Tim AIDS Puskesmas dan Rumah Sakit di Belu Ikuti Pelatihan KLS dan VCT

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Tim AIDS Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten Belu wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL mengikuti pelatihan Konselor Lay Support dan Valuntary Counseling and Testing (VCT).

Kegiatan yang digelar CD Bethesda Yakkum Jogjakarta cabang Belu berlangsung selama tiga hari terhitung mulai tanggal 21 sampai 23 Juni 2021 di hotel Nusantara II Atambua, Senin (21/6).

Kegiatan pelatihan tersebut resmi dibuka oleh Plt Kadis Kesehatan Belu, Theresia Saik didampingi Kabid PPM pada BP4D Kabupaten Belu dan Koordinator CD Bethesda Yakkum Jogjakarta cabang Belu.

Selain dihadiri Kepala Puskesmas, tenaga medis, staf tim Puskesmas dan Rumah Sakit dalam kegiatan tersebut dihadiri juga perwakilan Warga Peduli AIDS (WPA) binaan CD Bethesda.

Menurut Koordinator Yakkum Jogjakarta cabang Belu Yosafat Acian, tujuan umum dari pelatihan ini bagi tim AIDS Puskesmas dan Rumah Sakit adalah peserta lebih mendalami tentang penyakit HIV dan AIDS, Infeksi Menular Seksual (IMS) serta trampil dalam melakukan pelayanan VCT

Sementara itu, tujuan khusus yakni memberikan pemahaman kepada semua peserta tentang Situasi Epidemi dan Kebijakan Pengendalian HIV di NTT, Informasi dasar HIV dan AIDS, IMS, Alur proses VCT serta Peran Konseling dan tes HIV dalam Perawatan, Dukungan dan Pengobatan.

Memberikan pemahaman kepada peserta konselor tentang, konseling HIV dalam strategi. Komunikasi perubahan perilaku, orientasi konseling, tata nilai konseling, sikap dan etika konseling, ketrampilan mikro, etika konselor.

Pelaksanaan Konseling dan Tes HIV : Pemberian Informasi dalam VCT (KTS), Pemberian informasi dalam KTIP, modifikasi konseling berkelompok (penyuluhan), konseling pasangan dan keluarga. Pelaksanaan Konseling dan Tes HIV, Konseling Pra Tes HIV dan Penilaian risiko klinis pasien dan pelaksanaan Konseling dan Tes HIV, Konseling Kepatuhan minum obat, Kepatuhan berobat.

Memberikan pemahaman kepada peserta petugas laborat tentang, peran petugas dalam laboratorium sederhana HIV, Pemeriksaan Lab sederhana HIV, Kewaspadaan universal dan perawatan peralatan terutama pada masa pandemi covid-19, serta Pencatatan dan pelaporan.

Memberikan pemahaman kepada peserta RR tentang, manajemen program, Pencatatan dan Pelaporan tes dan konseling HIV, Pengenalan Form Pencatatan dan Pelaporan VCT/KTS dan KTIP, Instalasi Sistem Informasi HIV dan AIDS, serta Pengisian register Konseling dan Testing. Memberikan ketrampilan kepada peserta tentang proses pelayanan VCT yang melibatkan konselor, petugas laborat dan RR.

Lanjut Yosafat, output yang diharapkan selama tiga hari pelatihan yakni, ada pemahaman peserta tentang Situasi Epidemi dan Kebijakan Pengendalian HIV di NTT, Informasi dasar HIV dan AIDS, IMS, Alur proses VCT serta Peran Konseling dan tes HIV dalam Perawatan, Dukungan dan Pengobatan.

“Ada pemahaman dari peserta konselor tentang konseling HIV dalam strategi Komunikasi perubahan perilaku: orientasi konseling, tata nilai konseling, sikap dan etika konseling, ketrampilan mikro, etika konselor,” ujar dia.

Selain itu pelaksanaan Konseling dan Tes HIV, Pemberian Informasi dalam VCT (KTS), Pemberian informasi dalam KTIP, modifikasi konseling berkelompok (penyuluhan), konseling pasangan dan keluarga.

Pelaksanaan Konseling dan Tes HIV, Konseling Pra Tes HIV dan Penilaian risiko klinis pasien. Pelaksanaan Konseling dan Tes HIV: Konseling Kepatuhan minum obat, Kepatuhan beroba.

Ada pemahaman dari peserta petugas laborat tentang peran petugas dalam laboratorium sederhana HIV, Pemeriksaan Lab sederhana HIV, Kewaspadaan universal dan perawatan peralatan terutama pada masa pandemi covid-19, serta Pencatatan dan pelaporan.

Ada pemahaman dari peserta RR tentang manajemen program, Pencatatan dan Pelaporan tes dan konseling HIV, Pengenalan Form Pencatatan dan Pelaporan VCT/KTS dan KTIP, Instalasi Sistem Informasi HIV dan AIDS, serta pengisian register Konseling dan Testing serta
peserta trampil dan memiliki komitmen untuk melakukan pelayanan VCT kepada klien.

Plt Kadinkes Belu, Theresia Saik menyampaikan apresiasi kepada lembaga CD Bethesda yang punya kepedulian dalam hal kesehatan serta penanganan terhadap AIDS di wilayah perbatasan Belu.

Dia mengakui, Kabupaten Belu menempati urutan kedua di wilayah Propinsi NTT, sehingga pemerintah mengharapkan seluruh stakeholder untuk memerangi penyakit HIV AIDS.

“Kepada para peserta untuk mengikuti kegiatan selama tiga hari kedepan dengan serius agar pengetahuan yang didapat selama kegiatan ini dapat dilaksanakan ditempat masing-masing terutama bagian konseling,” kata dia.

“Khusus bagi para staf medis tim AIDS Puskesmas dan Rumah Sakit agar disiplin waktu dalam bekerja karena langsung melayani pasien,” tambah Theresia.