CD Bethesda Bekali Potensi WPA dan KDS Lewat Pelatihan Salt

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – CD Bethesda YAKKUM Yogyakarta kembali melakukan pelatihan Salt bagi Warga Peduli AIDS dan Kelompok Dukungan Sebaya Moris Foun Belu dari 8 Desa dan 2 Kelurahan, Kabupaten Belu, Selasa (22/11/2022).

Kegiatan pelatihan diikuti puluhan WPA dan MFB berlangsung di Hotel Nusantara II Atambua wilayah perbatasan RI-RDTL dilaksanakan hingga besok Rabu 23 Nopember.

Koordinator CD Bethesda YAKKUM area Belu, Yosafat Ician menuturkan, data komulatif HIV dan AIDS di NTT periode 1997–Maret 2021 yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Propinsi NTT menunjukkan bahwa berdasarkan sebaran wilayah masih menempatkan Kabupaten Belu pada urutan kedua setelah Kota Kupang.

Kabupaten Belu kasus HIV dan AIDS berjumlah 1.019 dengan rincian HIV 509 kasus dan AIDS 510 kasus. Kota Kupang menempati urutan pertama dengan 1.566 kasus HIV dan AIDS. Namun kasus kematian, Kabupaten Belu menempati urutan pertama di NTT dengan 250 kasus, sedangkan Kota Kupang 68 kasus.

Sementara kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Belu, tahun 2013–September 2021 berjumlah 777 kasus. Rinciannya, 360 kasus HIV, 417 kasus AIDS dan 87 meninggal. Distribusi kasus HIV dan AIDS berdasarkan golongan umur pada periode yang sama menunjukkan usia produktif 25-49 tahun menempati urutan pertama dengan 582 kasus.

Lanjut Yosafat, untuk layanan kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Belu telah merealisasikannya di RS Marianum Halilulik, Puskesmas Atambua Selatan, Puskesmas Atapupu, Puskesmas Wedomu dan Puskesmas Haekesak.

Selain data di atas kasus stigma dan diskriminasi masih sering dihadapi oleh ODHA baik di keluarga, masyarakat, sekolah, tempat kerja bahkan di layanan kesehatan. Orang dengan HIV adalah orang yang sehat dan produktif, banyak potensi yang dimiliki misalnya dari sisi kapasitas, beberapa ODHA terlibat penuh dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV.

Dalam kehidupan bermasyarakat ODHA juga mempunyai potensi bekerja dan mengembangkan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mempunyai cita-cita untuk hidup layak, diterima oleh masyarakat dan terpenuhi hak-hak dasar sebagai ODHA.

Dijelaskan, selama ini pendampingan terhadap ODHA yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga peduli AIDS lebih berkonsentrasi kepada permasalahan yang dihadapi oleh ODHA dan belum berangkat dari potensi yang dimiliki oleh ODHA dan keluarga.

Salah satu metode kunjungan/pendampingan untuk menggali potensi, harapan dan cita-cita dari keluarga ODHA adalah SALT. SALT adalah metode pendekatan BERBASIS ASET (berupa Manusia, Sosial, Alam, Fisik, Spiritual dan Ekonomi), dimulai dari apa yang terbaik (kekuatan, potensi) yang dimiliki masyarakat.

“Berdasarkan hal itu, UPKM/CD Bethesda perlu melakukan pelatihan SALT kepada WPA dan Moris Foun Belu dengan tujuan untuk memotret potensi, harapan dan cita-cita dari keluarga ODHA maupun kelompok beresiko di masyarakat,” kata dia.

“Hal ini juga merupakan salah satu upaya untuk melibatkan ODHA mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi kegiatan penanggulangan HIV dan bukan hanya menjadikan ODHA sebagai obyek,” sambung Yosafat.

Sementara itu, Wakil Direktur CD Bethesda YAKKUM Yogyakarta, Sukendri Siswanto menuturkan, tujuan dilaksanakan pelatihan salt untuk memberikan pemahaman dan ketrampilan kepada peserta tentang SALT dan metodenya.

Memberikan pemahaman kepada peserta tentang prinsip-prinsip dasar SALT dan memberikan pemahaman kepada peserta tentang kunjungan SALT (mampu menggali potensi, harapan dan rencana ke depan ODHA dan keluarga).

“Diharapkan peserta memahami dan memiliki ketrampilan tentang SALT dan metodenya, memahami tentang prinsip-prinsip dasar Salt, mampu menggali potensi, harapan dan rencana ke depan ODHA dan keluarga dalam kunjungan Salt,” pungkas Sukendri.

Sebelumnya, Wakil Ketua PPK Belu, Rinawati Haleserens menyampaikan terima kasih kepada CD Bethesda untuk programnya yang sangat positif.

“Kita berharap para WPA dan KDS dapat ikuti pelatihan ini dengan baik dan bisa aplikasikan kepada warga sehingga mereka tidak rasa dikucilkan,” pinta Rinawati.