Diagnosa Dokter, Sopir Istri Bupati TTU Meninggal Digigit Ular Berbisa. Simak Kronologi Penanganan Medisnya

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Petrus Bere alias Ipang, warga Peboko Kelurahan Kefa Utara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). dipagut ular berbisa saat bersama beberapa temannya mencari ternak piaraan (sapi) milik orang tua temannya yang dikabarkan hilang, di hutan KM 10 Kelurahan Tubuhue Kecamatan Kota, Jumat (17/12/2021) lalu.

Korban sempat diboyong ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat, namun pria berusia 27 tahun itu tidak terselamatkan nyawanya.

Direktur RSUD Kefamenanu, dr. Zakarias Dery Fernandes menyatakan, pasien meninggal murni akibat gigitan ular (snake bite). Dijelaskannya lebih lanjut, kematian terjadi lantaran komplikasi racun ular yang menyebabkan pembuluh darah pecah.

“Adik Ipang Berek betul kena gigitan ular. Kematian terjadi karena komplikasi akibat racun atau bisa ular yang menyebabkan pembuluh darah pecah sehingga terjadi pendarahan yang hebat”, ungkap dr. Dery kepada NTTOnlinenow.com Senin, (17/01/2022) di RSUD Kefamenanu.

Foto : Penanganan lokalisasi, temuan Fang Marks pada kaki kanan korban sebanyak 4 lubang.

Ia pun meminta Kabid Pelayanan RSUD, dr. B. Theresia. A. J. Mulawatu untuk menjelaskan kondisi pasien sebelum meninggal saat masuk ke RSUD.

“Pasien atas nama Petrus Berek, masuk RSUD tanggal 17 Desember 2021, pukul 21.45 wita”, kata Kabid Pelayanan, dr. Theresia Mulawato.

Baca juga : Misteri Kematian Ipang Berek Yang Menyeret Nama Bupati TTU dan Istri, Ternyata Begini Kronologisnya

Lanjutnya, pasien datang diantar keluarga dan kerabat dengan mengatakan dia dipagut ular dan terjatuh. Ada juga keluhan lain, pasien mengalami muntah darah.

“Sebelum pasien di bawa ke RSUD, dari TKP keluarga antar pasien ke RS Leona. Namun di RS Leona Serum Anti Bisa Ular (SABU) tidak ada. Biasanya Sabu itu merupakan penanganan pertama pada pasien yang digigit ular”, jelas dr. Theresia.

Saat dibawa dari RS Leona ke RSUD, pasien mengalami muntah darah segar. Sampai di RSUD pasien sudah gelisah dan terjadi penurunan kesadaran dalam kondisi masih muntah darah pada pukul 21: 45 wita.
Pukul 21: 50 wita langsung dipasang oksigen dan diperiksa secara keseluruhan oleh dokter.

Keadaan Umum Pasien Menderita Berat “.

Dalam pemeriksaan ditemukan bahwa keadaan umum pasien menderita berat.

“Kesadarannya cenderung menurun. Saat itu tensi pasien masih normal 106 per 69. Tekanan nadinya juga 74 normal tapi lemah, pernapasannya meningkat 24 kali per menit. Itu sudah dengan bantuan oksigen, kalau orang normal 16 sampai 20 per menit. Pemeriksaan di bagian mata, terlihat pucat dan berdarah banyak. Ada bercak darah di seputar mata (bleeding internal), sementara jantung, paru – paru, perut pasien normal dan CTR nya baik”, jelas dr. Theresia.

Nonton “Video Penanganan Medis Pasien Gigitan Ular Berbisa”

 

“Penanganan Lokalisasi Pasien, ditemukan Fang Marks 4 lubang 0,3 cm”

“Kemudian langsung penanganan di lokalisasinya. Pada bagian kaki sebelah kanan pasien, temuan fang marks sebanyak 4 lubang dengan kedalaman 0,3 cm”, jelas dr. Theresia.

Kemudian, lanjutnya pukul 21:55 wita dokter melakukan pemeriksaan darah lengkap. Infus dipasang dua jalur, jalur satunya Sabu, satunya lagi infus untuk cairan dengan obat untuk menghentikan perdarahan di lambung dan pemasangan keteter. Tapi yang keluar dari keteter itu darah. 20 menit kemudian pasien BAB juga darah semua. Langsung oksigennya dinaikkan sambil dikonsultasikan lagi ke spesialis bedah dan dilakukan transfusi darah.

“Disampaikan ke keluarga malam itu, bahwa kondisi pasien memburuk.
Hasil lab keluar, kita konsultasi lagi. Lewat 3 menit, hasil lab keluar. Dokter Abdi, dokter spesialisnya yang menyampaikan sendiri ke keluarga, yakni saudara kandung perempuannya tentang keadaan pasien”, kata dr Theresia.

Tindakan selanjutnya, langsung dipasang monitor semua untuk observasi. Pukul 23.00 wita tensi pasien terdeteksi tidak terukur. Nadi meningkat sekali, 145 kali dan pernapasannya meningkat.

Dikonsulasikan lagi ke dokter anastesi untuk pemasangan incubasi. Dokter anastesi meminta petugas untuk segera menyiapkan ruang ICU untuk disiapkan ventilator.

Pukul 23: 15 wita, sambil tetap ada penanganan, pasien diguyur tambah cairan karena tensi pasien tidak terukur dan akhirnya naik 49 per 35.

“Itu sudah ditambah obat untuk menaikkan tensinya”, ungkap dr Theresia.

Lanjutnya, pada pukul 00:30 wita masuk transfusi darah di UGD ditambah obat – obatan untuk hentikan semua perdarahan. Saat ditambah obat, tensi pasien naik, jadi normal 114 per 81. Pukul 01:05 wita, ditambah lagi transfusi 1 bath. Tapi pas setelah selesai tranfusi darah tepat di pukul 01 : 20 wita tiba – tiba pasien henti nafas. Pasien diincubasi dan diantar ke ICU, sampai di sana pukul 03 :10 wita pasien henti napas lagi. Kita sudah semaksimal mungkin tapi ternyata tidak bisa tertolong.

“Dan pada pukul 03 : 15 wita pasien meninggal dunia “, kata dr. Theresia memyampaikan kronologi penanganan medis sejak pasien masuk ke RSUD.

Untuk diketahui, saat dibawa masuk RSUD, pasien ditangani dua dokter umum dan dua dokter spesialis, bedah dan anastesi.

“Jadi hasil diagnosa dokter, pasien meninggal akibat digigit ular berbisa. Ditandai dengan adanya beberapa luka bekas pagutan ular (Fang Marks). Racun atau bisa ular sudah menjalar sehingga menyebabkan internal bleeding dalam tubuh lainnya termasuk di bagian Feses”, beber dr Theresia.

Foto : Ipang Berek semasa hidupnya, bekerja sebagai sopir Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Timor Tengah Utara.