Wabup Belu Letakkan Batu Pertama Pembangunan Program Kotaku di Kampung Sorosikun

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Wakil Bupati Belu Aloysius Haleserens secara resmi meletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Kabupaten Belu, Selasa (12/4/2022).

Pembangunan sebanyak 29 unit rumah layak huni di pemukiman kumuh berlokasi di kampung Sorosikun, Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL.

Acara tersebut turut dihadiri Direktur PT. Sarana Multigrya Financial (SMF), Direktur Pengembangan Kawasan Permukiman Ditjend Cipta Karya Kementerian PUPR yang diwakili Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah NTT, KPKNL Kupang, Camat Kota Atambua, Camat Atambua Selatan, Camat Atambua Barat, para Lurah, Pimpinan Forkopimda dan Pimpinan OPD Belu.

Wabup Aloysius dalam sambutannya mengatakan, atas nama Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat Belu khususnya masyarakat kampung Sorosikun menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Pusat untuk program Kotaku.

Diutarakan, lewat program Kotaku peningkatan kualitas perumahan telah dibangun rumah layak huni bagi 29 Kepala Keluarga di RT 29/ RT 30 Kampung Sorosikun Kelurahan Fatubenao Kecamatan Kota Atambua Kabupaten Belu.

“Kami bangga dan terimaksih untuk program Kotaku. Dengan terbangunnya rumah layak huni ini diharapkan warga penerima bantuan dapat menjaga lingkungan permukimannya secara baik demi mempertahankan kualitas hidup,” ungkap Aloysius.

Dalam kesempatan itu dia juga menghimbau agar para pengelola kegiatan pembangunan ini melaui BKM dan KSM agar tetap memperhatikan kualitas dari banguna tersebut sehingga fungsi dari rumah layak huni tetap terjaga dengan baik.

Wabup Belu Letakkan Batu Pertama Pembangunan Program Kotaku di Kampung Sorosikun

“Kita harus bersyukur bahwa dari jumlah wilayah kumuh yang ada di Kelurahan Fatubenao telah terintervensi 2 lokasi berupa pembangunan rumah layak huni kolaborasi antara Dirjen PKP, PT SMF dan Pemerintah Belu,” ucap Aloysius.

Sementara itu menurut Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah NTT
Normansjah Wartabone, penanganan permukiman kumuh ini mengedepankan kolaborasi bekerjasama dalam upaya pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh di Belu.

“Ini kolaborasi dengan Pemkab Belu untuk menangani 29 rumah tak layak huni berdasarkan RAB semua rumah dibangun dengan type 36. Harga perunit rumah Rp 90 juta, adapun alokasi dana dari PT SMF 2,6 miliar yang digunakan untuk membangun rumah tersebut,” terang dia.

Lanjut Wartabone, kolaborasi perumahan ini adalah langkah konkrit dalam upaya percepatan pelaksanaan program, sehingga target penanganan kumuh dan cita-cita menciptakan kota yang layak huni dan berkelanjutan dapat terwujud.

Kesempatan itu, Direktur PT. Sarana Multigrya Financial (SMF) berharap, kolaborasi ini tidak saja saja terbatas pada fisik pembangunan rumah tapi juga sarana air bersih. Dengan pembangunan rumah dapat memberikan dampak sosial yang positif, masyarakat hidup sehat dan berdampak pada peningkatan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat.

Usai kegiatan, Wabup Belu Aloysius Haleserens didampingi Direktur PT. Sarana Multigrya Financial (SMF), Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah NTT, para Camat meninjau perumahan layak huni salah satu warga penerima manfaat.

Warga penerima bantuan rumah layak huni menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Pusat dan Daerah yang peduli terhadap keberadaan mereka dengan membangun rumah layak huni.