Polemik Kehadiran Timnas U-20 Israel di Indonesia
Oleh : Dr. Nicholay Aprilindo
Beberapa hari ini muncul polemik di masyarakat Indonesia tentang kehadiran Timnas U-20 Israel didalam laga dunia persepakbolaan internasional yang akan di selenggarakan di Indonesia, bahkan tidak tanggung-tanggung dari kaum radikalis sampai pejabat negara setingkat gubernur Wayan Koster & gubernur Jateng Ganjar Pranowo ikut menyuarakan penolakan terhadap Timnas U-20 Israel di Indonesia, dan bertentangan dengan kebijakan Presiden Jokowidodo yang berusaha menjadikan Indonesia sebagai “Tuan Rumah” piala dunia U-20.
Dan yang menjadi catatan adalah “pertentangan” tersebut justeru datang dari ketiga pejabat yang berasal dari partai politik yang sama dan berkuasa saat ini.
Berikut secara sederhana saya mencoba memberikan pendapat yg mudah di cerna dan dipahami dalam bahasa yang sederhana, *tanpa masuk dan membahas dalam sejarah pertikaian Israel vs Palestina yang sudah terjadi berabad-abad lamanya tanpa kita menyalahkan satu dengan yang lain dan tanpa kita menyalahkan Tuhan Allah maupun Nabi Musa serta Nabi Harun yang menyuruh serta membawa bangsa Israel dari perbudakan di Mesir untuk masuk ke tanah “Perjanjian” Kanaan*.
Bangsa yang besar mampu meyeimbangkan kepentingan nasional dan internasional, dan tidak mencampur adukkan masalah politik dengan masalah olahraga, Indonesia harus mengambil peran sebagai penyeimbang dan pendamai dengan mengakomodir kepentingan Israel maupun palestina, kalau secara politik Indonesia betul2 mendukung kemerdekaan Palestina, maka tidak ada pilihan lain kecuali duduk bersama Israel “face to face” untuk membahas dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui proses diplomasi politik dan diplomatik, untuk itu bila Indonesia mau berperan secara langsung dalam penyelesaian konflik Israel- Palestina sudah saatnya Indonesia berhubungan langsung dengan Israel tanpa perantara pihak ketiga negara manapun dan mendudukkan Israel dan Palestina secara “head to head” dimana Indonesia sebagai penengah dan pendamai, utk itu sudah saatnya perlu dibina hubungan diplomatik yang sehat antara Indonesia-Israel-Palestina secara “Tri Partit” karena utk menjadi penengah dan pendamai tidak bisa mengambil posisi menjadikan yang satu kawan dan memusuhi yang lain sebagai lawan, namun merangkul keduanya untuk didamaikan dan diakui, itulah “Politik yang Fair”.
*”DIDALAM DUNIA OLAH RAGA TIDAK BOLEH MENCAMPUR ADUKKAN POLITIK DENGAN OLAH RAGA, JUSTRU VISI-MISI OLAH RAGA DAPAT MEMPERSATUKAN, MENDAMAIKAN YANG TERPECAH DAN BERSETERU !”*
Penulis adalah aktivis Politik-Hukum-HAM & Keamanan.

