Misteri Kematian Ipang Berek Yang Menyeret Nama Bupati TTU dan Istri, Ternyata Begini Kronologisnya

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dibuat gonjang ganjing selama tiga pekan terakhir dengan misteri kematian Petrus Berek alias Ipang (27), warga Peboko Kelurahan Kefa Utara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Melansir pemberitaan sejumlah media cetak maupun online, keluarga korban meragukan kematian anaknya Ipang yang diduga meninggal akibat dipatuk ular berbisa.

Dugaan keluarga korban diperkuat dengan belum diterimanya rekam medis pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu atas kondisi korban saat dilarikan ke RSUD setempat.

Kejanggalan lain, dibeberkan korban adanya benturan di bagian kepala dan darah segar yang terus menerus keluar dari telinga, hidung, mulut dan anus korban.

Atas pemberitaan yang mencuat ke publik dengan menyeret nama Bupati Djuandi David dan Ketua Tim Penggerak PKK, Elfira Ogom, sejumlah saksi yang berada di TKP km 10 Atambua kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu pada Jumat (17/12/2021) buka suara.

Hendrikus Mano alias Jarod, Adrianus N. Unab alias Kobar, Priskus P.E. Bilo alias Li dan Yansen Pausobe alias Yansen diketahui adalah teman – teman korban yang berada bersama korban saat mendengar informasi ternak (11 ekor sapi) milik Maximus Bilo hilang. Maximus Bilo adalah orang tua Li.

“Mendekati magrib pada Jumat (17/12) itu kami sementara duduk cerita dengan korban di teras belakang rujab. Tiba – tiba saya ditelpon oleh Li mengabarkan ternak mereka hilang, diduga dicuri orang. Saat itu juga korban (Red, Ipang) sendiri yang mengajak kami berangkat ke km 10 arah Atambua membantu Li mencari sapi. Li pun mendatangi rujab dan menjumpai kami semua berada di sana”, kisah Jarot.

Saat itu, lanjut Jarot mereka semua langsung berangkat.

Rencana mereka berangkat ke Kuatnana menjelang magribpun tertunda lantaran lebih memilih membantu Li mencari sapi yang hilang.

Singkat cerita dikisahkan Jarot, saat tiba di TKP, ia dan korban berjalan kaki bersama Maxi Bilo, diikuti seorang saudaranya Li dan penggembala sapi. Sampai di lokasi kebun, mereka bersama mencari sapi yang diinfokan hilang. Sekitar jam 21.00 wita, Kobar menelpon Jarot mengatakan sapi yang dicari sudah ditemukan. Mereka pun saling kontak dan sepakat bertemu di tengah hutan. Kobar menyerahkan kunci motor ke Yansen, sedangkan Jarot, kobar dan Ipang berjalan kaki menyusuri hutan untuk bergabung dengan teman lainnya.

“Pak Maxi, Li dan kakaknya, penggembala sapi, anak penggembala sapi, berjalan terpisah menuju hutan.
Sementara saya, Kobar dan korban berjalan bersama. Kami sempat beristirahat beberapa kali. Saat istirahat yang terakhir, korban mengajak kami untuk segera menyusul yang lainnya. Saya berjalan duluan dan masih memegang bambu, korban memegang sebilah parang dan Kobar memegang senter”, ungkap Jarot.

Baru berjalan beberapa meter, korban berteriak mengatakan dia dipatuk ular.

“Ular ada patuk saya, aduh tolong saya, saya kena patuk ular… tolong”, kata Jarot meniru teriakan korban.

Kobar langsung mengarahkan senter ke kaki korban dan terlihat ada bekas patok ular di kaki korban bagian kanan tepatnya di atas pergelangan kaki kanan bagian dalam.

Keterangan foto kolase : Kondisi kaki korban, terdapat lubang kecil bekas gigitan ular, mulai membengkak dan membiru.

Korban masih terus berteriak meminta tolong sambil beberapa kali menyebut nama Tuhan Yesus. Korban terjatuh di depan Jarot dan Kobar. Saat itu juga busa sudah keluar dari mulut korban dan korban kejang – kejang, Jarot dan Kobar langsung mengangkat korban dan memapah korban keluar dari hutan.

