Terapkan Praktik Monopoli, Undana Paksa Wisudawan Jilid Skripsi-Tesis pada Rekanannya dengan Harga Mahal

Bagikan Artikel ini

Laporan Adi Rianghepat
Kupang, NTTOnlinenow.com – Universitas Negeri Nusa Cendana (Undana) Kupang sedang mempraktikan monopoli layanan. Mahasiswa calon wisudawan dipaksa menjilid skripsi dan tesis hanya pada tempat penjilidan yang adalah rekanan Undana. “Sudah begitu harganya dipatok Rp35 ribu untuk satu buahnya,” kata seorang calon wisudawan kepada media ini, Minggu (2/10).

Harga tersebut yang diklaim Undana dalam klarifikasinya sebagai harga murah, ternyata jauh lebih mahal dari harga pasaran. “Harga pasaran untuk mencetak istimewah skripsi dan tesis pada percetakan kelas wahid Kota Kupang hanya Rp25 ribu. Sementara pada tempat cetak yang adalah rekanannya Undana Rp35 ribu. Aneh kan, kalau disebut lebih murah dan mengikuti harga pasar,” katanya.

Dia mengatakan sudah lebih mahal, malah klaim Undana sebagai hal yang bisa memudahkan dan melancarkan setiap wisudawan. “Semakin aneh. Bagaimana harga lebih mahal lalu diklaim lebih memudahkan. Lalu dari aspek harga diabaikan,” katanya lagi.

Pada penjelasan yang disampaikan Undana terkait harga Rp40 ribu untuk pembelian hologram, Rektor dan jajarannya menyebutkan Undana hanya mengambil Rp5 ribu untuk pembelian hologram yang dikelola Badan Pengelola Usaha (BHU) Undana. Tidak ada keuntungan lain yang diperloeh dari sistem ini. Namun sangatlah aneh, Undana memaksa setiap mahasiswa calon wisudawan mencetak skripsi dan tesisnya hanya pada rekanan percetakan yang sudah ditetapkan.

Lalu serta merta lagi-lagi Undana mengklaim tidak mendapatkan keuntungan. Hanya murni dari Rp5 ribu untuk pembelian hologram. “Logika sederhana saya dipaksa untuk menalar jika Undana pun diberi keuntungan dari setiap cetakan yang dilakukan rekanan. Jadi tak perlulah mengelak tak mendapat keuntungan. Tak ada makan siang gratis di zaman ini pak,” katanya.

Jika mau menolong mahasiswa calon wisudawan harusnya dibiarkan memilih tempat percetakan yang tentunya akan dipilih harga terendah. “Bukan harga Rp35 ribu yang mencekik seperti itu. Bayangkan Rp35 ribu dikali dengan 7 eksemplar. Jadinya Rp245 ribu. Sangat memberatkan,” katanya.

Benar bahwa saat ini Undana sedang menerapkan manajemen Badan Layanan Umum (BLU). Tapi tak berarti mahasiswa dan orang tua mahasiswa dijadikan mesin uang dengan penerapan biaya-biaya tinggi bernomen klatur yang harusnya dapat diminimalisir. Belum lagi kabarnya setiap wisudawan akan dipungut Rp.1.500.000 untuk pendafataran wisuda. Bagaimana dengan pola kebijakan penerapan uang kuliah tunggal (UKT)?

Kebijakan UKT ini dimaksud pemerintah yang diterapkan di perguruan tinggi negeri termasuk Undana, untuk membantu dan meringankan biaya pendidikan mahasiswa. Itu artinya tidak ada lagi biaya tambahan lain-lain. “Undana malah bikin lain. Semakin banyak nomenklatur biaya yang harus dibayar mahasiswa di akhir pendidikannya. Bukankan ini sebuah pelanggaran terhadap kebijakan,” katanya bertanya.

Teringat istilah yang disampaikan guru saya, seorang Misionaris asal Amerika Serikat tentang kejujuran. “Kejujuran ya tidak bohong. Tetapi ada kebohongan yang bodoh. Karena kebohongan yang dilakukan sudah sekaligus membuka tabir kebohongan itu. Bohong belakisima istilahnya. Bohong yang bodoh,” katanya. “Saya tak sedang menyampaikan bahwa telah terjadi pembohongan oleh pihak tertentu. Tetapi saya hanya mau sampaikan soal arti sebuah kejujuran,” katanya.

Undana adalah sebuah lembaga pendidikan. Dan karena itu praktiknya harus menujukan warna pendidikan itu. Selain ilmu pengetahuan ada pendidikan karakter yang harus dipraktikan pada lembaga itu agar bisa menjadi panutan dan bisa dibawa sebagai bekal para wisudawan setelah jadi alumni. Jangan juga Undana dijadikan sebagai lembaga bisnis untuk mencari keuntungan dengan menjadikan mahasiswa sebagai sumber sekaligus korban. “Sambil berharap akan ada perubahan kebijakan dengan sejumlah pungutan itu, saya mau menyampaikan, Ing ngarso sung tulodo dan kami alumni siap menjadi pemimpin yang memiliki suri tauladan di tengah masyarakat,” katanya menutup perbincangan kami.

Sebelumnya pimpinan Undana Kupang mengklarifikasi harga jual hologram senilai Rp40 ribu yang diprotes calon wisudawan karena terlalu mahal dan mencekik. Harga itu harus disediakan setiap calon wisudawan saat pembelian hologram. Masing-masing calon wisudawan harus membeli 7 buah jadi senilai Rp280 ribu. Bayangkan jika sekali wisuda akan ada 1.000 orang rata-rata dan setahun empat kali wisuda. Berapa banyak uang yang terkumpul dari biaya itu.***