Tebing Longsor Ancam Bangunan Gereja Paroki Laktutus

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Cuaca ekstrim disertai intensitas curah hujan lama membuat tebing halaman belakang Paroki Hati Kudus Yesus Laktutus longsor sepanjang kurang lebih sepuluh meter.

Bencana longsor itu mengancam bangunan Pastoran yang sementara dalam pengerjaan dan gedung gereja Paroki Laktutus di Kecamatan Nanaet Duabesi, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL.

Pantauan media, Rabu siang (1/3/2023) di kompleks halaman belakang Paroki Laktutus nampak tebing longsor dengan kedalaman mencapai tiga meter dengan panjang tebing sekira sepuluh meter yang hanya berjarak kurang lebih lima meter dari bangunan Pastoran.

Terlihat pula, sejumlah potongan bambu terpancang di tebing longsor bentuk penanganan darurat sementara dari gereja bersama para pekerja bangunan Pastoran dan warga umat setempat.

Pastor Paroki Laktutus, Yohanes Kristoforus Tara, OFM membenarkan bencana tebing longsor di belakang halaman gereja terjadi sejak kemarin akibat curah hujan ekstrim yang melanda wilayah Belu.

Akui dia, memang curah hujan cukup tinggi dalam sepekan terakhir dan itu yang menyebabkan tanah bergerak sehingga terjadi beberapa titik ruas jalan longsor dan amblas yang mengancam pemukiman warga.

“Titik terkahir tanah longsor di tebing belakang gereja Paroki Laktutus. Curah hujan tinggi menyebabkan tanah lari dan penahan tebing terbawa dan longsor,” terang Pater Kristo yang akrab disapa.

Terkait itu, pihak gereja bersama warga setempat melakukan penangangan darurat dengan memancang tiang-tiang bambu dengan demikian bisa menahan tanah longsor yang terjadi saat ini.

“Kita pancang potongan bambu di setiap tebing sehingga bisa tahan tanah longsor dan ini yang biasa dilakukan pemerintah di titik longsor bentuk penanganan darurat,” ujar Pater Kristo.

Menurut dia, bencana alam akibat cuaca ektrim menyebabkan juga sejumlah ruas jalan di Kecamatan Nanae Duabesi dan sabuk merah yang sangat rentan dan longsor. Pada beberapa titik ruas jalan menuju Laktutus terdapat ruas jalan longsor dan amblas yang mengancam pemukiman bahkan rumah-rumah warga di bahu jalan tersebut.

Pater Kristo berharap, kepada Pemerintah Belu bisa mengambli langkah langkah strategis terutama di lokasi-lokasi longsor dengan penahan-penahan sementara dengan mamancang kayu-kayu atau tiang bambu dibantu alat berat.

“Dengan kedalam tiga meter pancang tiang kayu dan bambu itu saya kira untuk menahan sementara tanah longsor itu bisa teratasi. Tingga kedepan teknik seperti apa diambil sehingga bisa menyelamatkan ruas-ruas jalan yang menjadi akses masyarakat sehari-hari,” ungkap dia

Mash menurut Pater Kristo, apabila kerusakan sejumlah titik ruas jalan dari Halilulik dan jalan sabuk merah dari Lookeu menuju ke Kecamatan Nanaet tidak segera diatasi penanaganan maka wilayah Laktutus bisa terisolasi.

“Karena kalau kita lewat jalur Lookeu jalan sabuk merah itu sudah ada longsor juga kita ke Halilulik tertahan dengan ruas jalan longsor dan amblas. Kita berharap segera ambil langkah-langkah strategis apabila harga beras sudah mulai mahal dan stok menurun yang jadi keluhan warga. Sy pikir harus ada langkah strategis bisa diambil sehingga Laktutus tidak terisolir,” pinta Pater Kristo.