Ada Apa Dengan Pendidikan di Sumba?

Bagikan Artikel ini

Oleh Josephin N. Fanggi
Salah satu indikator keberhasilan perluasan akses pendidikan dasar 12 tahun adalah Angka Partisipasi Murni (APM). Angka ini digunakan untuk menunjukkan seberapa besar penduduk bersekolah tepat waktu atau menunjukkan seberapa besar penduduk bersekolah dengan umur yang sesuai dengan ketentuan kelompok usia sekolah di jenjang pendidikan yang sedang ditempuh. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan target APM SD/MI sebesar 94,8 persen, APM SMP/MTs sebesar 82,2 persen, APM SMA/SMK/MA sebesar 67,5 persen pada tahun 2019 (http://spasial.data.kemdikbud.go.id/dss/index.php/cpeta/indikator/FF25FB04-1F28-455E-9BB8-B4B9E696246F/000000/).

Berdasarkan Berita Rilis Statistik (BRS) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2019 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada tahun 2019, rata-rata lama sekolah terendah adalah di Kabupaten Sumba Tengah (5,96 tahun), diikuti oleh Kabupaten Sabu Raijua (6,33 tahun), Kabupaten Sumba Barat Daya (6,33 tahun, lalu Kabupaten Sumba Barat (6,53 tahun).

Berdasarkan kondisi ini, dapat dilihat bahwa rata-rata lama sekolah terendah terdapat di kabupaten yang sebagian besar terdapat di Pulau Sumba. Lalu, apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Berdasarkan Publikasi Provinsi Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2020 yang diterbitkan oleh BPS Provinsi NTT, pada tahun ajaran 2019/2020, di Kabupaten Sumba Tengah terdapat 81 unit SD, 1 unit MI, 34 unit SMP, 1 unit MTs, 4 unit SMA, 3 unit SMK, 1 unit MA, sedangkan di Kabupaten Sumba Barat Daya terdapat 257 unit SD, 1 unit MI, 102 unit SMP, 2 unit MTs, 26 unit SMA, 35 unit SMK, 2 unit MA, lalu di Kabupaten Sumba Barat terdapat 89 unit SD, 1 unit MI, 40 unit SMP, 1 unit MTs, 8 unit SMA, 7 unit SMK, 1 unit MA. Pada tahun 2019, di Kabupaten Sumba Tengah terdapat 65 desa/kelurahan dan 5 kecamatan, di Kabupaten Sumba Barat Daya terdapat 175 desa/kelurahan dan 11 kecamatan, dan di Kabupaten Sumba Barat terdapat 74 desa/kelurahan dan 6 kecamatan.

Oleh karena itu, dapat dikatakan dalam setiap desa dan kelurahan di semua kabupaten di atas terdapat 1 sampai dengan 2 unit SD/MI, setiap kecamatan di Kabupaten Sumba Tengah terdapat 6 sampai dengan 7 unit SMP/MTs, setiap kecamatan di Kabupaten Sumba Barat Daya terdapat 9 sampai dengan 10 unit SMP/MTs, dan setiap kecamatan di Kabupaten Sumba Barat terdapat 6 sampai dengan 7 unit SMP/MTs, sedangkan 1 SMA/SMK/MA di Kabupaten Sumba Tengah telah melayani 463 sampai dengan 464 orang/jiwa murid, 1 SMA/SMK/MA di Kabupaten Sumba Barat Daya telah melayani 327 sampai dengan 328 orang/jiwa murid, 1 SMA/SMK/MA di Kabupaten Sumba Barat telah melayani 538 sampai dengan 539 orang/jiwa murid.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007, standar nasional ketersediaan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang baik adalah dalam setiap desa dan kelurahan minimal terdapat 1 SD/MI, dalam setiap kecamatan minimal terdapat 1 SMP/MTs dan 1 SMA/MA melayani maksimum 6000 jiwa siswa. Hal ini berarti dari segi ketersediaan SD, SMP, SMA/SMK di semua kabupaten di atas pada tahun 2019 sudah memenuhi standar nasional pemerintah. Penulis telah melakukan penelitian terhadap hal ini sebagaimana terdapat pada Publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat 2019/2020.

Penulis melakukan penelitian untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi anak berusia 7-18 tahun bersekolah tepat waktu di Kabupaten Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah pada tahun 2019. Variabel bebas yang digunakan adalah jumlah anggota rumah tangga, jenis kelamin anak, jenis kelamin kepala rumah tangga, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa pada anak berusia 7-12 tahun pada tahun 2019, dari seluruh variabel bebas yang digunakan tidak ada yang mempengaruhi anak berusia ini bersekolah tepat waktu di Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Sedangkan di Kabupaten Sumba Barat, faktor yang mempengaruhi adalah jenis kelamin anak, dimana kecenderungan peluang anak perempuan berusia ini untuk bersekolah tepat waktu (SD/sederajat) lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki berusia ini.

Untuk anak berusia 13-15 tahun pada tahun 2019, tidak ada yang mempengaruhi anak berusia ini bersekolah tepat waktu di Kabupaten Sumba Tengah, sedangkan faktor tingkat pendidikan kepala rumah tangga mempengaruhi anak berusia ini bersekolah tepat waktu di 2 kabupaten lainnya, dimana kecenderungan peluang anak berusia ini yang kepala rumah tangganya penah bersekolah di SMP/sederajat untuk bersekolah tepat waktu (SMP/sederajat) lebih tinggi dibandingkan yang kepala rumah tangganya tidak pernah bersekolah di SMP/sederajat.

Sedangkan untuk anak berusia 16-18 tahun pada tahun 2019, faktor tingkat pendidikan kepala rumah tangga mempengaruhi anak berusia ini bersekolah tepat waktu di semua kabupaten tersebut di atas, dimana kecenderungan peluang anak berusia ini yang kepala rumah tangganya penah bersekolah di SMA/sederajat untuk bersekolah tepat waktu (SMA/sederajat) lebih tinggi dibandingkan yang kepala rumah tangganya tidak pernah bersekolah di SMA/sederajat. Selain itu, faktor jenis kelamin anak juga mempengaruhi anak berusia ini bersekolah tepat waktu di Kabupaten Sumba Tengah pada tahun 2019, dimana kecenderungan peluang anak perempuan berusia ini untuk bersekolah tepat waktu (SMA/sederajat) lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki berusia ini.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak berusia 7-18 tahun untuk bersekolah tepat waktu di Kabupaten Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, dan Sumba Barat. Apabila berbicara tentang jenis kelamin anak, bisa dikatakan berkaitan dengan faktor dari dalam diri anak, seperti motivasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, bisa dikatakan motivasi anak perempuan untuk bersekolah tepat waktu lebih tinggi daripada anak laki-laki. Selain itu, faktor tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang berpengaruh berarti anak cenderung bersekolah pada suatu tingkat pendidikan karena ada dorongan dari kepala rumah tangga yang juga pernah bersekolah di jenjang pendidikan tersebut. Beberapa hal yang dapat dilakukan berkenaan dengan hasil penelitian ini adalah perlu adanya program yang dapat meningkatkan motivasi anak laki-laki untuk bersekolah tepat waktu, memotivasi dan membantu kepala rumah tangga yang tingkat pendidikannya rendah untuk menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya.

OLEH : JOSEPHIN N. FANGGI, S.ST
INSTANSI : ASN di BPS PROVINSI NTT