Pemkab Belu Diminta Dukung ODHA Dalam Berwirausaha

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Pemerintah Kabupaten Belu khususnya Dinas Kesehatan maupun KPA harus lebih berperan aktif lagi mendorong kelompok dukungan sebaya (KDS) yang sudah dilatih oleh CD Yakkum Bethesda Belu di Kakuluk Mesak, Tasifeto Barat, dan Tasifeto Timur.

Hal itu guna penanganan ODHA maupun penanggulangan HIV/AIDS di Belu. Sebab para ODHA ini minum obat ARV sepanjang tahun, maka asupan gizi mereka harus mencukupi. Tetapi mereka ini tidak minta fisik macam susu, sembako atau vitamin. Melainkan kemudahan untuk mengakses modal usaha maupun berbagai keterampilan.

Sehingga para ODHA yang tergabung dalam KDS bisa berwirausaha sendiri karena diskriminasi dari masyarakat dan keluarga sangat lama dihilangkan kecuali para ODHA dan KDS yang bisa saling menerima dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian Koordinator CD Yakkum Bethesda Cabang Belu Yosafat Ician kepada media usai kegiatan monitoring dan evaluasi bersama ODHA dan KDS sebanyak 15 orang di Hotel Nusantara Dua wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL, Selasa (16/11/2021).

Selama ini harus diakui kasus kematian HIV/AIDS di kabupaten Belu tertinggi di NTT dan anggaran difokuskan ke penguatan Warga Peduli AIDS,(WPA) dan KDS. Sedangkan wirausaha bagi para ODHA belum tergarap dan di sisi lain diskriminasi terhadap ODHA tidak mengenal waktu.

Dalam APBD Belu tahun anggaran 2021 juga belum mengakomodir anggaran bagi penguatan KDS di Belu. Lalu bagaimana pemerintah melalui dinas terkait mengurangi tingkat kematian HIV/AIDS di daerah Belu.

Kelompok Dukungan Sebaya binaan CD Yakkum Bethesda Belu sudah 20 persen atau sebanyak 70 orang yang tersebar di Tasifeto Timur, Tasifeto Barat, Kakuluk Mesak sudah mulai membuka diri untuk berbicara mengenai teman-teman mereka yang juga terpapar virus.

“Bahkan 70 orang tersebut juga mau mengkonsumsi obat ARV. Karena itu perluasan pelayanan obat ARV jangan hanya terpusat di RSUD Gabriel Manek SVD Atambua seperti selama ini, melainkan harus melebar sudah. Sebab pelatihan bagi tenaga medis di beberapa puskesmas telah dilakukan,” ucap Yosafat.

Sementara Dewi Utari staf Monef CD Bethesda Jogyakarta mengapresiasi Pemkab Belu karena saat para ODHA sudah lebih mudah mengakses obat ARV hanya menggunakan E KTP atau NIK. CD Yakkum Bethesda telah melakukan berbagai pelatihan seperti pengenalan dan penerimaan diri, keterampilan pengolahan pangan lokal untuk pemenuhan gizi para ODHA sejak Mei 2021 hingga evaluasi hari ini Selasa red.

Hasilnya ungkap dia, banyak ODHA maupun KDS telah mampu menerima kenyataan diri dan mau terbuka dengan orang lain. Harapan ke depan, karena KDS sudah tau tanggungjawab mereka dan bahkan mampu memetakan para ODHA yang putus obat ARV berapa orang, berapa anggota KDS yang aktif berwirausaha sesuatu dan itu perkembangan positif bagi penanganan kasus HIV/AIDS Belu ke depan,

“Kita berharap, pemerintahan Desa di kecamatan Tasifeto Barat, Tasifeto Timur dan Kakuluk Mesak supaya pemulihan ekonomi masyarakat, maka para ODHA harus mendapat perhatian penuh. Karena dana desa tidak bisa digunakan untuk kegiatan lain selain pemulihan ekonomi maka para ODHA harus mendapat perhatian supaya diskriminasi dan keadilan sosial bisa dirasakan mereka sebagai bagian dari masyarakat juga,” kata Dewi.

Anggota DPRD Belu Frans Xaver Saka selaku Anggota Komisi III bermitra dengan Dinkes yang hadir dalam kegiatan itu menuturkan, para ODHA jangan pernah berhenti minum obat atau lari dari rumah sakit, karena itu pasti menuju kematian.

Terkait dukungan anggaran dalam APBD perubahan tahun anggaran 2021 belum mengakomodir kebutuhan untuk penguatan kapasitas WPA dan KDS, maka DPRD Belu akan dorong supaya dibicarakan dengan pemerintah bagaimana penyelesaiannya.

“Supaya para ODHA diperhatikan untuk bisa berwirausaha dan saling menghidupkan di antara mereka. Selain itu, agar para ODHA tidak terisolasi di tengah masyarakat dan tingkat penularan HIV/AIDS di Belu bisa menurun dan tingkat kematian karena virus juga bisa diredam,” kata dia.