Lincoln terpilih menjadi Presiden AS, ia justeru menunjuk Seward menjadi secretary of state atau Menlu AS, posisi ketiga tertinggi di pemerintahan Amerika.
Seward kemudian bertanya pasca penunjukan tersebut. “Anda tahu, saya sangat membenci Anda, kenapa Anda menawarkan posisi menteri luar negeri ini kepada saya?”.
Jawaban Abraham Lincoln kemudian membuka mata para penasihat dan pendukungnya, maupun pendukung Seward.
“Iya, Saya tahu Kamu benci sama Saya. Kamu pernah bilang Saya monyet, dan Saya juga sangat membenci Kamu. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa terbantahkan, bahwa Kita memiliki kecintaan yang sama dan luar biasa kepada USA”.

3. Cerita ketiga adalah penguasa militer asal Jepang, Toyotomi Hideyoshi yang terkenal pada zaman Sengoku.
Bersama dengan Tokugawa Leyasu yang mendirikan Keshogunan Tokugawa, keduanya sama-sama memiliki pasukan perang yang kuat dan besar.
Namun pada malam sebelum keesokan harinya mereka berperang, keduanya bertemu dan memutuskan untuk membatalkan perang agar tidak timbul korban jiwa. Perseteruan keduanya diakhiri dengan perdamaian untuk membangun negeri mereka tercinta Jepang.

Ketika jari-jemari saya mulai merampungkan opini ini, seketika dalam hati saya terbesit jika tulisan ini yaitu sebuah peristiwa “Perikatan politik dagelan yang dipertotonkan, dan sudah dilupakan oleh sebagian publik, tetapi tetap membekas, dan saya perlu membahasnya, karena kebenaran harus disuarakan tanpa peduli siapa yang menyuarakan dan kapan hal tersebut disuarakan, karena saya punya beban moral terlibat langsung dalam hal :

1. Awal memperkenalkan Jokowi dengan adik kandung Prabowo yang bernama Hashim Djojohadikusumo, pada tahun 2008 di Lodji Gandrung Solo.

2. Meyakinkan Hashim Djojohadikusumo bahwa Jokowi orang sederhana, jujur dan setia serta layak untuk memimpin DKI Jakarta pada Pilgub DKI 2012.

3. Saya juga terlibat langsung dalam pencapresan Megawati-Prabowo (2009) dan kesepakatan “Perjanjian Batutulis” 2009.

4. Saya juga terlibat dalam Tim Hukum Prabowo pada Capres-Cawapres 2009, 2014 dan 2019.

Perlu diketahui bahwa falsafah hidup saya diajarkan oleh orang tua saya, untuk tidak terlalu berlama-lama melihat masa lalu.

Selaku alumni LEMHANNAS RI-2011. Kami diajarkan untuk visioner dengan semangat untuk melihat dan menggapai cita-cita bersama masa depan melalui platform perjuangan di rumah besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Politik harus berlandaskan nilai, sebab politik yang tidak setia pada nilai akan mengganggu nalar publik (common sense).
Politik akan dianggap rendah dan murahan.

Publik yang mengamati sikap dan kebesaran hati Prabowo mulai apatis terhadap pihak yang selalu gemar berkhianat dan berbohong dalam politik.
Mereka adalah kelompok pragmatis yang akan membuat politik semakin rendah nilainya.
Jika tokoh pewayangan Pandawa dan Kurawa hidup dalam konteks politik saat ini, maka bersatunya mereka akan mengingkari rasionalitas demokrasi, makna kompetisi, dan esensi berpolitik itu sendiri.
Prabowo telah menunjukan sikap besar hati, walaupun digempur dengan Mithomania Politik bertubi-tubi. Di dalam dirinya tidak ada ruang dan perasan pribadi.

Para pembaca yang budiman. Di akhir tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa suatu saat entah kapan ketika anak dan cucu kita mengenang para pemimpin bangsa, maka secara pribadi saya yakin bahwa Prabowo Subianto akan dikenang sebagai sosok pemimpin yang paling ikhlas untuk negara dan bangsa Indonesia.

*”Politik adalah seni, ketika berada ditangan seniman politik yang baik, maka akan bermanfaat dan indah untuk semua orang”*

*Sebagai salah seorang yang berasal, hidup, bertugas di daerah konflik Timor-Timur sampai terlepasnya kembali Timor Timur pada tahun 1999 akibat politik dan terjadi perang saudara berkepanjangan 1974-1999, saya tidak ingin Indonesia Raya terpolarisasi oleh kepentingan politik praktis dan pragmatis yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa dan Negara Kesatuan RI.*

Jayalah Indonesiaku, berbeda-beda namun tetap satu berdasarkan Ideologi Pancasila didalam rumah besar NKRI.

Penulis adalah Aktivis Polhukam & HAM.