Izak Eduard Rihi Komitmen Lakukan Transformasi di Bank NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Direktur Utama (Dirut) PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT), Izak Eduard Rihi yang baru saja dikukuhkan pada Selasa, 11 Juni 2019, menyatakan komitmennya untuk melakukan transformasi pada bank milik masyarakat NTT tersebut.

Hal ini disampaikan Izak Eduard Rihi kepada wartawan saat dijumpai di Kantor DPRD NTT, Jumat (14/6/2019).

Menurut Izak, transformasi di Bank NTT perlu dilakukan untuk memulihkan kembali ekonomi demi mengejar ketertinggalan di daerah itu, dengan menyiapkan skema percepatan pada sektor industri maupun infrastruktur daerah.

“Kami akan melakukan transformasi di Bank NTT yang dimulai dengan rebranding visi dan misi, nilai-nilai, kemudian fokus pada strategi bisnis. Kami akan lebih fokus pada bagaimana membuat ekosistem bisnis di NTT, yaitu industrialisasi dari hulu ke hilir,” ungkapnya.

Izak menyatakan komitmennya untuk mendukung Pemerintah NTT dibawah kepemimpinan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi untuk mewujudkan mimpi besar atau visi dan misi NTT Bangkit, NTT Sejahtera.

“Bank NTT akan menjadi mitra strategis pemerintah untuk mengeksekusi visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur yang mana menitikberatkan pada masalah ekonomi, ini sebenarnya bicara bagaimana me-recovery ekonomi NTT untuk mengejar ketertinggalan di daerah ini,” katanya.

Dia mengatakan, Pemerintah NTT saat ini menjadikan sektor pariwisata sebagai prime mover ekonomi NTT. Berbicara pariwisata bukan sekadar tentang orang atau wisatawan datang ke daerah ini, tetapi bagaimana obyek wisata yang ada perlu direvitalisasi.

“Tidak cukup pada revitalisasi tetapi kemudian bagaimana mendatang wisatawan ke daerah ini, karena itu Bank NTT akan membiayai mulai dari revitalisasi obyek wisata sampai ke rumah-rumah masyarakat yang akan digunakan sebagai penginapan,” paparnya.

Izak mengungkapkan, strategi yang akan dilakukan untuk menjawabi hal itu yakni dengan melakukan sharing ekonomi sehingga rumah-rumah masyarakat di daerah obyek wisata yang disiapkan untuk wisatawan akan direvitalisasi.

“Misalkan satu rumah disiapkan dua kamar, itu akan kita revitalisasi berkelas hotel, sehingga misalkan butuh 100 kamar dan masing-masing rumah kita siapkan dua kamar saja maka sudah terjawabi, dan yang untung adalah masyarakat, daripada kita harus membangun satu hotel dengan 100 kamar,” urainya.

Dia menegaskan, pendekatan seperti itu merupakan upaya membangun ekonomi rakyat sehingga bisa meningkatkan standar ekonomi masyarakat, yang mana akan berdampak pada pola hidup yang lebih berkembang.

“Ini yang ke depannya akan kita siapkan, dan bukan hanya itu saja tapi kemudian siapa yang mengelolanya, tentu yang kita harapkan adalah Pemda yang nantinya membuat seperti Bumdes atau seperti apalah, tapi kita akan biayai dengan memberikan modal kemudian mereka yang mengelolanya,” tandasnya.

Izak menambahkan, upaya-upaya yang dilakukan nantinya tidak lagi menggunakan sistem korporasi tetapi mengutamakan prinsip mendorong partisipasi masyarakat untuk menumbuhkan ekonomi rakyat di daerah itu. Sedangkan untuk korporasi besar perlu dibuatkan skema menjadi industrialisasi.