“Saya dan Kobar panik, Kobar teriak minta tolong tapi tidak ada respon dari siapapun. Kami terus jalan membawa korban. Baru beberapa meter mau keluar di jalan raya, Yansen dan beberapa anak lari ke arah kami bantu bopong korban. Karena kami sudah capek, kami sudah tidak kuat lagi, kami minta bantuan orang – orang di situ untuk terima korban. Di situ jalan sedikit menanjak. Ada beberapa orang dan teman – temannya Li Bilo bantu angkat korban. Sedangkan saya dan Kobar berlari cepat ke atas mau cari dan tahan kendaraan yang lewat untuk minta bantuan membawa korban ke Rumah Sakit. Waktu korban diangkat, yang terima di atas tanjakan menuju ke jalan raya korban terjatuh karena terlepas dari tangan yang mau terima. Mungkin disitulah terjadi benturan, kami juga tidak lihat bagian tubuh mana yang kena benturan karena saya dan Kobar mau cari kendaraan di atas di jalan umum. Hanya lihat dia jatuh, terlepas dari pegangan orang – orang yang angkat. Entah itu jatuh karena korban berat atau bagaimana, tapi saat itu seluruh tubuh korban berkeringat sejak busa keluar dari mulutnya tapi korban masih sadar”, kisah Jarot.

Di jalan raya, Jarot dan Kobar berhasil menahan satu kendaraan roda empat, ternyata itu kendaraan milik salah satu anggota polisi dari Atambua yang kebetulan mau ke Kupang. Merekapun meminta tolong dan dibantu, korban dilarikan ke Rumah Sakit di Kefamenanu. Kobar menemani korban di atas mobil, sedangkan Jarot dan yang lainnya ikut dengan motor.

Li Bilo, teman korban membenarkan kronologis yang disampaikan Jarot. Ia pun membeberkan awal kejadian dimulai dari informasi kehilangan ternak sapi hingga bersama korban mencari sapi.

“Kami dapat info, sejak sore sapi sudah tidak masuk, saya telp kawan – kawan dan mereka ada di rujab. Jadi saya bilang kawan – kawan bantu saya dulu. Intinya kami semua ke sana tapi sampai di sana kami berpencar dalam hutan mencari sapi. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 21.00 wita sapi sudah ditemukan. Kamipun berusaha mengarahkan sapi supaya tidak lari jauh ke cabang Mamsena lagi.

Tiba – tiba kami dengar teriakan masyarakat dan kami ke sana, mereka teriak ada yang kena gigit ular. Itu mereka sudah gantian pikul korban mau kasih naik ke atas. Saya disuruh orang disitu cari getah pohon pisang.
Waktu itu saya lari cari getah pohon pisang untuk tempel di kaki korban. Jadi saya tidak lihat saat korban terjatuh, terlepas dari tangan orang – orang yang terima korban di tanjakan itu. Saya hanya diceritakan korban sempat jatuh. Waktu saya kembali mencari getah pisang, korban sudah dibawa ke Kefa dengan mobil. Saya kejar dengan motor”, aku Li.

Di Kefa, kata Li korban dibawa ke rumah om Nolus Nurak yang terkenal bisa menyembuhkan orang yang kena gigitan ular berbisa.

“Tapi karena om Nolus tidak ada, saya ikut naik ke atas mobil dan bawa korban ke RS Leona. Di RS Leona, korban ditolak seorang perawat karena di RS Leona tidak ada obat penawar racun jadi kami ke RSUD lagi untuk segera diambil tindakan medis”, kata Li.

“Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Tidak ada Obat Anti Racun”.

“Sesampainya di Kefa, kami ke Rumah Sakit Leona. Di Rumah Sakit Leona, kami ditolak karena obat anti racun tidak ada. Jadi kami secepatnya kembali ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu dan tim medis langsung mengambil tindakan atas korban”, kata Jarot dibenarkan Li.

Di RSUD, lanjut Jarot. Korban sempat minta turun dan mau jalan masuk sendiri ke RS, tapi dimarahi Kobar. Ternyata dia mau jalan sendiri karena hendak meludah.

“Tunggu saya buang ludah dulu”, kata korban diucapkan ulang Jarot.

Ternyata saat meludah, darah yang keluar dari mulut korban. Sampai di dalam RS dia sempat menangis dan terus menerus mengeluh. Saat di atas mobil juga, ada darah keluar dari mata korban.

Di RSUD kami sudah serahkan korban ke tim medis karena saat itu juga segera diambil tindakan. Kami hanya lihat sambil dengar dia mengeluh. Setelah itu dia masih minta diurut, kami ikut saja”, kata Jarot.

“Ada Nama Bupati dan Istri Terseret Dalam Misteri Kematian Ipang”

Ramai diberitakan, Bupati Djuandi David memerintahkan korban dan kawan – kawannya mencari sapi miliknya pada Jumat malam, 17 Desember lalu.
Pemberitaan sejumlah media juga fulgar membeberkan, korban sebagai sopir pribadi istri bupati, keluar dari rumah malam itu untuk menjalankan tugasnya mengantar jemput istri Bupati, Ny. Elfira Ogom.

