Menolak Dipindah Sekolah, Puluhan Siswa SDN Tublopo II Terlantar, 8 Bulan Tidak Sekolah

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Puluhan siswa dari salah satu Sekolah Dasar di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) menganggur selama setengah tahun lebih.

Dalam waktu kurang lebih 8 bulan, para siswa tidak pernah mengikuti proses Belajar Mengajar sebagaimana mestinya akibat ketiadaan guru dan sekolah disegel. Para siswa dipaksakan pindah sekolah oleh Dinas terkait bahkan semua tenaga pendidik dipindahkan ke sekolah baru yang dinilai tidak layak tanpa alasan yang jelas.

Terlantarnya puluhan siswa ini, membuat para orang tua siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tublopo 2 bersama Ketua Komite dan anggota, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh Agama, tokoh perempuan dan tokoh pemuda desa Tublopo Matbes – Kuafeu, desa Tublopo Kecamatan Bikomi Selatan kabupaten TTU mengutarakan ketidakpuasan atas sikap yang diambil sepihak oleh PLT Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga TTU, Yosef Mokos, S. Pd dengan menyegel SDN Tublopo 2, sejak tanggal 8 Agustus 2019 yang lalu.

Pengakuan salah satu orang tua siswa, bapak Martinus Tethun, kepada Nttonlinenow.com, akibat dari tindakan sepihak Plt Kadis, seluruh siswa terlantar selama setengah tahun lebih. “Pak Plt Kadis perintahkan menutup total proses kegiatan belajar mengajar pada SDN Tublopo 2 sejak tanggal 8 Agustus 2019 lalu, dengan menyegel gedung sekolah dan memindahkan semua guru ke sekolah lain sehingga sampai saat ini anak – anak kami dari kelas 1 sampai dengan kelas V1 ditelantarkan sudah hampir 8 bulan.”, kesal bapak Martinus.

Menurut Martinus, seluruh siswa dipaksakan pindah ke sekolah yang baru yang belum jelas statusnya bahkan bangunannyapun masih sangat darurat dan tidak layak. Sekolah yang baru juga menurut Martinus, lokasinya lebih jauh dari rumah tinggal para siswa. Ia mengaku, hingga saat ini belum mengetahui alasan pemindahan paksa seluruh tenaga pengajar dan siswa ke sekolah yang baru.

“Sampai saat ini kami sebagai orang tua siswa tidak tahu, ada masalah apa dengan sekolah yang lama yang sudah didirikan sejak tahun 1980 an dan sudah berfungsi sejak tahun 1984. Kalau ada masalah ya kami sebagai orang tua disampaikan secara resmi, kalau beginikan sama saja dengan tidak mencerdaskan anak bangsa. Lihat saja, mereka tidak pernah sekolah selama 8 bulan, ada kepentingan apa dibalik masalah ini sehingga seluruh peserta didik yang harus dikorbankan. Anak saya, Valerius Djaga sudah kelas V, akhirnya dirugikan selama hampir 8 bulan ini. Dia menangis setiap hari lantaran ke sekolah tidak ada guru yang mengajar dan sekolah disegel”, beber Martinus kepada media ini, Senin (09/03) di Kefamenanu.

Kekecewaan senada disampaikan dua orang tua murid lainnya, bapak Kornelius Djaga dan bapak Heribertus Ahoinai.

Kedua orang tua siswa ini menuturkan, mereka tidak tahu menahu alasan sekolah ditutup. “Masalah sekolah itu dari Kepala Desa yang tutup. Tapi kami orang tua murid tidak tahu, tiba – tiba saja pintu kantor sekolah sudah disegel”, kata Kornelius.

Kondisi Sekolah Baru, SDN Tublopo 1

Protes keras Kornelius, dikarenakan anak – anak merasa tidak nyaman berada di sekolah yang baru dengan kondisi fisik yang berbeda jauh dibanding sekolah yang lama.

“Sekolah baru masih sangat darurat. Sementara sekolah yang lama terdiri dari 12 ruangan yang terbagi dalam 6 ruangan kelas dan beberapa lainnya dipakai sebagai ruangan perpustakaan, ruangan guru dan ruangan Kepala Sekolah. Tapi sekolah diperintahkan untuk ditutup kemudian semua siswa diwajibkan pindah ke sekolah lain. Anak saya, Into Djaga sekarang kelas V1 harus menganggur sudah sejak Agustus tahun lalu sampai saat ini. Ia tidak mau pindah, sebab sudah merasa nyaman di sini. Sekolah di sini luas, tidak ada masalah. Kalau pindah ke SD Tublopo 1 di sana hanya 6 ruangan dan tidak ada halaman. Belajar harus gabung beberapa kelas yang berbeda dan sebagian siswa harus meminjam 1 ruangan Polindes setempat untuk dipakai belajar. Kasihan anak – anak, apalagi ke sekolah yang baru jauh sekali dari rumah”, Jelas Kornelius lebih lanjut.

Sementara, Heribertus Ahoinai menyesal lantaran bangunan SDN Tublopo 2 yang dibangun permanen lengkap dengan fasilitas belajar mengajar di dalam kelas, harus mubasir tanpa alasan yang jelas.

“SDN Tublopo II sudah difungsikan sejak tahun 1984 dan pada tahun1988 terbit sertifikatnya.
Kami sudah 2 kali dalam tahun 2019 mendatangi Dinas PPO dan DPRD TTU membawa keluhan yang sama, namun tidak ditindaklanjuti hingga sekarang anak – anak menjadi korban. “Anak saya, Arnando Falo tidak mau pindah ke sekolah yang baru.

Menurut ketiga anak ini, bangunan sekolah yang lama lebih layak digunakan. “Kami punya sekolah yang layak tapi kenapa harus dipindahkan ke SDN Tublopo I. Sementara di sana, ruangannya darurat dan kami tidak nyaman. Kursinya kursi tanam menggunakan papan, papan tulis juga tidak ada dan sebagian siswa harus belajar menggunakan ruangan Polindes”, aku Arnaldo Falo.

Hingga berita ini diturunkan, SDN Tublopo 2 masih dalam kondisi disegel. Para orangtua siswa, menunggu respon pihak – pihak terkait sesuai pengaduan sebelumnya.

“Pemerintah jangan diam dengan keadaan ini, sekarang memasuki bulan ke delapan anak – anak kami jadi korban kebijakan sepihak yang tak berdasar. Kami minta penjelasan pemerintah dalam hal ini Dinas PPO. Bila perlu bersama bapak Bupati segera turun ke lokasi untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Karena selama ini kami bertanya ada masalah apa, jawaban Kepala desa Tublopo bahwa Kades diperintahkan Bupati dan Plt. Kadis untuk menutup sekolah tersebut.

Harapan seluruh orang tua siswa, SDN Tublopo II segera dibuka segelnya dan semua tenaga pendidik yang sudah dipindahkan ke sekolah yang baru juga agar dipulangkan agar proses belajar mengajar kembali berjalan normal di SDN Tublopo II. Mengingat sarana dan prasarana di SDN Tublopo I sangat tidak layak pakai.

Informasi yang dihimpun NTTOnlinenow.com, dari 43 siswa di SDN Tublopo II hanya sekitar 17 siswa yang pindah belajar di SD yang baru, itupun mereka masih merasa tidak nyaman lantaran sekolahnya masih darurat dengan kursi tanam yang terbuat dari potongan kayu dan papan untuk diduduki. Sebagian siswa beda kelaspun harus belajar dalam 1 ruangan yang sama, ada juga yang meminjam 1 ruangan Polindes setempat untuk belajar.