Le Rai, Terdakwa Penganiaya WBA Tak Keberatan Dakwaan JPU. Pekan Depan Sidang Pembuktian.

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Ignose Laurensius Ray alias Le Ray, terdakwa kasus penganiayaan dengan korban WBA (32), menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Selasa (30/03).

Sidang dengan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri TTU, Santy Efraim, SH menyebut Le Ray telah dengan sengaja melakukan penganiayaan terhadap korban WBA.

Penganiayaan yang dialami korban, bermula pada hari Senin (04/01)lalu, saat Wilfridus Lado, admin akun Facebook Suluh Desa mengundang korban ke rumahnya.

“Sekitar pukul 17.00 Wita, bertempat di dalam kamar kerja Wilfridus Lado, di Pasar Baru Kelurahan Benpasi dan di dalam salah satu kamar tidur rumah jabatan Bupati TTU beralamat di Kelurahan Aplasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Le Ray melakukan penganiayaan terhadap korban, WBA”, ungkap JPU, Santy Efraim dalam pembacaan dakwaan.

Lanjutnya, awalnya terdakwa mendatangi rumah Wilfridus Lado dan mendapati saksi korban berada di dalam sebuah kamar bersama saksi Wilfridus Lado dengan posisi saksi korban sedang memijit tangan saksi Wilfridus Lado sehingga membuat terdakwa yang berstatus sebagai pacar korban cemburu dan terdakwa memgambil sebuah kursi plastik yang berada di dalam rumah saksi Wilfridus Lado dan langsung memukul kepala belakang korban sambil mengatakan kalimat bernada kecewa dan menarik rambut saksi korban dan membenturkan kepala saksi korban ke tembok berulang kali.

Setelah membenturkan kepala saksi korban ke tembok, terdakwa menarik paksa saksi korban dari dalam kamar dan memaksa saksi korban naik ke motor milik Emanuel Uskono. Korban menolak kemudian terdakwa membawa korban menggunakan motor saksi korban dan mengatakan akan membawa korban ke rumahnya untuk membicarakan masalah mereka. Ternyata korban tidak dibawa pulang ke rumah. Korban sempat bertanya akan dibawa kemana, dijawab terdakwa “Ini hari lu mati sudah”.

Terdakwa membawa saksi korban ke rumah jabatan Bupati TTU, menghentikan motor di depan sebuah kamar di dalam lingkungan rumah jabatan Bupati TTU dan membuka salah satu kamar dan menyuruh saksi korban ikut masuk bersama terdakwa di dalam kamar.

Setelah saksi korban dan terdakwa berada di dalam kamar, terdakwa mengunci kamar tersebut dan dalam keadaan yang masih emosi, terdakwa langsung memukul kepala korban berulang kali menggunakan kepalan tangannya. Terdakwa menarik paksa baju saksi korban hingga robek sambil terus memukul kepala dan wajah saksi korban. Tanpa rasa kasihan terhadap korban yang menderita kesakitan, terdakwa menyuruh saksi korban membuka celana (Red, pakaian dalam) kemudian terdakwa mengambil sebuah sapu ijuk dan mengarahkan batang sapu ke arah kemaluan korban dan sempat ditahan saksi korban, namun dipukul terdakwa berulang kali dengan menggunakan kedua tangannya di wajah saksi korban. Dengan penuh emosi, terdakwa yang sempat keluar kamar, kembali masuk sambil menghisap rokok dan terdakwa mengambil handphone milik saksi korban memeriksa daftar panggilan yang ada di dalam handphone saksi korban.
Saat mendapati beberapa panggilan dari Wilfridus Lado, terdakwa semakin emosi dan kembali memukul wajah saksi korban dengan tangan terkepal.
Handphone saksi korban baru dikembalikan saat ada panggilan masuk sambil menyuruh saksi korban menerima handphonenya karena terdakwa menduga orang tua saksi korban sudah melapor ke polisi.

Saksi korban diajak keluar dari kamar dan meninggalkan rumah jabatan Bupati dengan menggunakan motor milik saksi korban.

Dalam perjalanan pulang, terdengar bunyi handphone milik saksi korban. Terdakwa kembali memeriksa ke daftar pesan masuk, terdapat pesan dari orang tua korban menyuruh korban pulang. Namun terdakwa tidak menghiraukan permintaan saksi korban, tapi terus melanjutkan perjalanan. Saksi korban menanyakan tujuan perjalanan dan dijawab terdakwa “Kita ke bapatua pung kebun”. Kebun yang dimaksud adalah milik Raymundus Sau Fernandes (Mantan Bupati TTU). Tiba di dalam kebun, saksi korban meminta pulang ke rumah tapi tidak digubris. Saksi korban meminta air panas untuk mengompres wajah saksi korban yang mulai membengkak. Setelah itu terdakwa memaksa saksi korban bersetubuh layaknya suami istri, barulah saksi korban disuruh pulang meninggalkan terdakwa.

Setibanya di rumah, setelah orang tua saksi korban melihat keadaan saksi korban yang babak belur akibat perbuatan terdakwa, orang tua saksi korban langsung melaporkan ke Mapolres TTU.

Hasil pemeriksaan medis terhadap saksi korban, ditemukan luka memar tebal dan tipis pada bagian kepala, wajah dan sekujur tubuh.

Pemicunya, kata JPU Santy Efraim, terdakwa marah dan cemburu terhadap saksi korban, setelah melihat kedekatan saksi korban dan saksi Wilfridus Lado.

“Bahwa perbuatan terdakwa Ignose Laurensius Ray alias Le Ray melanggar ketentuan sebagaimana diatur dan diancam pidana pasal 351 ayat 1 KUHPidana,” kata Jaksa Santy, di ruang sidang PN Kefamenanu, Selasa (30/03).

Usai dakwaan dibacakan, Ketua Majelis Hakim, Tjokorda Putra Budi Pastima, SH.,MH bertanya kepada terdakwa terkait dakwaan tersebut.

“Atas dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut, apakah ada keberatan?” tanya KMH, Tjokorda sembari memberi waktu kepada terdakwa untuk berkonsultasi dengan penasihat hukumnya.

Hasil konsultasi terdakwa dan PH nya Adelci Teyseran, terdakwa menyatakan tidak keberatan dengan dakwaan yang dibacakan JPU.

Sesuai rencana, sidang pembuktian akan digelar pada pekan depan, Selasa (06/04).

“Karena terdakwa tidak mengajukan eksepsi, Selasa depan kita lanjutkan dengan sidang pembuktian”, kata Juru bicara PN Kefamenanu, Yossius Reinando Siagian, SH yang diwawancarai usai sidang.

Pantauan NTTOnlinenow.com, sidang perkara penganiayaan yang dipimpin Tjokorda Putra Budi Pastima, SH., MH, dengan dua hakim anggota, Deny Budi Kusuma, SH dan Yossius Reinando Siagian, SH berjalan aman dan lancar.

Turut hadir mengikuti jalannya persidangan, sejumlah kerabat dan sahabat terdakwa.