Sebagai pemilik sapi, Maximus Bilo melalui anaknya Li menegaskan bahwa 11 ekor yang hilang itu adalah milik bapaknya, Maximus Bilo bukan milik bapak David (Bupati TTU). Korban juga yang mengajak teman – teman lain untuk membantu saya mencari sapi.

“Jadi tidak benar kalau bapak David yang panggil korban malam – malam. Saya yang telpon teman – teman, mereka sudah ada bersama korban sejak sore di rujab. Dan sapi – sapi yang hilang, maaf itu bukan kepunyaan bapakDavid, ada 11 ekor sapi itu milik bapak saya, bapak Maxi”, kata Li Bilo.

Bupati Djuandi David yang ditemui NTTOnlinenow.com di rumah jabatan, Jumat (07/01/2022) sore ditemani istrinya terlihat tenang mendengar kesaksian yang dibeberkan teman – teman korban. Ia tidak banyak bicara, hanya menyambung keterangan Li Bilo terkait kepemilikan sapi.

“Saya tidak pelihara sapi di sini ibu wartawan. Di kampung saya di Biboki sudah terlalu banyak orang mengurus ternak saya”, kata Bupati David sambil tersenyum.

Pada waktu yang sama, Ny.Elfira Ogom, Ketua Tim Penggerak PKK kabupaten TTU mengaku turut kaget membaca berita misteri kematian korban yang menyeret namanya.

“Korban bukan sopir pribadi saya seperti pemberitaan di beberapa media. Tentu saya kaget nama saya diberitakan tanpa ada konfirmasi apakah saya yang memanggil korban malam itu. Diberitakan, korban keluar rumah malam untuk menjalankan tugas sebagai sopir pribadi mengantar jemput saya.
Dia bukan keluar rumah malam dan dipanggil karena tugas. Saya tidak ada tugas malam hari. Mereka duduk di belakang ramai – ramai sejak sore bukan malam baru dia keluar dari rumah karena ada panggilan menjalankan tugas. Lagian tidak ada kegiatan PKK di malam hari”, kata Elfira.

Ia menambahkan, tugas korban hanya terhitung pukul 06.00 wita hingga pukul 17.00 wita.

Elfira juga mengulas kembali keterlambatan korban masuk kerja di tanggal 17 Desember.

“Pagi tanggal 17 Desember, kami ada aerobic bersama, sudah jam 6 korban belum muncul. Akhirnya dalam beberapa kegiatan, saya menumpang di mobil bapak”, kata Elfira.

Biasanya setelah jam kerja sore hari, kata Ketua Tim penggerak PKK kabupaten TTU, sopir langsung pulang. Kalaupun hendak keluar ada sopir kendaraan operasional. Dan kalau sudah selesai jam kerja seperti malam kalau ada keperluan keluar juga ia ditemani asisten pribadinya, ibu Elen.

Elfira, juga masih sempat bertanya ke teman korban, kondisi korban saat duduk bersama teman – tannya.

“Saya tanya ke Wili, waktu kamu duduk ramai – ramai di belakang, apakah korban minum mabuk, semua menjawab tidak. Karena waktu itu menurut Wili, korban bilang lagi sakit perut. Korban memang terlihat beberapa kali masuk keluar WC saat di kantor ada kegiatan dan mengeluh sakit perut”, beber Elfira.

Kepada Wili, korban sempat mengatakan badannya tidak enak, kurang sehat.

“Saya badan tidak enak, rasanya seperti mau mati saja”, kata Wili kepada Elfira mengulang perkataan korban ke teman – temannya.

Jarot menambahkan, korban juga masih minta kami berfoto bersama saat cerita – cerita di teras belakang rujab, tapi mereka tidak berpikir jauh itu pertanda korban akan meninggal atau apa.

“Ipang masih minta kami foto bersama di belakang. Tolong foto saya dan kawan – kawan dulu”, pinta korban diulang Jarot.

Foto kebersamaan mereka diabadikan menggunakan HP korban. Ada juga video lain di salah satu acara ulang tahun sebelumnya, korban menyanyi sambil melambaikan tangan tanda perpisahan”, kisah Jarot.

Semua kisah kebersamaan itu diceritakan teman – teman korban, untuk membuktikan bahwa korban berada bersama mereka sejak sore. Bukan baru datang malam hari menjalankan tugas sebagai sopir pribadi.

“Dugaan Kematian Korban Akibat Digigit Ular Diragukan Keluarga”

Jarot, Li Bilo dan beberapa teman korban mengaku, setelah korban dimakamkan, perbincangan tentang kematian korban terdengar seperti dipelintir habis – habisan.

