Unit Usaha BUMDes Tanpa Pemetaan Potensi di Desa

Bagikan Artikel ini

‎Kupang, NTTOnlinenow.com – Usaha yang dijalankan badan usaha milik desa (BUMDes) tidak didahului dengan pemetaan dan identifikasi potensi dan sumberdaya yang ada di desa sehingga dari potensi potensi yang ditemukan bisa direkomendasi usaha yang bisa dijalankan bumdes.

Bahkan terkesan usaha yang dijalankan BUMDES hanya ikutan ikutan saja. Rangkuman pendapat tersebut disampaikan Tenaga Ahli (TA) P3MD dari tiga kabupaten masing masing Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS dan Kabupaten Sumba Timur tantangan dan masalah BUMDES saat talkshow pada Pertemuan Forum dan Pelatihan BUMDES Tingkat Provinsi NTT, hari pertama Selasa (22/2).

Talkshow yang dipandu Aktivis Perempuan, Ana Djukana ini menghadirkan TA P3MD Kabupaten Kupang, Darius Holbala, Marlein Gusthina Manafe, Kepala Bidang Kelembagaan DPMD Kabupaten Kupang, TA P3MD Kabupaten Sumba Timur, Muhammad Algadrie dan TA P3MD Kabupaten TTS, Ida Maharani Lamablawa,SH dan Kadis P3MD Kabupaten TTS, Nikson Nomleni.

Talkshow ini dilangsungkan secara off line dan on line, virtual zoom yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia dan Yayasan Alfa Omega (YAO) .

Pada kesempatan tersebut Darius Holbala mengemukakan tantangan BUMDes di Kabupaten Kupang koordinasi antara BUMDes dan kepala desa sebagai komisaris tidak berjalan baik, tata kelola Managemen belum optimal, pengurus yang bentrok, upah pengurus BUMDES baru dibayar pada akhir tahun.
Selain itu, sumber daya pengurus yang masih terbatas.

Ditambahkan dari 160 desa yang ada di Kabupaten Kupang BUMDES sudah terbentuk di 159 desa. Satu desa yang belum terbentuk yakni Desa Tana Merah.

Sementara itu, Kabid Kelembagaan DPMD Kabupaten Kupang, Marlein Gusthina Manafe mengemukakan dari 159 BUMDes tersebut ada yang berjalan bagus dan berkembang dan ada yang berjalan di tempat. Yang sudah berkembang harus difasilitasi terus sehingga bisa mempengaruhi BUMDes yang masih berjalan di tempat.

Ia menilai kebanyakan BUMDes mau usaha yang gampang saja seperti penyewaan kursi dan tenda. Penyewaan kursi dan tenda baru bisa mendapatkan uang saat ada pesta. Sementara pada peristiwa kedukaan karena kematian tidak bisa.

Menurut dia, pengelola BUMDes tidak kreatif karena SDM yang terbatas. Pengelola BUMDes belum bisa peluang pasar. Sebagaimana pada musim tertentu harga cabai naik, potensi pariwisata yang ada, belum bisa membaca peluang untuk bisa mendapatkan uang.

Belum fokus
TA P3MD Kabupaten Sumba Timur, Muhammad Algadree menyampaikan BUMDes gagal karena pengelola BUMDes belum fokus dan belum melihat BUMDes sebagai potensi, kebanyakan BUMdes tidak mengetahui potensi yang ada di desanya, konflik kepentingan berkaitan dengan pengelolaan pengelolaan modal usaha antara pemdes dan BUMDes serta dalam internal BUMDES, terbatasnya akses pemsaran produk.

Belum sesuai sumber daya
TA P3MD Kabupaten TTS, Ida Lamablawa menyampaikan permasalahan yang dihadapi BUMDes yang ada di TTS yakni usha usaha yang dilakukan BUMDes belum sesuai potensi dan sumber daya di desa karena itu, masih bersifat ikut ikutan, pemilihan pengurus BUMDes belum sesuai unit usaha, masih diintervensi pemdes, tidak adanya pendampingan dari pemdes, banyak pengurus BUMDes yang tidak aktif karena proses pemilihannya berdasarkan suka, tidak suka. Dengan demikian pengurus BUMDes tidak memiliki kemampuan sesuai jenis usaha.

Rekomendasi Dari Diskusi selama dua jam tersebut maka muncul rekomendasi rekomendasi yakni penting mengidentifikasi dan menganalisa potensi dan sumberdaya di desa sehingga jenis usaha BUMDes sesuai dengan potensi dan sumberdaya desa, untuk mencapai tujuan kehadiran BUMDEs sebagai lokomotif ekonomi desa dan mensejahterakan masyarakat maka penting untuk revitalisasi, reorganisasi dan refungsionalisasi BUMDes.

Selain itu, bersinergi dan berjejaring dengan pihak lain untuk membuka pasar bagi hasil hasil produksi dan mempromosikan hasil hasil produksi BUMDes, penguatan kapasitas pengelola dan pengurus BUMDes serta melakukan pendampingan oleh lembaga profesional, OPD dan pemdes, memperhatikan insentif pengurus dan pengelola BUMDes.

Talkshow berlangsung dinamis dimana peserta dari tiga kabupaten aktif memberikan respon kepada kelima nara sumber. (non)