Media Massa dalam Pusaran Informasi Intoleransi dan Kebencian Berbasis Agama

Bagikan Artikel ini

Oleh Fanny Syariful Alam
Dalam tatanan masyarakat demokrasi, media massa memegang peranan penting sebagai sarana diseminasi infomasi, baik dari pemerintah ke masyarakat mau pun dari masyarakat ke masyarakat. Masyarakat memerlukan informasi dari media mengenai perkembangan terkini sesuai dengan kebutuhannya, sedangkan media massa menjembatani kebutuhan tersebut dengan kapasitas yang dimilikinya. Semakin tinggi perkembangan teknologi dan jaman, maka semakin jauh juga perkembangan informasi dalam media massa, di mana kondisinya akan semakin lebih terbuka.

Tingkat kritis masyarakat pun semakin tinggi, dan di sini pula literasi media menjadi hal signifikan, seperti ditekankan oleh Kellner dan Share (2007) dalam Paul Carr, bahwa literasi media membantu untuk mengevaluasi konten, secara kritis membedah bentuk media, menyelidiki dampak media, menggunakan media secara intelektual, dan bahkan mengkonstruksi bentuk media alternatif.

Berkembangnya media massa alternatif, salah satunya media massa digital, berfungsi sebagai sarana untuk diseminasi informasi terjadi pada masa sekarang. Kebebasan perkembangan media di Indonesia pada akhirnya memungkinkan siapa pun mengungkapkan informasi bagi kelompok masyarakat yang dituju dan lebih luas. Digitalisasi informasi melalui media massa mana pun, terutama yang berbasis digital, menuntut sebaran informasi yang secara cepat dapat diterima masyarakat, sehingga menyebabkan penerimaannya pun terlihat tanpa batas waktu dan jenis, serta aksesibilitasnya.

Masalah ini memperlihatkan bahwa media, terutama yang mengandalkan jurnalisme daring karena sistem pemberitaannya yang dapat diakses pada waktu relatif cepat, perlu dilihat seberapa akuratnya mereka dalam melakukan proses pemberitaan hingga diseminasinya ke masyarakat. Selain itu pula, sistem jurnalisme ini menjadi sorotan luas karena sering kali tidak mengedepankan objektivitas yang didalamnya mengandung kaidah akurasi, fairness, kelengkapan dan imparsialitas, seperti yang diungkapkan oleh Christianty Judhitha (Jurnal Pekommas, Desember 2013).

Salah satunya adalah bagaimana kebebasan media ini akhirnya memperlihatkan kesempatan untuk publikasi informasi-informasi yang justru memperlihatkan perilaku intoleransi dan kebencian berbasis agama, terutama untuk mencari dukungan dan pembenaran untuk memojokkan masyarakat yang beragama, aliran agama serta kepercayaan yang dianggap minoritas di suatu daerah.

Mereka juga memberikan alasan mengkritik ajaran-ajaran agama yang tidak sesuai dengan kondisi di Indonesia justru untuk menghindarkan masyarakat dan negara dari ajaran agama yang dianggap mereka mungkar dan menyimpang. Tidak dapat disangkal pula bahwa sebaran kebencian terhadap agama atau aliran agama serta kepercayaan lainnya bermula dari pola pengajaran ajaran agama yang cenderung mendiskreditkan yang disebut di atas.

Sulistiana (Jurnal Ilmu Kepolisian, Agustus-Oktober 2017), dalam paparannya, menyebutkan bahwa pemuka-pemuka agama yang merasa ajarannya paling benar berusaha untuk memperdebatkan isi ajaran agama-agama lain, sehingga hal ini mendorong kesalahpahaman yang berakhir dengan proses diskriminasi terhadap yang dianggap berbeda. Sebagai tambahannya, hal ini memicu pemberitaan dalam media menjadi tidak berimbang karena seringkali menyiarkan kabar atau ajaran yang menurut ajaran agama dianggap salah, sehingga informasi tersebut menggiring opini publik untuk turut mendiskreditkan dan membenci ajaran serta masyarakat yang menganutnya.

Contoh lainnya, Andi Subhan Amir (Jurnal PROFETIK April 2013) menggarisbawahi bahwa Republika selama ini memiliki rekam jejak pemberitaan yang negatif tentang Ahmadiyah dilihat dari judul beritanya, seperti DPR: Tindak Ahmadiyah, Tuntutan Pembubaran Ahmadiyah Meluas, Jagung Dukung Larang Ahmadiyah. Republika sendiri melansir kekhawatiran mengenai kristenisasi dan perpindahan umat yang berpindah agama menjadi Kristen, dianggap sebagai permurtadan, serta isu penggunaan jalur hukum untuk membendung kristenisasi.

Akhirnya, media massa merupakan alat untuk membentuk konstruksi sosial masyarakat, terutama yang berkaitan dengan isu agama dan aliran serta kepercayaan lainnya yang dianut oleh sistem masyarakat yang sedemikian plural di Indonesia, sekaligus alat sebagai kontrol kuasa kebenaran dalam realita sosial, sehingga dalam hal yang berhubungan dengan penyebaran intoleransi dan kebencian berbasis agama mereka berperan sangat penting untuk membentuk pola pemikiran masyarakat serta cara bagaimana mereka bersikap dan bertindak menghadapi kelompok masyarakat yang memeluk agama , aliran dan kepercayaan yang berbeda dengan mereka. Dan, media massa sendiri, dibantu oleh aparat pemerintah, pemuka agama, dan tokoh-tokoh relevan, membantu mengkonstruksikan gambaran agama, aliran, dan kepercayaan lainnya yang dianggap minoritas di mata masyarakat, sehingga masyarakat melihat apa yang mereka baca dan serap serta sebarkan ke kelompok-kelompok yang dianggap relevan menerima informasi tersebut.

Referensi
1. Carr, Paul R, The Media, Media Literacy, and Democratic Education, on Chapter 11 Volume 378 Does Your Vote Count, Critical Pedagogy and Democracy, 2011
2. Juditha, Chistianty, Akurasi Berita dalam Jurnalisme Online (Kasus Dugaan Korupsi Mahkamah Konstitusi di Portal Berita DetikNews), Jurnal Pekommas, Vol 16, Desember 2013: 145-154
3. Zein, Fadhilah Mohamad, Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam, Pustaka Al-Kautsar
4. Sulistiana, Peran Media dalam Penyebaran Intoleransi Agama, Jurnal Ilmu Kepolisian, Edisi 089, Agustus-Oktober 2017
5. Amir, Subhan Andi dan Hasrum, Muhammad Andi, Ahmadiyah Dalam Potret Media Cetak, Jurnal Komunikasi PROFETIK, Vol 6, No. 1, April 2013
7. https://www.republika.co.id/tag/kristenisasi

Fanny Syariful Alam Regional Coordinator of Bandung School of Peace Indonesia, IVLP USA 2020’ s Alumnus, and Expert Team of Curriculum of Prospect by Google and MAFINDO
fannyplum@gmail.com, www.bsopindonesia.org