“Sejak di TKP bahkan di Rumah Sakit, semua orang tahu dan lihat, korban masih sangat sadar. Ia masih mengenal kami semua. Korban masih minta air minum. Kalau memang ada dugaan tindak kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal, kami – kami ini yang ada di TKP bersama korban. Kalau demikian, pasti korban tidak tinggal diam, dia pasti akan menceritakan bahwa dia dipukul. Kalau korban dipukulpun, korban pasti melawan karena korban sementara memegang sebilah parang malam itu. Tidak mungkin korban diam, karena korban masih sadar sepenuhnya sampai di kota. Korban juga masih minta bantuan kami untuk memanggil mamanya.

“Tidak benar Orang Tua Korban Tidak Tahu Korban Digigit Ular Berbisa”

Keterangan Jarot membenarkan korban digigit ular yang bisanya sangat berbahaya dan diketahui semua saksi di TKP bahkan di Rumah sakit.

Fakta saat korban berada di Rumah Sakit, mamanya Yoneta Suni datang melihatnya. Mamanya mengetahui anaknya digigit ular berbisa. Mamanya masih sempat mengunyah sejenis ramuan kemudian sendiri dengan menggunakan tangannya menempelkan ramuan yang dilumatkan di mulutnya ke kaki korban.
Pada kaki korban jelas terlihat ada bekas gigitan ular. Kemudian mamanya masih sempat mengikat kaki anaknya dengan menggunakan tali gewang, persis di bekas gigitan ular dengan tujuan agar racun atau bisa ular tidak cepat menyebar.

“Korban meminta mamanya memeluk dan mendoakan dia, mamanya masih memeluk korban”, kata Jarot dengan wajah sedih.

Blasius Berek, bapak korban juga tahu anaknya dipatok ular berbisa.

“Bapak korban, Blasius Berek justru ikut dengan pemilik sapi, bapak Maximus Bilo dan Beni Bilo, mencari orang yang bisa membantu korban yang digigit ular berbisa. Waktu itu bapak korban dan bapak Maxi pergi menjemput bapak Agus Talan yang beralamat di Seroja. Bapak Agus cukup dikenal sebagai orang yang punya keahlian yang bisa menyelamatkan korban gigitan ular berbisa.

“Artinya bahwa kedua orang tuanya tahu anaknya digigit ular “, ungkap Li Bilo dan beberapa temannya yang mengetahui bapak korban turut berjuang menyembuhkan anaknya.

Gigitan ular itu dibuktikan dengan adanya sekitar tiga lubang kecil namun berakibat fatal.
Bekas gigitan ular terlihat sangat jelas, bengkak dan membiru. Sempat difoto dan divideokan teman – teman korban, saat pihak medis mengambil tindakan terhadap korban yang keracunan ular berbisa. Menurut para saksi, tim medis tidak mungkin mengambil tindakan jika tidak mengetahui riwayat sakit korban.

“Terima Kenyataan Anaknya Meninggal Dipatuk Ular Berbisa, Orang Tua Korban Sempat Minta Maaf dan Terlibat Dalam Acara Adat di TKP”

Pengakuan beberapa saksi, pasca kematian Ipang, orang tua korban terlibat melakukan ritual adat bersama pemilik sapi di TKP.

“Secara adat pada tanggal 23 Desember 2021, keluarga korban yakni bapak korban, Blasisus Berek, dua orang paman korban, bapak Maxi dan adik Beni, ibunya Jarot dan orang tua adat dari Peboko terlibat dalam berlangaungnya ritual adat bersama di TKP. Orang tua korban sempat meminta maaf kepada orang tua saya, sebagai pemilik sapi, setelah mendapat penjelasan detail atas musibah yang dialami korban”, lanjut Jarot, dibenarkan Li dan beberapa saksi lainnya.

Adalah merupakan suatu tradisi di suku Timor, jika ada anggota keluarga yang meninggal karena kecelakaan di luar rumah, oleh kerabatnya dilakukan ritual adat dengan tujuan memanggil pulang jiwanya untuk disatukan dengan raga sebelum dimakamkan.

Sebelumnya menurut Jarot dan beberapa temannya, sudah ada orang tua di sekitar sana yang menegur agar berhati – hati masuk ke hutan karena di sana diketahui ada ular berbisa yang biasa disebut San’o (sebutan dawan). Namun karena sudah sampai di tengah hutan, korban dan teman – temannya tetap berusaha membantu Li mencari sapi mereka yang hilang kemudian berusaha keluar dari hutan setelah sapi ditemukan.

Diketahui, gigitan dari beberapa jenis ular berbisa, dapat menyebabkan kematian sel tubuh dalam hitungan jam.
Ada jenis ular tertentu yang berukuran kecil, namun memiliki racun yang dapat menghancurkan jaringan dan merusak dinding pembuluh darah. Akibatnya dinding pembuluh darah rusak, terjadi penggumpalan darah dan menyebabkan keadaan pendarahan internal yang masif pada korban.

Foto : Petrus Berek