Pemkab Kupang Jangan Hanya Menonton

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Dalam masa transisi pasca tanggap bencana dan akan masuk ke masa pemulihan setelah bencana alam yang disebabkan Siklon Tropis Seroja inisiatif prakarsa masyarakat luar biasa untuk membangun rumah, menggali saluran irigasi, karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang hendaknya tidak menonton tetapi harus berada bersama-sama masyarakat membangun kembali wilayah tersebut untuk menunjukkan kehadiran Negara kepada rakyatnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Dra Sofia Malelak de Haan mengemukakan itu kepada media ini berkaitan dengan penanganan kebencanaan yang disebabkan Siklon Tropis Seroja 5 April 2021 lalu.

Ia merasakan respon Pemkab Kupang lamban dibandingkan masyarakat sipil gereja, rekan-rekan LSM/NGO yang sejak bencana sudah ada di lapangan bersama masyarakat yang menjadi korban bencana, mengevakuasi mereka ke gereja, memberi tumpangan, berdonasi, mendata kerugian masyarakat, memanfaatkan jaringan untuk membantu warga korban bencana.

Padahal katanya negara dengan otoritasnya mempunyai segala hal, asal ada itikad baik menggunakan otoritas itu untuk bergerak cepat membantu bagi kemaslahatan dan kebaikan rakyatnya. Dalam kunjungan-kunjungan ke lapangan pasca bencana dalam masa tanggap darurat dan transisi di Kabupaten Kupang ia melihat rakyat sangat terpuruk dan susah.

Mantan Pengurus MS GMIT 2007-2011 ini memberi apresiasi yang luar biasa kepada prakarsa-prakarsa yang muncul di masyarakat untuk menggali saluran irigasi, membangun rumah. Salut dan hormat juga untuk elemen masyarakat sipil, gereja, NGO membuka pintu-pintu gereja untuk warga mengungsi membangun solidaritas dengan mengumpulkan donasi bagi warga masyarakat, membantu dengan jaringan yang ada, mengajak orang lain untuk berdonasi, membagi informasi.

Semangat kemanusiaan, kepekaan, sensitivitas yang luar biasa, tegasnya patut ditiru negara dalam hal ini Pemkab Kupang.

Diungkapknya, saat berkunjung ke Amarasi Barat ada 14 unit rumah yang karena bencana bergeser 30 sampai 50 meter dari lokasi rumah semula. Melihat situasi kondisi seperti ini sungguh menyayat hati.

Wakil rakyat dari Partai Nasdem ini juga mendapat laporan dari banyak warga Kabupaten Kupang kalau warga yang berhak menerima bantuan karena rumah mereka rusak, porak poranda saat bencana Siklon Tropis Seroja justru RT tidak memasukan nama-nama mereka.

Dia mengharapkan Pemerintah Pusat secara berjenjang melakukan verifikasi melalui lembaga gereja karena sejak bencana mereka yang membantu warga sehingga mengetahui data di lapangan yang sebenarnya. Dituturkannya sejak malam bencana tersebut pihaknya mengevaluasi warga di Tarus yang bermukim di Pantai Manikin, ke Gedung Gereja Jemaat Ebenhaezar Tarus Barat. Ia bersyukur karena jemaat ini memiliki mart sehingga bisa mengambil beras, mie instan, susu, air mineral untuk memberi makan warga yang mengungsi. Karena saat itu semua toko, kios tutup ungkapnya.

Bersyukur ada Mart JETB yang bisa membantu untuk penanganan tanggap darurat untuk bahan makan emergency. Di Jemaat Ebenhaezar Tarus Barat 500 lebih warga yang ditampung di sana ujarnya. Dalam bencana ini termasuk bencana lainnya perempuan dan anak-anak yang paling menderita.

Menurut dia, seluruh harta benda mereka hanyut terbawa air dan itu menimbulkan luka dan trauma yang dalam. Bersama-sama gereja mereka melatih para pendeta untuk melakukan trauma healing kepada perempuan dan anak yang benar-benar trauma dengan bencana tersebut.

Beberapa saat lalu dirinya ikut menyalurkan bantuan bencana PKK Provinsi NTT dimana ada kompor dan alat masak lainnya karena warga sudah tidak punya barang-barang tersebut karena terbawa banjir.

Diungkapnya ia juga terkena bencana tetapi ada rakyat yang lebih susah yang membutuhkan prioritas perhatian sehingga bencana yang terkena di kediamannya bisa diurus kemudian.

Rekam jejak dalam penanganan bencana legislator perempuan ini terekam dalam jejak digital dalam laman akun facebook sofia malelak de haan. Semua aktivitasnya mengunjungi masyarakat, membantu korban bencana ada di laman fbnya. (non)